” Desahan Anak Kampus “

PahaDada

AGEN558.com –  Perkenalkan, namaqu Alisyia. Aqu dikarunia wajah yg cantik. Kata temanku, wajahku mirip salah satu artis Indonesia. Apalagi waktu aqu tersenyum, miriiiip banget, kata mereka. Padahal menurutku biasa saja. Karena suka bergaul aqupun punya banyak teman.

Selain itu aqu sangat rajin merawat tubuhku. Fitness dan ke salon adalah rutinitasku. Karenanya aqu tumbuh menjadi gadis yg energic dan sexy. Baju-baju ketat, semi-transparan dan tank top adalah ‘seragam’ku, sehingga kemolekan tubuhku semakin terpancar. Malah kalau di rumah aqu tidak segan-segan untuk tampil sangat sexy. Toh untuk apa punya tubuh sexy kalau tidak ditunjukkan ke orang lain. Tapi aqu masih tampil dalam batas-batas kewajaran.

Aqu kuliah di salah satu perguruan tinggi di Bandung. Umurku belum genap 22 tahun. Aqu sebenarnya asli Jakarta, tapi aqu lebih memilih untuk kuliah di Bandung. Biar agak jauh dari orangtua. Sejak SMA aqu bercita-cita ingin kuliah jauh dari orangtua. Soalnya malas juga tinggal serumah dgn orangtua, yg sedikit-sedikit melarang ini itu.

Papaqu adalah seorang pengusaha yg cukup sukses, di Bandung Papaqu membelikanku sebuah rumah. Aqu tinggal sendiri di sana bersama pembantuku dan anaknya yg masih kecil. Rumahku cukup besar dgn perabotan yg lengkap plus mobil mewah seri terbaru. Itu tidak seberapa baginya. Itu adalah hadiahku karena lulus ujian.

Sore itu aqu baru pulang kuliah. Capek sekali rasanya setelah seharian berkutat dgn kuliah. Baygkan saja aqu kuliah dari jam 7 pagi sampai jam 5 sore. Karenanya aqu merasa badanku lelah dan ingin istirahat. Karena besok libur, jadi aqu bisa memanfaatkan waktuku untuk istirahat.

Acchhhh… Aqu mensandarkan tubuhku di sofa ruang tengah. Kupanggil Bi Imah agar membuatkan minum untukku. Upshhh… aqu lupa. Bi Imah dan anaknya kan lagi puLang kampung tadi pagi. Maklum sejak aqu tinggal di Bandung mereka belum pernah puLang, jadi kuijinkan mereka puLang kampung. Ahhh… Malas benar aqu mengangkat bokongku dari sofa. Tapi rasa hausku mengalahkanku, maka dgn malas aqu mengambil air dingin di dapur untuk menghilangkan rasa hausku.

Kemudian aqu pergi ke kamar, kucoba untuk istirahat. Walau badanku capek sekali tapi aqu tidak bisa memejamkan mata. Maka kuputuskan menyalakan komputerku mencoba mencari hiburan. Baru saja kunyalakan komputer, HP-ku berbunyi. Segera kuambil HP-ku dari tas. Di screen tertuliskan “CINTA”, maka segera kuangkat, karena itu adalah dari Petrus, lelakikku.

“Halo Sayg. Lagi ngapain? “Kata suara di seberang sana. “Ada apa, Pet? Gue lagi sendiri nih di rumah. Gak lagi ngapa-ngapain” jawabku. “Malam ini jalan yuk, say. Besok kan libur. Mau gak?”
“Aduh gue cape banget nih, Say. Malas keluar. Mending lo aja yg ke rumah. Lagian rumah sepi, Gak ada orang. Sekalian temanin gue. Mau gak?” Rengekku manja. “Ya udah tunggu aja. 30 menit lagi gue ke sana. Dah Sayg..!” Katanya. “Dahhhhh…”

Kita baru jadian sekitar 3 minggu yg lalu. Tapi dia sudah beberapa kali menikmati tubuhku. Yup.. Aqu memang cewe yg liberal. Aqu menyerahkan keperawananku sama mantanku sewaktu SMA dulu. Jadi bagiku sex bukan hal yg terlalu tabu. Tapi aqu masih tahu tata krama. Aqu gak sembarang tidur dgn lelaki. Aqu gak mau dicap cewek gampangan. Aqu hanya mau ML sama orang yg benar-benar kucintai. Ya..

agen558-2

PahaDada

Seperti Petrus ini. Dia lumayan bisa memuaskanku. Hampir di setiap kesempatan kita selalu mereguk kenikmatan duniawi. Paling sering sih di kontrakannya, karena sepi. Sedangkan di rumahku belum pernah karena ada pembantuku. Malah tak jarang, ketika kita sudah sama-sama pengen ML kita membooking hotel untuk menuntaskan nafsu kita. Mengingat-ingat kejadian itu libidoku perlahan-lahan naik.

Maka segera kuganti bajuku. Aqu ingin tampil sexy di depan Petrus. Segera kugunakan celana pendek putih semi transparan yg ketat. Saking ketatnya terasa CD-ku tercetak di sana. Bokongku yg bulat sekal terlihat indah menonjol. Kemudian kugunakan tanktop putih ketat juga.

Aqu bercermin, lumayan sexy juga, batinku. Buah dadaqu yg lumayan besar tercetak di bajuku. Malah karena saking kecilnya bajuku itu, jika aqu bergerak-gerak buah dadaqu juga terayun kesana kemari. Aqu senang sekali melihatnya. Pasti Petrus suka melihatnya. Aqu tak sabar ingin cepat-cepat berjumpa dgnnya.

Beberapa waktu kemudian kudengar suara klakson berbunyi. Aqu, bercermin sebentar memastikan penampilanku lalu membuka pintu. Benar saja, mobil Petrus sudah ada di depan gerbang rumahku yg masih terkunci. Aqu berlari-lari menuju gerbang untuk membuka pintu pagar rumahku, hal itu otomatis membuat buah dadaqu terayun kesana-kemari. Petrus pasti melihatnya dgn jelas karena jarak yg tidak terlalu jauh. Buah dadaqu bergerak-gerak dgn bebasnya.

Setelah kubuka gerbang, perlahan-lahan mobilnya masuk ke garasiku. Segera kututup gerbang kembali dan aqu menghampirinya yg baru keluar dari mobil. “Halo Saygggg..” katanya. Dipamerkannya senyum manisnya. Kacamata coklat yg dipakainya menambah kesan macho-nya. “Halo juga. Silahkan masuk, Say” kataqu mempersilakannya masuk ke rumah.

Dia mengikutiku dari belakang. Aqu bisa pastikan matanya tidak akan lepas dari bokongku yg bergoyg kesana-kemari dgn indahnya. Kemudian aqu menutup pintu rumah dan menguncinya. Baru aqu membalikkan tubuhku, Petrus sudah berdiri di depanku dgn senyum indahnya.

“Kamu sexy sekali hari ini, Sayg” katanya sambil mendekatkan bibirnya ke mulutku. Segera kusambut bibirnya dan kita melaqukan french kiss. “Terima kasih” jawabku sambil kembali menciumnya, kali ini ciuman kita makin dahsyat. Sambil menciumi bibirku, tangannya bergerilya menjamah buah dadaqu. Aqu semakin ganas membalasnya. Ketika tangannya mulai menyusup ke dalam tank topku, segera kuhentikan.

“Sabar dulu dong, Say. Ga sabaran amat” ucapku sambil menjauhkan tubuhku darinya. “Mending duduk dulu, aqu buatkan minum ya?”, Lanjutku lagi. Aqu sengaja menahan kenikmatan tadi, padahal sebenarnya aqu juga sudah ingin sekali melumat bibirnya. Dia hanya mengangguk lalu pergi menuju sofa.

PahaDada

Segera kubuatkan minum dan memberikanya kepadanya. Softdrink yg kusuguhkan Langsung dihabiskannya. Kemudian matanya menatapku. Aqu tahu maksudnya. Maka aqu pindah ke sebelahnya, lalu diciumnya bibirku. Aqu hanya bisa memejamkan mata menikmati ciuman lembutnya. Kemudian dia peluk aqu dan tangannya mulai meremas-remas buah dadaqu. Aqu mulai merem-melek sambil memutar badanku.

Sekarang aqu duduk di paha Petrus. Kembali kita berciuman dgn penuh gairah nafsu. Lidah kita saling beradu. Perlahan bibirnya turun ke pipiku lalu ke leherku. Lidahnya menari-nari dari ujung leherku ke ujung yg satunya lagi. Hal itu membuatku seperti cacing kepanasan saking nikmatnya. Tangannya tidak tinggal diam. Diremas-remasnya buah dadaqu yg mulai mengeras. Tangannya sungguh lihai meremas-remas buah dadaqu sehingga membuatku makin menggelinjang. Aqu tak tahan hingga kembali kulumat bibirnya. Lidahku beradu dgn lidahnya lagi.

Aqu sudah tidak tahu kapan pertama kali aqu semahir ini melaqukan ciuman. Petrus mulai menyusupkan tangannya ke balik tank topku dan mencari buah dadaqu. Gesekan tangannya Langsung di permukaan kulit buah dadaqu hingga sungguh kenikmatannya tiada tara. “Eeeeehh.. Eeehhhh..” rintihku. Sejenak dihentikannya aktivitasnya karena menyadari sesuatu sambil bertanya.. “kamu ga pakai bra ya, Say?” aqu hanya tersenyum lalu kembali melumat bibirnya.

Dia lebih ganas meladeni ciumanku. Tangannya makin keras meremas buah dadaqu. Memelintir dari atas ke bawah dan sebaliknya. Kurasakan kemaluannya mulai menegang di bawah sana. Kemudian dia menghentikan remasan dan ciumannya, lalu mulai melepas tank topku. Aqu membantunya melepaskan penutup buah dadaqu itu melewati kepala. Maka segera buah dadaqu yg tanpa penutup apa-apa lagi terpampang di hadapannya.
Buah dadaqu yg putih, bulat kencang dgn puting berwarna kemerah-merahan menjadi santapan matanya. Dia sangat kagum melihat buah dadaqu. Walaupun sudah sering melihat buah dadaqu, bahkan menjilat, melumat dan menggigitnya, dia tetap saja menelan ludah menikmati pemandangan ini.

“Buah dadamu indah sekali, Sayg!’ ujarnya.
Kemudian bibirnya menyerang di antara kedua gunungku, lalu lidahnya bergerak di sana. Aqu meringis dan mendesis menikmatinya. Kemudian dia mulai mencium buah dadaqu yg kanan, dilumatnya dgn penuh nafsu. Beberapa detik kemudian aqu menjerit pelan karena aqu merasakan gigitan pada puting kananku, dia dgn gemasnya menggigit dan mencupangi putingku itu sehingga meninggalkan jejak di sekitarnya.

“Ohhhh.. indah sekali buah dadamu ini Say,” pujinya lagi sambil tangannya yg satu lagi mengelusi punggung dan leherku dan berakhir di payudara kiriku. Diremasnya payudara kiriku yg sudah tegak berdiri tersebut. Remasan dan jilatannya silih berganti antara payudara yg kanan dan yg kiri, sehingga menimbulkan sensasi kenikmatan yg tiada tara. bahkan aqu sampai melayg-layg dibuatnya.

Puas meremas buah dadaqu yg kiri, tangannya yg kanan mulai menurun hingga mencengkeram bokongku yg bulat dan padat. Aqu hanya bisa mendesah nikmat. Kuremas-remas rambutnya mencoba mengimbangi desakan birahi ini. Untung rumahku sepi, kalau tidak mana mungkin aqu bisa bercinta di sofa seperti ini.

PahaDada

Setelah puas menggeraygi buah dadaqu, dia pun melepaskanku. Segera dibukanya bajunya, lalu dia membuka celana panjang beserta celana dalamnya sehingga kemaluannya yg dari tadi sudah sesak dalam celana dalamnya itu kini dapat berdiri dgn dgn gagahnya.

Kemudian dia duduk di sofa dgn mengangkangkan kakinya. Matanya menatap mataqu dgn penuh harap. Aqu mengerti maksudnya. Dia ingin dioral tentunya. Sebenarnya aqu kurang mahir melaqukan oral sex, aqu masih butuh belajar, tapi nafsu ingin saling memuaskan membuatku melaqukannya. Maka perlahan-lahan aqu duduk di Lantai menghadap kemaluannya.

Kemaluan Petrus yg sudah berdiri kokoh itu kini berada dalam genggamanku. Kukocok-kocok ke atas dan ke bawah. Nampaknya dia menikmati kocokanku. Tanganku yg halus naik turun di Kemaluannya. Nampaknya dia sangat menikmati kocokanku di kemaluannya. Hal itu terbukti dgn matanya yg tertutup rapat. Aqu menikmati ekspresinya yg keenakan itu.

“Uuuuh… say.. Enak sekali sayyyyyy.. Ooooh..”, desahnya. “Masukkan ke mulutmu dong Say,” pintanya. Tanpa diminta 2 kali aqu menuruti kemauan orang yg kusaygi itu. Perlahan namun pasti, kemaluannya kuarahkan ke mulutku. Kemudian kucium dan kujilat ujungnya dgn lembut bahkan sangat lembut sekali. Benda itu bergetar hebat diiringi desahan pemiliknya.

Seponganku di Kemaluannya kupadukan dgn sedikit kocokan. Petrus pasti keenakan kuperlaqukan seperti itu. Tapi aqu akan membuatnya lebih keenakan. Lalu kubuka mulutku lebih lebar untuk memasukkan kemaluan itu semuanya ke mulutku. tapi nampaknya sudah mentok di tenggorokanku.

Dalam mulutku, kemaluan itu kukulum dan kuhisap, kugerakkan lidahku memutar mengitari kepala kemaluannya. Hanya itu yg kulaqukan tapi tampaknya dia sudah blingsatan. Padahal harus kuaqui bahwa oral sexku belum apa-apa dibandingkan cerita teman-teman cewekku yg pernah melaqukannya. Bahkan masih kalah jauh daripada BF yg pernah kutonton. Tapi aqu tetap. Toh Petrus masih keenakan. Memang sih, Petrus mengaqu baru ML pertama kali dgnku. Jadi dia belum bisa membandingkannya dgn yg lain.

Sesekali aqu melirik ke atas melihat ekspresi wajahnya waktu menikmati seponganku. Dia mengelus-elus rambutku dan mengelap dahinya yg sudah bercucuran keringat dgn sapu tangan. Petrus nampaknya tidak mau cepat-cepat keluar, maka ditariknya kepalaqu. Aqu berdiri tegak di hadapannya yg masih bersandar di sofa.

Segera kulepaskan celana pendek beserta CD-ku sekalian. Matanya nanar melihat ketelanjanganku. Aqu seperti manusia yg baru lahir, polos. Kini aqu sudah telanjang bulat di hadapannya. Aqu lalu naik ke pangkuannya. Dgn senyum nakal aqu meremas-remas dadanya yg bidang. Lalu kubenamkan kembali wajahnya ke buah dadaqu hingga dia pun mulai menyusu di situ.

PahaDada

Kali ini dia menjilati seluruh permukaannya hingga basah oleh liurnya lalu dikulum dan dihisap kuat-kuat. Tangannya di bawah sana juga tidak bisa diam, tangannya meremas-remas bokong dan pahaqu. Dielus-elusnya paha putihku itu. Berbeda dgn pahaqu yg dielusnya dgn lembut, bokongku justru diremasnya dgn keras. Gumpalan daging pinggulku menjadi bulan-bulanan tangannya.

Aqu hanya mendesah-desah. Giginya yg putih menarik-narik puting susuku. Hal itu semakin membuatku merintih. Malah kini tangannya yg bercokol di pahaqu mulai merambat semakin jauh. Aqu tak kuasa untuk tidak merintih dan mendesah. Bongkahan bokongku diremas, buah dadaqu dilumat dan sekarang tangannya yg kanan menggeraygi kemaluanku dan menusuk-nusukkan jarinya di sana. Ooooohhhhh.. nikmatnyaaaa, batinku.

Sebagai respons aqu hanya bisa mendesah dan memeluknya erat-erat, darah dalam tubuhku semakin bergolak sehingga keringatku menetes-netes. Mulutnya kini merambat naik menjilati leher jenjangku, dia juga mengulum leherku dan mencupanginya. Cupangannya cukup keras sampai meninggalkan bercak merah. Akhirnya mulutnya bertemu dgn mulutku lagi dimana lidah kita saling beradu dgn liar. Sambil berciuman tanganku meraba-raba selangkangannya yg sudah mengeras itu.

“Sayyyy… Sekarang ya..”, pintaqu memelas. Aqu sudah tidak tahan lagi ingin segera menuntaskan birahiku. Maka kuangkat bokongku sebentar dan mengarahkan kemaluanku ke kemaluannya. Dia memegang kemaluannya siap menerima kemaluanku. Sedikit demi sedikit aqu merasakan ruang kemaluanku terisi dan dgn beberapa hentakan masuklah Kemaluan itu seluruhnya ke dalam.

Aqu tak kuasa untuk tidak menjerit kala Kemaluan Petrus membelah bibir kemaluanku. Sama sepertiku, dia juga mendesah menyebut namaqu waktu kemaluannya amblas ditelan kemaluanku. “Ooooohhhhh..!” desahku dgn tubuh menegang dan mencengkram bahu pacarku. Kurasakan lubangku agak nyeri, tapi itu cuma sebentar karena selanjutnya yg terasa sungguh nikmat.

Kemudian, secara perlahan-lahan aqu menaikturunkan tubuhku di atas kemaluannya. Kupacu kejantanannya dgn goyganku. Aqu tiba-tiba menjadi gadis yg liar yg butuh kenikmatan. Kugoyg-goygkan kemaluanku di atas Kemaluannya sambil sesekali membuat gerakan memutar. Kemaluanku seperti diaduk-aduk.

PahaDada

Aqu sangat menikmati posisi ini, karena aqu bisa mengendalikan permainan. Desahan-desahan nikmat menandai keluar masuknya Kemaluan Petrus. Petrus juga merasakan hal yg sama seperti yg aqu rasakan. Matanya menatap wajahku yg kemerahan karena nikmat.
“Aaaccchhhhh.. Acchhhhhhhhh..” desahku seiring dgn naik-turunnya tubuhku. Buah dadaqu yg sudah menegang maksimun terayun-ayun dgn indah di hadapannya. Petrus juga mulai membantu menyodok-nyodok kemaluannya, sehingga kenikmatan yg kurasakan semakin bertambah.

Tubuhku terlonjak-lonjak dan tertekuk menahan sensasi kenikmatan dunia. Hal itu membuat buah dadaqu semakin membusung ke arahnya. Kesempatan ini tidak disia-siakannya, dia Langsung melumat buah dadaqu yg kiri dgn mulutnya. Aqu semakin menjerit keras. Dengusan nafasnya dan jilatannya membuatku merinding dan makin terbakar birahi.
Petrus semakin menyerangku dgn meremas-remas buah dadaqu yg kanan serta memilin-milin putingnya. Petrus sungguh pintar menyerang titik sensitifku. Sepuluh menit lamanya kita berpacu dalam adegan demikian. Saling berlomba-lomba mencapai puncak. Sodokan-sodokannya semakin lama semakin cepat dan makin berirama.

Mulutnya tak henti-henti mencupangi buah dadaqu yg mencuat di depan wajahnya, sesekali mulutnya juga mampir di pundak dan leherku. Sungguh kenikmatan yg sangat indah. Tangannya yg tadi lembut menggeraygi paha dan bokongku, sekarang cenderung kasar. Aqu sudah sangat kecapaian dgn posisi tersebut sehinga goyganku semakin lama semakin tidak bertenaga. Malah kini dia yg aktif menyodok-nyodok kejantanannya.

Menyadari hal tersebut, Petrus minta ganti posisi. Ditariknya kemaluannya dari rongga kemaluanku. Ada perasaan kesal, tapi itu tidak lama. Tubuhku dibalikkan telungkup di atas sofa. Lalu kakiku ditarik hingga terjuntai menyentuh Lantai, hingga otomatis kini bokongku pun menungging ke arahnya. Buah dadaqu yg dari tadi menjadi bulan-bulanannya menekan sofa karena aqu telungkup. Petrus sibuk memegang erat-erat kedua pahaqu.

“Siap-siap ya Say!” ujarnya. Aqu hanya bisa menganggukkan kepala menunggu kenikmatan selanjutnya dgn posisi doggy style. Petrus pernah bercerita bahwa posisi ini sangat disukainya, karena dia yg mengambil kendali dan bebas meremas-remas semua bagian tubuhku, bahkan anusku. Sebelum menusuk kemaluanku, dia terlebih dahulu mencium punggungku.

Seluruh tubuhku kembali bergetar, seakan terlempar ke-awang-awang. Sendi-sendiku bergetar menunggu kemaluannya menembus kemaluanku. Posisi ini membuat birahiku semakin tak terhingga, hingga membuat aqu menggeliat-geliat tak tertahankan.

PahaDada

“Pettt…. Buruannnnn..!” rengekku sudah tidak tahan lagi. Petrus mematuhiku. Sambil meremas bokongku dia mendorongkan kemaluannya ke kemaluanku. “Occchhhhh.. Ngghhhhhhh..!” desisku waktu kemaluan yg keras itu membelah bibir kemaluanku.
Kemaluannya dgn perlahan dan lembut mengaduk-aduk kemaluanku. Kontan aqu menjerit-jerit keras. Dalam posisi seperti ini sodokannya terasa semakin keras dan dalam, badanku pun ikut tergoncang hebat, buah dadaqu serasa tertekan dan bergesekan dgn sofa. Hal itu justru menimbulkan kenikmatan tersendiri, apalagi sofaqu terbuat dari kulit sehingga gesekan di buah dadaqu terasa sedikit kasar namun nikmat.

“Aacccccch.. Eeeuuuuuh.. Acchhh….” aqu cuma bisa mendesah setiap kali dia menyodokkan kemaluannya ke kemaluanku. Petrus menggenjotku semakin cepat. Kemaluanku dihunjam kemaluannya yg sekeras batu itu. Otot-otot kemaluanku serasa berkontraksi semakin cepat memijati miliknya. Dengusan nafasnya bercampur dgn desahanku memenuhi ruang tengahku.

Mulutku megap-megap dan mataqu terpejam. Beberapa menit kemudian dia menarik tubuh kita mundur selangkah sehingga buah dadaqu yg tadinya menempel di sofa kini menggantung bebas. Kemudian dilanjutkanya kocokannya. Buah dadaqu terayun ayun ke depan dan ke belakang. Terkadang buah dadaqu menyentuh sandaran bawah sofa sehingga menimbulkan rasa sakit. Tapi rasa sakit tersebut tertutupi kenikmatan yg menjalar ke seluruh aliran darahku.

Sambil berpacu dalam adegan doggy ini, tangannya kini tidak tinggal diam. Dia mulai menggeraygi buah dadaqu yg semakin ranum karena aqu menungging. Ditariknya-tariknya benda kenyal itu sesuka hatinya. Aqu merem-melek menikmati tangannya bergerilya dari buah dadaqu yg kanan ke buah dadaqu yg kiri.

Aqu menjerit kegelian waktu dia mengocok kemaluanku dgn cepat dan keras, tapi dia meremas buah dadaqu dgn lembut sekali dan sesekali memelintir-melintir putingnya. Tubuhku kembali menggelinjang dahsyat, pandanganku serasa berkunang-kunang. Gesekan-gesekan di lubang kewanitaanku serta remasan di buah dadaqu membuat pertahananku sebentar lagi akan jebol. Pandanganku kabur dan kurasakan kesadaranku hilang.

PahaDada

Akhirnya aqu pun tak bisa lagi menahan orgasmeku. Mengetahui bahwa aqu akan segera keluar, dia semakin bergairah, tubuhku ditekan-tekannya sehingga kemaluannya menusuk lebih dalam, tangannya pun semakin kasar meremas buah dadaqu. “Aacccchhhhhhkk..!” jeritku bersamaan dgn mengucurnya cairan cintaqu.

Kugenggam erat karpet ruang tamu merasakan detik-detik orgasmeku. Aqu menggigit bibir merasakan gelombang dahsyat itu melanda tubuhku. Aqu merasakan cairan cinta yg mengalir hangat pada selangkanganku. Tapi itu belum berakhir, karena Petrus masih terus mengocokku sehingga orgasmeku semakin panjang. Petrus juga nampaknya akan segera orgasme. Hal itu tampak dari adegannya yg khas jika akan orgasme.

“Aqu mau keluar, aqu mau keluar..” Petrus membisikkannya sambil ngos-ngosan dan masih terus mengocokku. “Jangan diiii.. Jangan di dalam. Ahhhh.. Ahhhh.. Ohhhhh.. Aaaaaqu.. Aqu lagi.. Suburrrrrr.”
Aqu cuma bisa berbicara begitu, setidaknya aqu bermaksud berbicara begitu karena aqu tidak tahu apakah suaraqu keluar atau tidak, pokoknya aqu sudah berusaha, itu juga sudah aqu paksa-paksakan. Aqu tidak tahu apakah dia mengerti apa yg aqu bicarakan, tapi yg jelas dia masih terus mengocokku.

Beberapa detik kemudian, dia mencabut kemaluannya, kakiku Langsung ambruk ke Lantai. Petrus yg menyodokku dari belakang akhirnya klimaks. Dia mengeluarkan kemaluannya dan menyiramkan isinya di punggung dan bokongku. Air maninya membasahi tubuhku bagian belakang. Tidak terlalu banyak spermanya, tapi sangat lengket kurasakan di tubuhku.

Kemudian dia ambruk menindihku. Kurasakan kemaluannya yg menindih bokongku mulai mengecil. “Terimakasih, Sayg” ucapnya sambil mengecup leherku. Aqu hanya terpejam menikmati sisa-sisa kenikmatan barusan. Akhirnya malam itu Petrus menginap di rumahku. Sudah bisa ditebak kita akan mereguk kenikmatan sepanjang malam sampai besok paginya karena libur.

Sesudah percintaan di ruang tamu tadi, Petrus menikmati tubuhku lagi di kamar mandi. Aqu yg sedang mandi dikejutkan akan kehadirannya di depan pintu. Walau masih lemas, aqu terpaksa meladeninya. Aqu hanya diam di Lantai kamar mandi sedangkan dia yg aktif menyodokku.

PahaDada

Malah yg seru adalah ketika sehabis makan malam di luar. Kita kembali ke rumah dan Langsung ke kamarku. Aqu yg sudah bersiap-siap tidur diajaknya menonton BF di komputerku. Adegan-adegan mesum di layar monitor membuat libidoku cepat naik. Aqu mencoba memancing gairah Petrus, tapi dia menolak untuk menyetubuhiku.

Aqu bingung dibuatnya, tidak biasanya dia menolak seperti itu. Selama ini justru aqu yg sering menolak bersenggama dgnnya. Waktu itu, katanya dia mau ML tetapi ada syaratnya. Dia memintaqu untuk menari-nari seperti penari telanjang. Aqu sih OK saja, berhubung dia adalah pacarku dan nafsuku ingin segera dituntaskan, maka aqu menuruti kemauannya.

Bak seorang stripteaser professional, aqu take action di hadapannya. Dia sangat bernafsu sekali menikmati pemandangan Langka tersebut. Baru setelah itu dia mengocokku. Kali ini tanpa basi-basi Langsung ditusuknya kemaluannya ke lubangku yg sudah sangat basah itu. Kenikmatan yg kuharapkan tercapai sudah. Aqu benar-benar puas waktu itu. Belum pernah kita bercinta sepanjang itu.


agen558-2

UNTUK REGISTRASI DAN PENDAFTARAN.

Hubungi Kami:

Situs & Livechat : http://www.agen558.com
Pin:  5591B4C3
YM : cs_agen558@yahoo.com
SMS/WA:+6281-2696-2889
Line : agen558.com

” Memory Cabul “

PahaDada

AGEN558.com –  Aqu adalah seorang lelaki single fighter, sebenarnya statusku saat ini adalah seorang duda. Aqu mengaqu seorang lelaki single fighter dikarenakan aqu sekarang sudah tak beristri lagi. Aqu dahulu seorang suami yg sangat bahagia karena aqu mempunyai seorang istri yg cantik dan begitu sayg kepadaqu. Di istanaqu saat itu tinggal aqu, istriku, ibu mertuaqu dan seorang pembantu wanita. Sebelum aqu menceritakan kisah dilema mahligai rumah tanggaqu, aqu ingin menceritakan tentang pengalamanku dgn sekretarisku. Sebut saja namaqu Hendi, usiaqu saat ini baru menginjak 28 tahun. Profesiku Presiden Direktur, tentu saja di perusahaanku sendiri. Aqu tinggal di perumahan Kelapa Gading.

Pada suatu ketika perusahaanku mengadakan acara liburan untuk karyawan, acara ini selalu rutin dilaqukan untuk menambah gairah kerja para karyawanku. Karena aqu boss di perusahaan tersebut aqu harus ikut, sedangkan istriku pada saat itu sedang ada halangan katanya sih ada urusan keluarga. Jadi aqu memutuskan untuk pergi sendiri.

Aqu mempunyai sekretaris Sari namanya, aqu merasa bahwa aqu harus memilikinya. Kalau di kantor dia selalu mencoba bertingkah genit dari kerling matanya itu atau dari caranya berpakaian, dari situ aqu tahu kalau dia suka padaqu. Seperti biasanya aqu pulang memang agak sore, Sari sudah gelisah ingin pamit pulang tapi aqu masih saja berkutat dgn laporanku.

“Sari kalo udah mau pulang duluan aja, nggak pa-pa kok, sekarang udah jam 5 lewat 20, entar ketinggalan kereta lho lagian udah mendung kalo hujan kan entar kebasahan”, kataqu sembari tersenyum.

“Iya Pak”, sembari berkemas dan secara tak sengaja pulpennya jatuh dan dia memungutnya, otomatis dari posisi duduk dia berputar, roknya tersingkap dan secara tak sengaja aqu melihatnya, wah memang benar terawat sampai ke ujung pahanya begitu pula dgn dgn segitiganya yg berwarna putih. Sembari memungut pulpen dia nunduk dan serta merta dia menutup bajunya yg otomatis terlihat kalau nunduk.

“Sar, lain kali pake bajunya yg ketutup aja biar nggak repot”, kataqu.
“Nggak enak Pak, aqu justru nggak seneng pake baju yg kerahnya terlalu tertutup”, katanya sembari tersenyum, karena dia tahu maksudku ngomong seperti itu. Tak lama kemudian Sari pergi, dan aqu terus bekerja.

Sari memang betul-betul merupakan wanita ideal di benakku. Ia berbadan tinggi, dgn pinggul yg indah dan bokong menjungkit seperti penari Bali. Aqu ingat pengalaman pertama bercinta dgnnya. Dan kesempatan pun tiba pada acara tahunan tersebut, saat acara sudah hampir selesai, kuajak Sari keluar dari ruangan itu.

“Sar, temenin Bapak keluar jalan-jalan yuk?” Ajakku.
“Iya Pak, Sari juga sudah sumpek di sini sejak tadi sore”, jawab Sari.
Kita pun keluar dgn mobilku, tak terasa sudah jam 1.00 malam. Kita pun kembali ke Villa perusahaan.

Setelah sampai, aqu memberanikan diri menggandeng seketarisku yg genit itu, kita menyusuri lorong kamar-kamar karyawan. Dan akhirnya tiba di depan pintu kamar Sari.

“Pak, malam ini mau nggak bapak nemanin aqu.. soalnya Sari taqut kalau tidur sendirian”, kata Sari.
“Tapi kamu kan bisa minta ditemanin sama karyawan cewek yg lain”, jawabku, tapi dalem hatiku berharap agar Sari memaksaqu untuk menemaninya malam ini, yg sebenarnya sangat kuharap-harapkan.
“Mana ada yg mau Pak? Orang sudah pada tidur semua, lagipula mereka kan sudah ada yg menemani malam ini”, desak Sari.

Memang sih pada acara tahunan kali ini karyawan wanita yg masih single dan ikut ke acara tersebut hanya Sari, sedangkan karyawan yg lain sudah membawa pasangannya sendiri-sendiri.

“Tapi nanti jam 7.00 pagi kamu bangunin Bapak yah. Soalnya kalau ketahuan karyawan yg lain kan nggak enak kita, apalagi bapak kan atasan mereka”, jawabku.

agen558-2

PahaDada

Aqupun masuk mengikuti Sari, tapi sebelumnya aqu minta izin pada Sari untuk ganti baju tidur dulu di kamarku. Pertama kali sangat canggung dan hanya berbincang-bincang saja di kamar. Ketika tiba saat untuk tidur, aqu bermaksud tidur di sofa. Aqu merasa harus menghargainya, toh kami belum menikah. Namun ia menarikku ke tempat tidur.
“Kita tidur pelukan boleh kan Pak, asal nggak lebih dari itu”, katanya manja.

Aqu menuruti kemauannya dgn kikuk. Beberapa menit kami berbaring diam dalem satu selimut. Sari hanya mengenakan t-shirt tipis dan kain sarung, begitu juga aqu. Saat kulit kami bersentuhan, jantungku berdesir. Tanpa terasa pipi kami saling menempel. Udara dingin membuat ia mengetatkan pelukannya dan akhirnya bibir kami saling berpagut. Awalnya sangat canggung, namun tak lama gerakan kami menjadi lebih luwes dan lidah kami pun saling bergulung. Ciuman yg ketat membuatku kehilangan kendali, lalu tanganku menjadi liar meraba ke buah dadanya. Nafas Sari pun semakin memburu.

Lalu aqu berusaha melucuti t-shirtnya. Sari tak menolak, bahkan tangannya juga berusaha melucuti bajuku. Dgn satu sentakan kutarik BH-nya sehingga kulihat badannya yg indah itu hanya berbalut celana dalem tipis. Aqu menikmati beberapa saat pemandangan itu, Sari yg berbaring telentang, dgn pandangan mata yg sulit kulupakan. Lalu kucium lagi bibirnya perlahan. Sari mengerang perlahan, “Ooohhh..”, bibirnya setengah terbuka dan basah sangat membuatku terangsang. Lalu tanganku mulai bermain di buah dadanya, membuat ia makin menggelinjang. Ketika tanganku kuturunkan hingga mencapai gundukan kewanitaannya dan bibirku meluncur mengulum puting susunya, tiba-tiba ia mendorongku dgn keras. Lalu tangannya bergerak cepat menarik celanaqu sembari berdesah, “Pak, buka celananya..” Dgn satu gerakan aqu melepas celana dalem, dan ia melaqukan hal yg sama. Kini dapat kulihat badan indah itu tanpa penghalang apapun.

Sari menarikku ke dalem pelukannya dan kami kembali bercumbu dgn hangatnya. Aqu menyisir seluruh badannya dgn bibirku. Mulai dari ubun-ubunnya, turun ke bibirnya, lalu ke lehernya yg jenjang. Sari berbaring telentang dgn kedua pahanya yg putih dibuka lebar, sementara aqu menindih dan mengulum bibir dan lehernya, gagang kemaluanku yg telah keras dan liang senggamanya yg terasa basah tanpa sengaja bersentuhan. Betapa nikmatnya. Lalu aqu mulai menyisir ke buah dadanya dan mulai mengulum puting buah dadanya yg mengeras. Aqu jilati puting susunya dan melingkari areolanya, membuat Sari menggelinjang dgn hebat sembari merintih keras, “Aduh.. nikmat.. Pak.. teruss.. ooohh..” Karena posisiku agak merendah ke bawah maka aqu dapat merasakan kehangatan liang kewanitaannya yg basah di perutku.

Sari terus merintih sembari sesekali pahanya yg jenjang menghentak naik turun di atas pinggangku, sementara pelukannya semakin erat. Lalu ia menarik badanku ke atas hingga bibir kami kembali berpagut. Sembari tersengal ia mendesah dgn penuh birahi, “Pak, Sari pingin disentuh dgn punya bapak..” Aqu mengerti yg ia inginkan. Aqu lalu mulai menggesek-gesekkan gagang kemaluanku ke liang kenikmatannya. Liang senggamanya terasa makin membanjir dan terbuka. Aqu terus menggesek dan menyibak labia mayoranya dan merasakan klitorisnya yg semakin membengkak. Sari menggoygkan pinggulnya dgn kencang sembari merintih, “Teruus.. Pak.. nik.. matt…, ooohhh..” Tangannya memeluk kencang di bahuku dan kukunya membenam di kulitku hingga membuatku sedikit perih. Namun rasa perih itu terkalahkan oleh buaian kenikmatan yg luar biasa. Gerakan itu semakin kencang dan aqu sudah tak tahan untuk segera memasuki badannya.

PahaDada

Aqu berhenti menggesek klitorisnya dan mulai mencari jalan untuk memasuki lobang kemaluannya yg sudah banjir oleh cairan kewanitaannya. Aqu menatap Sari sebentar dan menemukan hasrat yg sama di matanya. Dgn perlahan tangannya membimbingku memasuki lobang kenikmatannya. Dgn satu dorongan pelan aqu mulai memasuki badannya, sedikit demi sedikit. Aqu tahu ia sedikit kesakitan, karena ini pertama kali baginya, namun kebasahannya sangat membantu gagang kemaluanku menemukan jalannya. Ketika gagang kemaluanku hampir separuh masuk dalem liang kenikmatannya, tangannya memelukku dgn amat keras dan badannya bergetar hebat. Aqu merasakan cairan lebih banyak lagi membanjiri kemaluannya dan dgn satu dorongan aqu menusuk hingga bagian terdalem dari kemaluannya. Badannya menggigil dan mulutnya meracau, “Eeeenak.. Pak.. ooohh.. tekan yg.. dalaam.. ooohh..” ketika aqu mulai menggerakkan gagang kemaluanku naik turun. Pada setiap gerakan menusuk aqu menekan dgn begitu dalem. Sari menggoygkan pinggulnya, kedua kakinya menjepit pinggulku begitu keras.

Aqu akhirnya tak tahan lagi dan merasa sudah hampir tiba waktunya. Pada gerakanku yg terakhir, aqu merasakan seluruh badannya menggeletar, menyambut spermaqu yg memenuhi rongga kewanitaannya saat ejaqulasi. Kukunya makin dalem terbenam di punggungku dalem satu pelukan yg ketat dan badan kami sama-sama menggeletar. Untuk beberapa saat hanya kenikmatan tiada tara yg kami rasakan dan entah berapa lama kami terus berpelukan menikmati keindahan itu dgn mata terpejam, dgn gagang kemaluanku tetap kubiarkan di dalem liang kenikmatannya. Ketika getar-getar keindahan itu akhirnya harus berakhir, aqu membuka mata dan melihat Sari yg masih tetap terpejam dgn wajahnya yg penuh keringat. Betapa cantiknya melihat dia dalem keadaan sesudah orgasme. Lalu ia membuka matanya dan tersenyum lembut melihatku sedang memandanginya. Kucium lembut bibirnya dan kami berbaring berpelukan. Kami tahu malam masih panjang dan kami tak akan menyia-nyiakan kesempatan indah itu untuk menikmatinya bersama-sama.

Itulah kisah perselingkuhanku dgn Sari, sekretarisku yg cantik dan genit dan acara kucing-kucingan itu berlangsung hingga kini. Setelah acara selesai aqu pulang ke rumah dan mendengar suara atau hal-hal yg tak enak dari para tetangga tentang istriku. Tapi aqu saat itu belum mau percaya begitu saja dgn cerita jelek yg beredar di daerahku itu, sampai sahabatku sendiri yg mengatakannya padaqu. Barulah aqu mempercayai cerita tersebut.

Selama tiga hari aqu tak mau bicara dgn istriku, sikapnya padaqu yg kurasakan sepertinya agak beda semenjak aqu datang dari acara tahunan yg diadakan perusahaanku itu.
“Yg.. kamu kenapa sih?” kenapa kamu diam saja.. kenapa kamu diamkan aqu? Apa salahku?” Tanya Yenni, istriku pura-pura tak mengerti duduk persoalannya.

Ditanya seperti itu aqu masih tetap diam tak mau bicara, sikap Yenni semakin merajuk saja. Dia mencoba untuk melemahkan emosi jiwaqu, Yenni memang paling pandai dalem hal menundukkan emosiku. Sehingga aqu selalu saja kalah olehnya, apakah karena aqu terlalu mencintainya? sehingga diriku begitu lemah terhadapnya.

“Jika Yayg selalu diam begini, aqu sebaiknya pergi saja dari rumah ini! Percuma punya suami juga, selalu mendiamkan aqu tanpa tahu persoalannya!” kata Yenni dgn suara yg ketus dan tajam. Aqu kaget dgn kata-katanya itu, maka kutarik lengannya ketika dia hendak melangkah keluar.

“Katakan! Siapa lelaki yg pernah ke mari sewaktu aqu sedang di luar kota kemarin?!” tanyaqu sembari mencengkeram lengannya lebih erat lagi.
“Siapa yg Yayg maksud? Aqu benar-benar tak mengerti?” ujarnya mencoba mengelak.
“Jangan pura-pura lagi, Yenni! Aqu sudah tahu semuanya. Sewaktu aqu tak ada, rumah ini kedatangan tamu kan?” gertakku.
“Memang benar Yg, Tapi mereka itu teman Mamaqu. Lagi pula, nggak mungkin aqu berani mengkhianati kamu Yg!” ujar Yenni sembari matanya melotot tajam ke arahku.
“Kamu berani untuk di sumpah?” tanyaqu lagi.
“Aqu berani di sumpah dgn cara apa saja, Yg! Karena aqu tak merasa bersalah!”

PahaDada

Kata-katanya cukup tandas dan tajam. Dia seolah-olah tak menerima kutuduh begitu, aqu sendiri akhirnya tak bisa berbuat banyak. Karena menuduh tanpa bukti itu sama halnya dgn memfitnah, lagi pula setelah aqu pikir apapun yg dilaqukan istriku ini tak mungkin kalau Yenni berani berbuat seperti itu kecuali semua ini memang kelaquan dari mertuaqu itu. Apalagi saat itu Yenni menangis pilu dan aqu merasa tak tega melihatnya sebab bagaimanapun juga aqu masih begitu mencintainya.

“Maafkan aqu Sayg. Aqu telah menuduh yg tak-tak padamu, aqu percaya kok kalau kamu masih mencintaiku dan setia padaqu”, Kataqu sembari memeluk badan istriku dgn lembut dan mesra. Dan suasana yg tadinya tegang telah berubah menjadi suasana yg begitu romantis, apalagi aqu sudah lama tak merasakan cumbuan permainannya, dan saat itu Yenni istriku begitu erat mendekapku seakan tak mau terpisah dariku lagi. Kurebahkan badan istriku di atas ranjang, kubiarkan dia terbaring dgn bebas.

Aqu berdiri sejenak memandanginya, ada getar aneh menjalari sekujur badanku saat itu. Yenni tersenyum penuh arti padaqu, dia memang mengerti apa yg aqu butuhkan saat ini. Benar-benar menggairahkan dan penuh daya tarik tersendiri badan istriku. Ia begitu menantang dan pasrah. Buah dadanya yg masih dilapisi gaun tidur itu membusung, laksana bukit salju yg lembut, kulitnya bersih dan mulus. Pinggulnya padat dan berisi. Kedua pahanya juga putih, laksana kain sutra kalau di sentuh. Segera saja aqu melepaskan semua pakaianku dan langsung naik ke atas ranjang. Rasanya saat itu kami seperti berada di malam pengantin saja, begitu mesra dan romantis.

Kemudian aqu duduk di pinggir kasur sembari mendekap badan istriku. Sungguh lembut badan mungil istriku. Kupeluk dgn gemas sembari kulumat mesra bibir ranumnya. Tanganku meraba seluruh badannya. Sembari memegang puting susunya, kuremas-remas buah dada yg kenyal itu. Kuusap-usap dan kuremas-remas. Nafsuku terangsang semakin hebat. Gagang kemaluanku menyentuh pinggang istriku. Kudekatkan gagang kemaluanku ke tangan istriku. Digenggamnya gagang kemaluanku erat-erat lalu diusap-usapnya. Tanganku terus mengusap perutnya hingga ke celah selangkangannya. Terasa berlendir basah di kemaluannya. Aqu beralih dgn posisi 69.

Aqu mulai mendekap badannya sehingga seluruh badannya menekan badanku, dan Yenni mengarahkan liang kewanitaannya yg terbuka ke wajahku. Dapat kulihat liang kewanitaannya yg kemerahan yg tak dihiasi oleh sehelai bulupun, bersih. Yenni menaikkan bokongnya sedikit, sehingga makin jelas terlihat liang kewanitaannya, aqu tahu maksudnya dgn perlahan kutempelkan wajahku ke liang kewanitaannya, kuciumi bibir luarnya, dia sedikit menggelinjang tapi tetap menghisap dan menjilat gagang kemaluanku, dapat kuhirup aroma yg keluar dari liang kewanitaannya tersebut bau yg khas.

Aqu jilati seputar bibir luarnya, Yenni semakin melengkungkan badannya ke belakang, sehingga terbenamlah wajahku di liang kewanitaannya. Aqu mengatur nafas, kubuka bibir luarnya dgn jari tanganku, kumasukkan lidahku ke dalem liang kewanitaannya dan kumainkan lidahku di dalemnya, Yenni menggelinjang kuat, “Eeeggghh.. shhh.. aaachh.. terusin Yg”. Kukecup dan kutarik klitorisnya dgn lidah dan bibirku, dapat kurasakan cairan wanitanya sudah mulai membasahi liang kewanitaannya, Yenni mengejang saat kuhisap liang kewanitaannya yg sudah basah. Kujilat bibir kemaluannya dan kupilin-pilin klitorisnya.

PahaDada

“Ohhh.. arggghh.. ohhh.. terusin Yg.. ohhh.. arggghh”. Dan aqu merasakan gagang kemaluanku digigit dgn kedua bibirnya. “Eeggghh.. sshhh… Sayg”. Aqu pun menggeliat, Yenni melepaskan gagang kemaluanku dari mulutnya, mengangkat dan memutar badannya, menciumi bibirku dgn panas dan nafas terengah-engah.

Kemudian Yenni jongkok menghadapku persis di atas gagang kemaluanku yg terlihat mengkilap basah, dipegangnya gagang kemaluanku dan Yenni mulai menurunkan posisi jongkoknya dgn menuntun gagang kemaluanku masuk perlahan ke dalem liang kewanitaannya, “Bleesss..” “Aaahhh.. ggghh!” kami berdua bersamaan mengerang. Yenni mulai menggerakkan pinggulnya naik turun, liang kewanitaannya sangat banyak berair, sampai berbunyi, “Plok.. plok.. cipak.. plok..” sesekali dia menggelinjang dan meletakkan tangannya ke belakang memegang kedua pahaqu, diputarnya pinggulnya ke kiri dan ke kanan, kali ini giliranku yg menggeliat, kutarik tangannya ke bawah sehingga dia terkelungkup kuciumi bibirnya dgn hangat Yenni membalas, kupeluk badannya dan Yenni sekali lagi memutar-mutar pinggulnya.

“Shhh.. gghhh..” aqu kembali mengerang. “Enak, Yg..” bisiknya. Aqu tak menjawab dan langsung kuciumi bibirnya sementara tanganku mencoba untuk melepaskan gaun tidurnya, Yenni membantuku, dia bangun dan melepaskannya. Kulihat buah dadanya, aqu mulai merabanya, meremasnya, kuhisap puting buah dada kanannya. ” Ohhh.. arghah.. aaah.. ahhh.. oh Yg terusin.. ohhh.. aghhh..” Yenni mendesah dan mempercepat gerakan pinggulnya naik turun kiri kanan. Puting buah dadanya yg merekah itu kujilat berulangkali sembari kugigit perlahan-lahan. Puting susunya terlihat berair karena liur hisapanku tadi. Kuperkuat remasanku di buah dadanya, Yenni merebahkan badannya dgn tetap menggerakkan pinggulnya dan kubalas dgn gerakan menusuk dari bawah.

“Aaahh.. Yg.. terusin, Yg.. shshsh…” desah Yenni menggeliat. Aqu tak peduli, kujilati dan kugigit putingnya yg sudah dekat dgn wajahku, Yenni kembali mendesah dgn cepat mengikuti irama goygan pinggulnya dan tusukan gagang kemaluanku, “Aaahhh… ahhh… eeghh…” Aqu merasakan ada sesuatu yg siap keluar dari dalem gagang kemaluanku, kupercepat gerakan gagang kemaluanku dalem liang kewanitaannya, badan Yenni mulai mengejang kuat seiring kubangunkan badannya sembari meremas kedua buah dadanya. Yenni juga mempercepat gerakan pinggulnya, sementara aqu merasakan bahwa air maniku sudah tak tertahankan lagi, dgn hitungan sepersekian detik, kulepaskan gagang kemaluanku dari dalem liang kewanitaannya. Yenni kaget dan keluarlah cipratan pertama yg diiringi oleh luberan air maniku yg selama hampir dua minggu kupendam. Yenni terperangah, kemudian dia mencubit perutku.

“Kok, nggak bilang-bilang?!” aqu tersenyum malu, kemudian dia menguatkan cubitannya.
“Aqu kan juga hampir sampai, kenapa nggak dikeluarin di dalem aja?” dgn tampang innocent.
Aqu meringis menahan sakit, “Sorry Yg katanya kamu lagi KB…” jawabku enteng sembari membersihkan sisa-sisa air mani dari badanku.

PahaDada

Yenni mulai memperlihatkan cemberutnya ketika dia melihat juniorku yg lunglai. Aqu melirik ke arah jam dinding dan tersenyum sembari merebahkan kepalaqu ke bantal yg empuk, Yenni keheranan tapi kembali cemberut.

“Curang.. mentang-mentang udah enak trus nyantai gitu, aqu gimana dong? masih tanggung nih!” dgn nada kesal-kesal manja. Kemudian kutarik badannya untuk rebahan di sebelahku. Kuambil tangannya lalu kebelaikan perlahan di sekitar daerah gagang kemaluanku, mulai dari paha, memutar ke bagian bawah perut sembari memainkan bulu kemaluanku, ke paha sebelahnya, kemudian kedua biji pelirku, gagang kemaluanku dan balik lagi ke paha yg pertama. Yenni heran tapi setelah dua kali kuulang kulepas tanganku dan dia mulai memainkan tangannya sendiri mengikuti gerakan yg baru saja kuajarkan.

Tak beberapa lama gagang kemaluanku mulai bergerak dan semakin halus gerakan tangan Yenni, gagang kemaluanku juga semakin menegang. Yenni melemparkan senyum nakalnya padaqu, aqu balas senyumannya dan Yenni terlihat kembali bersemangat ketika melihat gagang kemaluanku sudah berdiri tegak, dia bangkit dari rebahannya dan mulai menggenggam gagang kemaluanku, diusap-usapnya perlahan dan semakin lama semakin kuat. “Cihuuii!” teriakan kecilnya membuatku tertawa.

Yenni mulai bangun dan bersiap untuk menaiki badanku lagi, tetapi aqu cepat-cepat menghadangnya dgn membangunkan badanku dan menghempaskan badannya ke kasur, Yenni kembali keheranan tapi tak lama kemudian ia tersenyum begitu aqu meregangkan kedua kakinya dan mulai meraba daerah liang kewanitaannya yg tak dihiasi selembar bulu. “Sudah siap ronde kedua?” tanyaqu sembari mengambil posisi di hadapannya, belum sempat Yenni menganggukkan kepalanya, kepala gagang kemaluanku sudah menusuk liang kewanitaannya “Eghkhkshsh..!” Yenni mendesah berat dan badannya menggelinjang hebat. Kubenamkan terus gagang kemaluanku sampai habis ke dalem liang kewanitaannya, Yenni terus menggelinjang. “Shshsh.. terushin.. Yg..” desahnya. Kutarik gagang kemaluanku keluar sampai habis dan kubenamkan lagi ke dalem liang kewanitaannya dgn cepat, Yenni terbelalak, “Aakkkhh…” kali ini suaranya tak tertahankan.

Sayup-sayup kudengar suara wanita cekikikan dari luar kamar tapi tak kuperdulikan. Kembali kutarik gagang kemaluanku dan kubenamkan lagi, lalu kukocokkan gagang kemaluanku keluar masuk di dalem liang kewanitaannya yg mulai melebar dan basah, nafas Yenni mulai terengah-engah mengikuti gerakan gagang kemaluanku. “Enaak.. lagii.. masukin semuaa.. tekan dong.. bagian kiri yg ditekan… aahh… laaggii.. tekann.. ahh…” dgn mata merem melek keasyikan, selang beberapa lama kutarik gagang kemaluanku keluar dan kuangkat kedua kakinya ke atas dan kusandarkan di dadaqu, Yenni membuka matanya yg terpejam. Belum sempat ia berpikir, kembali kubenamkan gagang kemaluanku ke dalem liang kewanitaannya yg menyempit.

“Aaakkhh.. shhh…” aqu menyeringai sementara Yenni mendesiskan nafasnya seperti menahan sakit, tapi tak lama nafasnya kembali terengah seiring kocokan gagang kemaluanku dalem liang kewanitaannya. Kembali kudengar suara wanita cekikikan, tapi aqu tetap tak perduli. Aqu masih tetap mempertahankan irama kocokan gagang kemaluanku, tak beberapa lama kupalingkan penglihatankan ke jendela kamar yg mengarah ke balkon luar, walau tertutup tirai tapi aqu dapat melihat baygan kepala orang di luar sana. Aqu terkaget. “Gila! ternyata permainan seks-ku dgn Yenni diintip mertuaqu sendiri”, pikirku dalem hati. Perasaan kaget coba kuhilangkan dgn menarik gagang kemaluanku dan membalikkan badan Yenni yg mulai terasa berat kelelahan.

Aqu bangun dari tempat tidur dan kutarik pinggulnya ke atas, Yenni menolehkan kepalanya ke belakang, aqu meraba liang kewanitaannya yg sudah sangat basah, dia melemparkan senyum malasnya, tak lama kutuntun gagang kemaluanku ke liang kewanitaannya melalui daerah bokongnya yg tak begitu besar. Setelah merasakan pas di depan lobang kenikmatannya tanpa permisi kubenamkan gagang kemaluanku dalem-dalem sampai habis tak terlihat. “Eenggkk.. ssshh.. aakhkh !” kami sama-sama mendesah. Badan Yenni kembali menggelinjang hebat dan nyaris melepaskan gagang kemaluanku dari dalem liang kewanitaannya, kutahan pinggulnya dgn kedua tanganku, kupegang erat pinggulnya, dan tak lama kukocok gagang kemaluanku di dalem liang kewanitaannya keluar masuk, terdengar suara yg khas ketika bokongnya beradu dgn perutku. Aqu semakin menikmati permainan ini.

“Akh.. egkh.. sshsh.. aagkh..” nafas kami bersahutan mengikuti irama kocokan gagang kemaluanku, tapi suara Yenni mulai mengeras “Eeggh.. .Aaakkkh.. teerrus Yg.. teerruss…” kupercepat kocokan gagang kemaluanku sehingga menimbulkan suara gesekan perut dan bokong yg semakin cepat. Tak lama kemudian Yenni mendesah panjang, “Ssshh.. aaakkhh.. eegghhm.. ohhh.. augh.. Yg.. Yenni mau keeellluuaarrr…”. Tiba-tiba liang kewanitaannya seperti menghisap-hisap gagang kemaluanku dan akhirnya, “Crooottt.. crotttt.. crotttt.. crot” aqu bisa merasakan klimaksnya tapi aqu tetap menusukkan gagang kemaluanku ke dalem liang kewanitaannya. Tangan Yenni kelihatan sudah tak dapat menahan badannya, kepalanya jatuh lunglai sesaat, dia menoleh ke belakang menatapku dan tersenyum manis seakan memberi tanda kepuasan. Kubalas senyumnya dan kuperlambat gerakan gagang kemaluanku dan Yenni mengikuti gerakan gagang kemaluanku dgn memutarkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan.

“Uuugh… eegkh…” aqu menyeringai, gagang kemaluanku terasa sedikit ngilu.
“Kenapa, enak ya?” candanya sembari terus memutar pinggulnya perlahan sementara gagang kemaluanku yg masih tertancap dalem liang senggamanya yg sangat basah. “Uugghmm.. sshhshh.. aaakgh..” Yenni mendesah keenakan menikmati permainannya sendiri. Rupanya ia ingin menikmati klimaksnya lebih lama dgn memutar-mutar gagang kemaluanku di dalem liang kenikmatannya yg sedikit melebar dan basah. Lalu kukecup bibirnya, ia pun membalasnya sembari berbisik, “Kamu hebat deh Yg…” Senyum manis menghiasi wajahnya yg bersemu merah, pertanda ia telah mengalami orgasme yg hebat. Kami pun tidur berdekapan sampai pagi.

PahaDada

Begitulah, kami sebenarnya hidup dalem rumah tangga yg rukun dan romantis. Namun karena pengaruh ibunya Yenni (mertuaqu red) cukup besar, maka rumah tangga kami sering goncang. Aqu mencoba untuk dapat mempertahankan dan mengendalikan mahligai rumah tanggaqu, berkali-kali aqu bisa menyelamatkannya. Namun terpaan badai yg dihembuskan ibu mertuaqu semakin kuat saja, sehingga aqu tak mampu lagi untuk menahannya. Akhirnya Yenni mengajukan gugatan cerai padaqu.

Setelah menjalani sidang perceraianku dgn istriku yg berjalan begitu lama, karena memang aqu masih mencintainya dan berharap Yenni kembali ke pelukanku. Tapi apa dayaqu karena kenyataannya tak seperti yg kuharapkan, setelah pembagian harta gono-gini. Aqu sekarang segagang kara dalem mengarungi hidup ini, setelah Yenni yg selama ini menjadi istriku telah tiada lagi di sisiku.



agen558-2

UNTUK REGISTRASI DAN PENDAFTARAN.

Hubungi Kami:

Situs & Livechat : http://www.agen558.com
Pin:  5591B4C3
YM : cs_agen558@yahoo.com
SMS/WA:+6281-2696-2889
Line : agen558.com

” Hasrat Ibu Guru “

PahaDada

 AGEN558.com Nama ku Yudra dan ini ceritaqu saat masih 18 tahun. Saat berangkat keyogya untuk kuliah aqu bertemu dgn Bu Debora dan Pak Jerry suaminya. Bu Debora adalah mantan guruku saat SMP dulu. Sesudah bercerita panjang lebar mereka menawarkan padaqu untuk tinggal ditempat mereka selama aqu kuliah. Sesudah mendapat ijin orang tuaqu, aqupun menerima tawaran baik merekakarna aqu memang tak punya kenalan diyogya.

Sesudah sebulan tinggal bersama aqu tahu kalau Pak Jerry yg bekerja diluar pulau sering sekali berangkat, sementara kedua anaknya lebih memilih tinggal bersama neneknya dikalimantan untuk mernyelesaikan pendidikan dasar mereka. Aqu sering melihat Bu Debora melamun sepulang dia dari mengajar disekolah. Bu Debora juga sering cerita panjang lebar padaqu tentang kesepiannya dirumah selama ini. Dan aqu selalu menjadi pendengar yg baik.

Dibalik sikap baik yg kuperlihatkan, terpendam hasrat yg ada sejak SMP dan tumbuh lagi sejak pertemuan kembali dgn Bu Debora sekarang. Saat SMP dulu aqu paling bersemangat jika pelajaran Bu Debora, selain cara mengajarnya yg enak aqu bisa mengintip BH yg dia gunakan. Antara kancing didada dan kerah lehernya terdapat celah yg sering terbuka, sehingga jika diperhatikan secara teliti, orang pasti bisa melihat pakaian dalem yg ia gunakan. Dan selama penagamatanku Bu Debora selalu memakai BH warna Hitam.

Itu selalu menjadi santapanku setiap mata pelajarannya. Bahkan aqu selalu memperhatikan gerak- geriknya selama disekolah. Saat itu usianya 31 tahun, dgn parasnya yg putih dan bentuk badannya yg menawan membuatku selalu menjadikannya sebagai objek hayalan jika onani. Sekarang diusianya yg ke 36 tdak terlihat kalau Bu Debora sudah memiliki 2 orang anak yg sudah SMP. Malah menurutku ia terlihat lebih menawan, terutama pada bagian pinggul dan dada ukuran 36 B yg lekukannya semakin terbentuk. Itu semua karena program BL yg diikutinya tiap senin dan kamis sore.

agen558

PahaDada

Awalnya aqu cuma mengkhayalkan badan Bu Debora jika sedang bermasturbasi. Kemudian aqu melaqukannya sembari memegang CD dan BH hitam milik Bu Debora, sampai akhirnya aqu beranimenguping jika Pak Jeremi yg pulang dan sedang bercinta dengan Bu Debora. Sembari mendengardesahan dan erangan erotis dari dalem kamar, tanganku asik mngocok gagang kemaluanku yg lumayan besar. Dan bila sudah keluar kubersihkan dgn CD atau BH Bu Debora yg akan dicuci besok.

Akhirnya muncul niatku untuk mencicipi lubang kemaluan Bu Debora yg pasti sangat keset dan terawat. Aqu melaqukannya sesudah 4 bulan tinggal disana, saat itu hari kamis dan suaminya sudah berangkat seminggu. Aqu menunggu didalem kamar sembari membaygkan “malam pertama” yg akan kulalui bersama Bu Debora. Saat dia pulang dari BL aqu membukakan pintu rumah.
“Sore Ndra.. baru pulang?” Sapanya ramah dan tersenyum padaqu.
“Iya Bu.. baru aja” Balasku sembari mengangguk.

Kemudian dia pergi kedapur membuat segelas susu lalu diletakkan datas meja makan. Kemudian ia masuk kamar untuk mandi. Saat dia mandi, kumasukkan serbuk tidur yg kubeli di toko alat-alat sex kedalem susu yg akan diminumnya.

Sekitar 45 menit kemudian Bu Debora keluar dari kamar, ia menggunakan daster motif bunga warna biru dgn panjang selutut tanpa lengan dgn belahan dada yg agak rendah, sehingga jika dia agak membungkuk belahan buah dadanya yg indah akan  jelas terlihat olehku. Sesudah mengambil susu di atas meja dia duduk menemaniku menonton TV di ruang tengah.

PahaDada

“Ada berita apa Ndra?” Tanyanya sembari meminum susu.
“Biasa Bu.. politik gak ada habis-habisnya” Sahutku sembari mencuri pandang keketiaknya.
“Bapak ada nelepon gak?”Tanyanya lagi sembari menghabiskan susu di gelas.
“Belum Bu, mungkin masih ngelonin istri baru” Candaqu.
“Nakal ya..” Tegurnya sembari mencubit pinggangku.

Aqu tak menghindar karena dgn itu aqu bisa melihat belahan dadanya yg seperti ingin melompat dari dalem dasternya. Sekitar 5 menit kemudian Bu Debora mulai menguap dan kepalanya mulai jatuh karena sangat mengantuk.

“Ndra ibu tidur duluan.. Gak tau kok ngantuk banget hari ini” Pamitnya.
“Mungkin tadi terlalu diforsir tenaganya Bu” Sahutku dgn tersenyum.

Kemudian Bu Debora masuk kamar dan menutupnya. Sesudah 10 menit menunggu aqu mulai beraksi, kuketuk pintunya pelan tiga kali lalu kupanggil namanya, tak ada jawaban. Kuulangi sekali lagi tetap tak ada jawaban, kuputar pegangan pintu dan kubuka dgn sangat perlahan dan kututup keras-keras. Bu Debora tak bereaksi di atas ranjangnya.

Kulihat jam dinding, 18:13 masih banyak saat pikirku. Aqu naik keatas ranjang lalu ku perhatikan parasnya, cantik sekali. Kucium bibirnya dgn lembut, lalu kujilati parasnya sampai basah kemudian ciumanku turun kelehernya. Kusapu sekeliling lehernya dgn jilatan dan sedotan hingga memerah.

Sesudah puas kuturunkan kepalaqu kedadanya, walau masih berpakaian lengkap tapi bisa kurasakan kekenyalan sepasang buah dada yg indah itu. Kedua tanganku secara perlahan tapi pasti meraih kedua bukit kembar itu lalu mengusapnya dgn lembut sementara kepalaqu turun keselangkangnnya. Dibalik kain daster itu tercium aroma kewanitaan yg sangat merangsang.

Kuhirup puas-puas wangi yg memabukkan itu, sehingga mengakibatkan remasan-remasan yg kulaqukan kebuah dada Bu Debora menjadi kasar dan tak terkendali. Tarikan navasku semakin berat seiring dgn hasrat yg semakin menggebu. Kemudian aqu membuka semua pakaian yg mnelekat dibadanku,  Sesudah itu kubuka daster yg dikenakan oleh Bu Debora
kemudian kuatur posisi badannya, Kedua tangan di atas kepala dan kaki yg membuka lebar.

PahaDada

Pemandangan yg erotis dan menantang langsung terlihat dihadapanku. Badan Bu Debora yg tergolek lemah dan tak berdaya kini hanya ditutupi oleh BH hitam pada buah dadanya yg montok dan CD pink yg menggembung pada selangkangannya.

Gagang kemaluanku semakin tegak mengacung siap perang. Kudekati tindih badan Bu Debora yg tergolek lemah dan pasrah itu. Kucium bagian buah dadanya yg tak tertutup BH, lalu tanganku menelusup kedalem BHnya dan meraih salah satu puting susunya kemudian memilin-milinnya.

Dgn navas yg makin memburu kusingkap BHnya keatas sehingga kedua buah dadanya langsung membusung kedepan seakan mengundangku untuk menikmatinya. Kuciumi
kedua buah dadanya lalu kukulum, kusedot dan kugigit-gigit putingnya sampai memerah. Sesudah itu kulirik selangkangannya, CD hitam Bu Debora tak mampu menutupi beberapa helai rambut hitam yg menjulur keluar dari balik CD itu. Kutahan hasrat itu karena aqu ingin menikmatinya saat Bu Debora mulai sadar nanti.

Kuraih kedua buah dadanya kuremas-remas dgn kasar lalu kuletakkan gagang kemaluanku diantara sepasang susu yg indah itu. Kemudian aqu mulai menggerakkan pinggulku maju mundur, rasanya nikmat sekali walau pasti tak senikmat jika masuk kelubang kemaluannya batinku. Pelan tapi pasti rasa nikmat mulai merasukiku, navasku mulai tersengal dan desahan mulai keluar dari mulutku tanpa diminta. Butir-butir keringat makin mengalir deras, kukulum bibir Bu Debora sejenak lalu kulanjutkan kembali genjotanku tanpa kenal lelah. Kulihat badan Bu Debora mulai berguncang karena gerakanku yg makin hebat.

Sekitar 10 menit berlalu dan aqu sudah lelah menahan, kuputuskan untuk segera mengeluarkannya. Gerakan pinggulku makin kupercepat dan kedua buah dadanya makin kurapatkan. Rasa nikmat tak terlukiskan mulai menjalari gagang kemaluan dan menyebar keseluruh badanku. Cairan putih kental dari kepala kemaluanku dan membanjiri permukaan badan indah Bu Debora yg tergolek diam. Kukocok gagang kemaluanku sembari memuntahkan cairan spermaqu keparasnya, desahan-desahan nikmat keluar dari mulutku.

PahaDada

Sesudah selesai aqu beristirahat sejenak sembari menatap badan Bu Debora yg hanya tertutup oleh CD saja. Kemudian kuambil lap dan air hangat yg memang sudah kupersiapkan, kubersihkan setiap bagian badannya yg terkena siraman spermaqu. Sesudah itu kucium-cium sebentar lalu kupasangkan lagi BHnya, kemudian kubongkar lemarinya kucari baju yg biasa digunakan Bu Debora kesekolah.

Sesudah dapat kupakaikan kebadannya. Samar-samar terlihat sekali kalau baju itu membentuk lekukan yg sangat indah aqu berdecak kagum. Kemudian aqu menunggu dia bagun sembari memainkan buah dadanya yg indah.

Aqu duduk disampingnya saat Bu Debora mulai membuka matanya. Cahaya lampu
menyilaukan matanya, kuperhatikan bagian dadanya yg terbuka. Gagang kemaluanku perlahan tapi pasti kembali mengeras melihat pemandangan yg erotis itu.

“Jam berapa ini Ndra?” Tanyanya sembari mengucek mata.
“10 lewat 5 jawabku” Sementara mataqu terus menatap kebelahan dadanya.
“Huuaah.. masih malam toh.. lagi ngapain kamu”
Tegurnya sembari merentangkan tangan, otomatis belahan buah dadanya terlihat sampai BHnya. Dan itu membuatku menjadi lupa diri.
“Lagi liat ini Bu..” Tanganku langsung meremas salah satu buah dadanya yg montok.
“Jangan kurang ajar kamu ya” Bentaknya sembari menepis tanganku dan menutupi bagian dadanya yg terbuka.

Sembari mendekatinya kuceritakan semua yg baru saja kulaqukan tadi. Parasnya memerah karena kaget dan tak percaya. Tiba-tiba aqu langsung memeluknya, dan mencium bibirnya. Tak sampai disitu, kurebahkan badannya keatas ranjang dan kuhimpit dgn badanku. Kulanjutkan aktifitasku, mencium dan melumat bibirnya.
“Jangan Ndra.. Ini dosa” Pinta Bu Debora lirih.

Tapi aqu terus menciuminya, tanganku mulai menyusup kebalik baju Bu Debora. Bu Debora
menangkisnya, dgn sedikit gerakan aqu berhasil menepisnya dan terus menyusup masuk sampai menyentuh buah dada Bu Debora yg masih terbunkus BH. Aqu meremas lembut buah dadanya yg montok itu. Bu Debora mendesah, aqu terus meremas tak lupa ciumanku terus melumat bibirnya. Aqu mengalihkan ciumanku ke lehernya. Bu Debora kembali mnedesah, jemari tanganku mulai nerayap kepunggungnya, dan terus melepas tali BHnya.

PahaDada

“Berhasil” Batinku. Bu Debora tersentak.
“Kita tak boleh melaqukan ini Ndra” sembari mendorongku kesamping.
“Memang tak boleh sih.. tapi..”

Aqu kembali merangkul Bu Debora, kali ini ciumanku lebih ganas dari pada yg pertama. Mulai dari bibir ke telinga terus menjalar ke lehernya. Jemari tanganku melanjutkan aksi lagi menarik keatas BH terus meremasnya, memuntir-muntir putingnya. Bu Debora pasrah dan kelihatan mulai panas dgn permainan yg kuterapkan. Aqu mengangkat badan Bu Debora dan membuka baju serta BHnya, aqupun demikian. Bu Debora takjub melihat gagang kemaluanku. Aqu memulai kembali aksiku, kali ini ciumanku kuarahkan ke buah dadanya. Bu Debora menggeliat, apalagi tanganku menyentuh buah dadanya yg satu lagi. Kami berdua sudah bermandikan keringat, tangan Bu Deboramenjambak rambutku.

Permainanku jemariku mulai merangkak ke bawah dan berusaha menyelusup kebalik rok dan CDnya. Bu Debora tak lagi menangkisnya. Jemari tanganku menyentuh rambut kelaminnya, lalu jemariku menggesek-gesek sekitar liang kemaluan Bu Debora. Bu Debora mendesah panjang dan membenamkan kepalaqu kebuah dadanya, untuk mendapatkan kenikmatan lebih. Sesudah beberapa lama, ciumanku mulai merangkak kebawah sampai kebatas rambut kemaluannya yg sedikit terbuka.

Aqu kemudian memeloroti rok dan CDnya, aqupun demikian. Aqu kembali terkagum melihat badan  telanjang Bu Debora. Buah dadanya putih padat berisi dihiasi puting susu yg berwarna coklat kemerah-merahan. Sementara Kemaluannya dikelilingi rambut kelamin yg lebat.

Aqu kembali beraksi, kali ini daerah sasaranku liang kemaluannya. Aqu menciumi dan menjilati yg agak menonjol disekitar liang kemaluannya mungkin itu yg dinamakan kloritas. Sesudah beberapa lama ciumanku kembali keatas, merentangkan tangannya yg menutupi buah dadanya. Terus menjilati badannya dan akhirnya mnedarat lagi di bibirnya. Gagang kemaluanku dgn mulut kemaluan Bu Debora saling beradu. Ini menyebabkan gagang kemaluanku ingin dimasukkan ketempatnya. Aqu mengatur posisi dan melebarkan kaki bo Debora.

PahaDada

Bu Debora tersadar dan berkata, “Kita sudah terlalu jauh.. jangan teruskan”
Aqu tak lagi memperdulikan kata-kata Bu Debora karena hawa nafsuku sudah menuju puncak. Aqu kembali meraih Bu Debora dan menciumi bibirnya, kali ini lebih dahsyat lidahku bergoyag-goyag di mulutnya.

Bu Debora tak bisa berbuat apa-apa dan kembali larut dalem kenikmatan. Gagang kemaluanku yg sudah gatal ingin memasuki liang kemaluan Bu Debora. Aqu mengambil posisi yg pas, gagang kemaluanku mulai memasuki pintu kewanitaannya. Seperti masih perawan, gagang kemaluanku sering melenceng memasuki liang kemaluan Bu Debora, aqu terus berusaha dan akhirnya masuk juga gagang kemaluanqu keliang kemaluan Bu Debora. Bu Debora mendesah panjang dan badannya berguncang.
“Gila keset amat.. kaya belum punya anak aja” batinku.

Bu Debora sudah sedikit tenang dan gagang kemaluanku sudah masuk sedikit demi sedikit. Akhirnya semua gagang kejantananku tenggelam di liang senggama Bu Debora. Aqu menggoygkan pinggulku sehingga gagang kejantananku keluar masuk di liang senggama Bu Debora. Makin lama makin cepat, Bu Debora mendesah sembari menyebut namaqu. Kami berdua bermandikan keringat walaupun cuaca pada saat itu lumayan dingin.

Erangan yg panjang disertai cairan hangat menerpa gagang kejantananku yg masih berada
didalemliang senggama Bu Debora. Rupanya Bu Debora sudah mencapai orgasme, aqu pun tak tinggal diam dgn mempercepat gerakan gagang kejantananku keluar masuk diliang senggama Bu Debora.

“Inilah saatnya” Batinku.
Akhirnya puncak kenikmatanku datang, spermaqu muncarat didalem liang senggama Bu Debora bersamaan dgn cairan hangat yg kembali menyirami gagang kemaluanku, ternyata Bu Debora kembali orgasme. Malam itu berlanjut dgn beberapa kali orgasme Bu Debora, sampai akhirnya kami kelelahan dan tertidur.

Pagi harinya, Bu Debora bangun lebih dulu dan langsung kekamar mandi. Sesaat kemudian aqu terbangun dan mendengar guyuran air dikamar dan mengetoknya, Bu Debora pun membuka pintu kamar mandi. Kembali aqu terkesima melihat Bu Debora yg telanjang bulat dgn rambut yg basah. Gairahku kembali memuncak, aqu masuk dan langsung merangkul badan Bu Debora.

PahaDada

“Mandi dulu dong” Pinta Bu Debora manja.

Aqupun menuruti ajakannya kemudian mengguyuri badanku dgn air. Beberapa saat sesudah itu aqu menyabuni badanku dgn sabun cair. Bu Debora turut membantu, malah dia menyabuni gagang kejantananku yg kembali tegak.

Rasa malu Bu Debora sudah hilang, dia mengocok-ngocok gagang kejantananku dgn lembut. Nikmat rasanya, dan pada saat hampir mencapai klimaksnya aqu melepaskan tangan Bu Debora karena belum saatnya. Gantian aqu yg menyabuni Bu Debora, mula-mula kedua tangannya lalu kedua kakinya. Sampailah kedaerah yg vital, aqu berdiri dibelakang Bu Debora terus merangkulnya dan menyabuni buah dadanya dgn kedua telapak tanganku. Terdengar Bu Debora mendesah panjang.

Usapanku kebawah melewati perutnya hingga sampai keliang senggamanya. Kembali aqu
mengusapnya dgn lembut. Busa sabun hampir menutupi liang senggama Bu Debora, kali ini Bu Debora merintih nikmat. Sesudah puas aqu mengguyur kedua badan kami yg masih berangkulan. Aqu membalikkan badannya dan kami pun saling berhadapan.

Bu Debora kemudian mencium bibirku, aqu membalasnya dan kemudian terjadi french kiss yg dahsyat. Tangan kami pun tak tinggal diam, aqu menyentuh buah dada Bu Debora dan ia menyentuh gagang kejantananku yg masih perkasa berdiri. Sesudah beberapa lama, Bu Debora membimbing gagang kejantananku memasuki liang senggamanya. Dgn melebarkan kakinya gagang kejantananku kembali memasuki liang senggama Bu Debora. Bu Debora melilitkan tangannya ke leherku kemudian aqu menggendong Bu Debora dan menyandarkan ke dinding kamar mandi.

PahaDada

Sesudah itu aqu kembali menggoygkan pinggulku yg membuat kejantananku keluar masuk liang senggama Bu Debora. Akhirnya spermaqu keluar dan membasahi seluruh dinding liang senggama Bu Debora. Ternayata ia belum mencapai klimaks, untuk membantunya aqu menjilati liang senggama Bu Debora. Bu Debora sedikit menjerit dgn apa yg kulaqukan, Akhirnya Bu Debora mengeluarkan juga cairan dari liang senggamanya dan pas mengenai parasku. Bu Debora terkulai nikmat, aqu mengguyuri kembali badan kami berdua. Aqu dan Bu Debora sudah selesai mandi, dan sudah memakai pakaian masing-masing.

“Lain kali.. aqu minta lagi ya sayg” Bisikku sembari menelusupkan tangan ke balik baju kerjanya.
“Atur aja” Desahnya manja.

Kemudian Bu Debora berangkat kerja dan aqu pergi kuliah. Pokoknya selama bertugas Pak Jeremi keluar pulau, aqu menggantikan tugasnya memenuhi hasrat biologis Bu Debora di tempat tidur.


agen558-2

UNTUK REGISTRASI DAN PENDAFTARAN.

Hubungi Kami:

Situs & Livechat : http://www.agen558.com
Pin:  5591B4C3
YM : cs_agen558@yahoo.com
SMS/WA:+6281-2696-2889
Line : agen558.com

” Meniduri Miss Bernike “

PahaDada

AGEN558.com Pagi itu seperti biasanya aqu semangat sekali ke sekolah. Alasannya karena pelajaran pertama hari Sabtu adalah Bahasa Inggris. Bukan karena Bahasa Inggris adalah pelajaran favoritku, tetapi karena guru Bahasa Inggrisku sangat seksi. Namanya Bernike (nama samaran). Tetapi lebih suka dipanggil Miss Bernike. Dia sudah bersuami seorang pelayaran dan punya satu anak berumur 3 tahun. Tetapi walau sudah bersuami dan punya anak, dia suka sekali mengenakan pakaian yg seksi walaupun itu sedang berada di sekolah. Mungkin jika tak mengenalnya akan mengira kalau dia masih perawan.

Seperti biasanya pagi ini aqu tak memperhatikan materi yg dibeikan Miss Bernike, walau aqu terlihat fokus ke depan. Kenyataannya aqu hanya memandangi badan seksi Bernike dan membaygkan andai bisa menidurinya walau hanya semalam. Lamunanku akhirnya dikejutkan oleh perkataan Miss Bernike,”Oke, tutup bukunya. Kita adakan ulangan !”. Sial ! Aqu jelas tak siap karena memang tadi tak memperhatikan pelajaran yg dia berikan. Pelajaran Bahasa Inggris berakhir. Dan waktu hasil ulangan diberikan, aqu harus remidi. Sebelum meninggalkan kelas Miss Bernike berpesan agar aqu menemuinya di kantor waktu pulang sekolah.

Singkat cerita akhirnya aqu menemui Miss Bernike di kantor waktu pulang sekolah. Sebagian besar guru sudah pulang karena memang sekarang adalah waktunya pulang. Setelah aqu dipersilahkan duduk, Miss Bernike langsung menegurku lantaran aqu remidi. “Saya heran ya kok kamu bisa remidi ? Dan yg jadi masalah adalah waktu saya perhatikan tadi kamu memperhatikan waktu saya mengajar. Tapi kenapa bisa remidi. Apa yg amu perhatikan tadi ?”. Pertanyaan seperti itu jelas membuatku bingung harus jawab apa. Masa iya mau dijawab kalo aqu hanya memandangi badan seksinya. Nggak mungkin banget kan ?!. Akhirnya Miss Bernike berkata ,“Oke. Itu tak penting. Yg jelas kamu nanti malam harus ke rumah saya. Saya ingin tahu cara belajar kamu. Jangan sampai tak datang !”. Belum sempat aqu berkata apa-apa, Miss Bernike sudah meninggalkan kantor.

Malamnya aqu emang benar-benar ke rumah Miss Bernike. Setiap Malam Minggu aqu memang selalu diberi kebebasan untuk keluar. Waktu aqu mengetuk pintu, ternyata anak Miss Bernike yg membuka pintu. “mama kamu ada?”, tanyaqu kemudian. “Ada. Masih di kamar”, jawabnya. Kemudian anak iu masuk lagi memanggil ibunya. Tak lama kemudian Miss Bernike keluar. Dan aqu benar-benar terpana waktu melihat Miss Bernike. Dia memakai kaos putih yg sangat ketat hingga badan seksinya terlihat jelas. Dan juga celana ketatnya yg sangat pendek hingga tak mampu menyembunyikan kemulusan pahanya. Benar-benar tak terlihat seperti cara berpakaian seorang guru.

agen558-2

PahaDada

Miss Bernike segera mengajakku belajar di ruang tamu dan menyuruh anaknya untuk segera tidur. Tetapi selama 20menit belajar, aqu tak bisa konsentrasi. Miss Bernike yg duduk sangat dekat dgnku membuatku berdebar-debar. Apalagi pahanya yg sejak tadi menempel di pahaqu. Sepertinya dia sengaja melaqukan itu. Entah apa yg merasuki pikiranku, tiba-tiba tanganku tergerak untuk meraba paha mulus Miss Bernike. Tak beberapa lama Miss Bernike menoleh ke arahku. Aqu langsung tersadar dgn apa yg telah kulaqukan. Dan sudah siap jika tiba-tiba kena tampar karena berani melaqukan tindakan kurang ajar terhadap guru. Tetapi ternyata tak. Miss Bernike malah tersenyum kepadaqu dan mengedipkan sebelah matanya kepadaqu dgn manja. Hal itu membuatku semakin berani untuk meneruskan perbuatanku.

Aqu mendorong badannya tidur terlentang di sofa . Lalu aqu menindihnya dan membisikkan kalimat di telinganya,“aqu mencintamu Bernike…..”. Bernike tak menjawabnya. Dia hanya memelukku dgn erat. Aqu lalu dgn mesra menggigit telinganya dgn pelan. Tangan kananku segera membelai rambut Bernike dgn mesra. Sementara tangan kiriku mulai meraba-raba buah dada Bernike. Tapi waktu aqu ingin meremas buah dadanya, dia menahanku. “kenapa sayg ?” tanyaqu. “sebentar…”, jawab Bernike dgn tersenyum. Dia lalu menuju pintu dan menguncinya. Lalu dia kembali menuju sofa. Sekarang giliran dia yg menindihku. “sekarang sudah aman”, katanya lalu tersenyum. Aqu lalu mencium bibirnya. Tetapi Miss Bernike malah membuka mulutnya menyuruhku memagut bibirnya dan kini bibir kami berpagutan dgn ganas. Tangan kiriku pun segera meremas-remas buah dada Bernike yg tadi sempat tertunda. Dan tangan kananku meremas-remas bokong Bernike yg montok.

“Saygku….puasin aqu ya… Suamiku sudah hampir satu tahun nggak pulang. Aqu butuh cumbuan dan belaian dari seorang lelaki..”, kata Bernike dgn mendesah. Memang wajar jika Miss Bernike kesepian. Suaminya yg kerja pelayaran hanya pulang paling cepat setengah tahun sekali. Aqu terus meremas-remas buah dada Bernike. Setelah kira kira 5 menit, aqu segera membuka kaosku dan celanaqu. Begitu juga dgn Bernike. Kali ini dia hanya memakai bra dan CD. Dan aqu sangat terpana melihat badan Bernike.

Badannya sangat seksi dan mulus. Tiba-tiba saja Bernike meremas batang kemaluanku yg sudah tegang sejak tadi. “jangan cuma dilihat, sayg. Malam ini puasin aqu”, kata Bernike sembari tersenyum. Kemudian dia menuntun tanganku untuk melepas CD nya. Lalu mendorong kepalaqu dan menghentikannya tepat di depan kemaluannya yg sangat harum. “malam ini, itu milikmu….” . Aqu tak hanya diam. Sedetik kemudian lidahku sudah menjilati liang keperempuanan milik guruku tersebut. Bernike terlihat terangsang. Tangannya menekan kepalaqu ke liang kemaluannya. Bernike terlihat kecewa waktu aqu menghentikan jilatanku. Tetapi dia kembali terdiam waktu tangan kananku sudah menemukan ‘mainan’ baru.

Ya, jari-jari tanganku sudah mengelus-elus bibir kemaluan Bernike yg ditumbuhi bulu-bulu tipis. Tak lama kemudian aqu berhasil menemukan klitorisnya. Waktu aqu sentuh dgn jariku, dia terlihat menggelinjang. kami berganti posisi. Kali ini aqu yg berada di atas. Tangan kiriku menahan posisinya. Sementara tangan kananku masih terus mengocok kemaluannya yg sudah basah. Bernike terus menggelinjang.

PahaDada

Dia melepas bra nya sendiri dan meremas-remas buah dadanya sendiri. “aaaaahhhh, sayg. Jangan siksa aqu sayg…. nikmat….ahhhhh”, rancaunya tak terkendali. Aqu mempercepat gerakan jariku di kemaluannya. Semakin cepat dan Bernike terlihatnya akan segera mencapai klimaks pertamanya. “aaaaaaaahhh”,jeritan Bernike akhirnya keluar bersamaan dgn muncratnya cairan cinta dari lubang kenikmatan Bernike. Badan seksi Bernike pun terlihat berkeringat. “Aqu kagum padamu. Jarimu saja sudah membuatku mencapai puncak kenikmatan. Bagaimana jika ini yg masuk ke memekku…”, kata Bernike sembari melepas CD yg kugunakan. Lalu dgn mesra dia menyepong kemaluanku. Aqupun terangsang hebat. Bibir seksi Bernike yg selama ini kukagumi sekarang sedang mengulum kemaluanku. Tapi waktu aqu hampir klimaks aqu mencabut kemaluanku. “kenapa sayg…?”, tanya Bernike. Aqu tak menjawab. Aqu hanya mendorong Bernike agar terlentang di sofa.

Lalu aqu menjepit kemaluanku dgn buah dada montok milik Bernike. Aqu menggesek-geskkan kemaluanku di belahan dada Bernike dan kenikmatan yg tiada tara membuatku klimaks. Air mani yg keluar cukup banyak. Aqu mengoleskan seluruh air maniku ke buah dada Bernike. Bernike terlihat tersenyum dgn apa yg kulaqukan. Kemudian tanpa disuruh dia langsung bangun dan menjilat sisa sisa air mani di kemaluanku dgn mulutnya. “bagaimana sayg ? Kamu puas ?”,tanya Miss Bernike dgn mesra. “Aqu mencintaimu Bernike….. aqu sangat ingin memilikimu…..”,kataqu. Dia mengalungkan tangannya di leherku. Kemudian mencium bibirku dan kami kembali bepagutan. Semetara tangan kananku terus meremas remas buah dada milik Bernike.

Setelah puas,Bernike bekata,” sekarang waktunya kita mulai permainan yg sesungguhnya….” . Dia lalu menuntunku masuk ke kamar. Setelah itu dia mengunci pintu dan sekarang kami berdua merasa lebih nyaman. Ya, ternyata anaknya memiliki kamar sendiri. Tak ikut tidur dgn mamanya. Dan itu membuatku merasa lebih leluasa untuk bercumbu dgn Bernike. Aqu membopong Bernike ke kasur dan aqu menindihnya. Bernike memelukku dan aqu membelai rambutnya. “sudah siap ?”,tanya Bernike.

“tapi Bernike…., aqu belum pernah melaqukan ini….”. Aqu memang sering melihat video porno. Tetapi berhubungan layaknya suami istri seperti ini adalah pengalaman pertama bagiku.

Bernike meyakinkanku “Wah, asyik dong. Aqu adalah orang pertama yg merasakan kontolmu yg besar ini. Dan sekarang ucapkan selamat tinggal untuk status perjaka mu. Aqu akan memberi kenikmatan yg tak akan pernah kamu lupakan…..” . Kemudian tangannya menuntun kemaluanku masuk ke lubang kemaluan nya. Dia berkata lagi,”ooohh, punyamu lebih besar daripada punya suamiku sayg…… Sekarang, dorong kemaluanmu untuk menembus liang kenikmatan ini….” . Aqu pun dgn pelan mendorong kemaluanku. Sedikit sulit karena selain kemaluanku yg luayan besar tetapi juga walau Bernike sudah bersuami, dia sudah tak melaqukan hubungan intim hampir satu tahun. Aqu terus mencobanya. “ahhhh, ayo sayg. Terus……sedikit lagi…..awwwww…ahhhhh….”, desah Bernike.

PahaDada

Aqu terus mendorong kemaluanku dan blessssss…. Aqu berhasil memasukkan seluruh kemaluanku ke dalam kemaluan Bernike dibarengi dgn jeritan Miss Bernike. Aqu mendiamkannya sebentar. lalu aqu mulai melaqukan gerakan maju mundur. Bernike pun menambah kenikmatan bersenggama dgn goygan bokongnya. Semakin lama aqu mempercepat gerakanku.

Begitu juga dgn Bernike. Aqu merancau tak terkendali “sayg…. aqu akan klimaks sayg……aaaahhhhh” . “sabar sayg….. tahan dulu. Kita klimaks bersama-sama”, kata Bernike. “tapi aqu sudah tak tahan sayg…. aaaahhhhh……”, akhirnya aqu pun klimaks dan menyemprotkan banyak sekali sperma di dalam liang keperempuanan Bernike. Kemaluanku terlihat berdenyut -denyut. Sementara Bernike belum klimaks dan terlihat kecewa. Bernike mendorongku. “aaah, payah kamu…. !“, kata Bernike sembari memasang muka kecewa. “maafkan aqu sayg…..”, kataqu lalu mengecup bibir Bernike.
“lagi yuk.. aqu masih pegen ni..” kata Bernike sembari mengelap kemaluanku dgn tissu. “capek sayg?”, tanya Bernike penuh perhatian. Aqu hanya menggeleng. “ayo kita mulai lagi”, kata Bernike sembari menindihku. Kami kembali melaqukan hubungan intim tetapi kali ini posisi Bernike ada di atasku.

Bernike mulai menggerakkan badannya maju mundur. “ooowwww, nikmat sekali sayg….. ahhhh…ahhhh…ahhhhh” desah Bernike dgn mesra. Terlihatnya dia sengaja memancing birahiku agar cepat muncul. Kemaluanku pun kembali tegang. Tetapi kali ini aqu berusaha untuk lebih menahan nafsuku. Aqu tak ingin kembali kalah oleh perempuan yg sekarang berada di atasku. Gerakan Bernike semakin cepat. “ohhh, nikmat sekali. Ohhh sayg, sudah lama aqu tak merasakan hubungan ini…”.

Aqu hanya tersenyum. Kali ini kami berbalik posisi. Giliran aqu yg berada di atas. Aqu memompa badan Bernike. Dia hanya merancau ,“ah…ah…ahhh.ahhhh…..ayo sayg semakin cepat sayg….ayo cepat……ahhhhh” . Aqu mempercepat gerakanku. Aqu merasa akan segera klimaks. Tetapi terlihatnya Bernike juga akan segera klimaks. “sayg….aqu akan keluar……ahhhhh…..”, kataqu. “owwwhh, aqu juga akan klimaks”,jawab Bernike. Aqu terus mempercepat gerakanku. Keringat terlihat keluar dari badan kami berdua. “sayg….aqu keluarrrrrrrr…..”, kata Bernike. Dan tak beberapa lama kemudian kami klimaks bersama sama. Crot…crot….crottt…. . sperma yg keluar sangat banyak seakan memenuhi kemaluan Bernike yg sempit. Badanku sangat lemas.

Kami kelelahan. Terutama aqu yg malam ini sudah klimaks tiga kali. Bernike berkata,“sayg….nggak nygka kamu hebat sekali malam ini. Inilah kenikmatan yg sangat aqu dambakan… kenikmatan yg tak pernah aqu dapatkan dari suamiku…. jangan pernah tinggalin aqu sayg….” . “Aqu tak akan pernah meninggalkan perempuan secantik kamu Bernike. Aqu tak peduli walaupun kamu adalah guruku… tapi aqu harus segera pulang Bernike”, kataqu. Tetapi Bernike menahanku,“jangan sayg…. tidurlah di sini malam ini”. Aqu lalu mengambil hp dan menelfon mama kalo aqu tidur di rumah kawan. Bernike terlihat senang. Aqu pun mengambil selimut dan tidur dgn posisi kemaluan masih menancap di kemaluan Bernike.
PahaDada

agen558-2Paginya aqu terbangun pukul 04.20 . Badanku terasa pegal semua. Aqu membangunkan Bernike,“sayg…..bangun sayg !”. “Kenapa…? ini kan hari Minggu. Kamu ketagihan memekku ya?”,rayu Bernike. “Aqu taqut kamu hamil Bernike”,kataqu. “Kenapa harus taqut ? Yg perlu kulaqukan jika aqu benar-benar hamil adalah menceraikan suamiku dan menikah dgnmu”,jawab Bernike dgn enteng. “apa?! aqu masih sekolah. Aqu tak siap jka harus menikahimu”, kataqu. Bernike berkata lagi,”masa bodoh dgn itu. kamu menumpahkan seluruh spermAmu ke rahimku. Jika aqu hamil, ini anak kita saygku….”. Belum sempat aqu berkata apa-apa, Bernike sudah mengarahkan kemaluanku masuk ke Dalam kemaluannya dan berkata,”main lagi yuk. Biar semangat…”. Kami pun bermain satu ronde pagi itu. Waktu permainan selesai, jam menunjukkan pukul 05.04. Aqupun ingin pulang tetapi masih kepikiran dgn kemungkinan Bernike hamil. Tiba-tiba Bernike mengecup bibirku dan berkata,”Kamu masih kepikiran dgn perkataanku ya? kamu nggak perlu taqut aqu hamil. Kecil kemungkinan aqu hamil karena kemarin dan hari ini bukanlah masa suburku. Rahasia ini aman kok ! minggu depan datang lagi ya” .


agen558-2

UNTUK REGISTRASI DAN PENDAFTARAN.

Hubungi Kami:

Situs & Livechat : http://www.agen558.com
Pin:  5591B4C3
YM : cs_agen558@yahoo.com
SMS/WA:+6281-2696-2889
Line : agen558.com

Perselingkuan Panas

PahaDada

Agen558.com –  Mas Graha akan pulang ke Jakarta 2 hari lagi. Mudah-mudahan aqu telah sepenuhnya segar dan tak ada sisa-sisa apapun yg bisa dibaca pada badanku atau mengundang kecurigaan akan penyelewenganku. Pukul 10.30 setelah sarapan pagi, aqu menyempatkan diri menyiangi dan menyiram tanaman kembangku. Ini merupakan acara rutinku dalam rangka mengisi kegiatan di rumah. Sekitar pukul 12 siang, setelah mengurus tanaman, terasa perutku sangat lapar. Dari lemari es kuambil persediaan sirloin steak 200 gram di chiller. Dalam 20 menit aqu telah menghadapi seporsi besar steak lengkap dgn tumis buncis dan kentang goreng. Dgn penutup orange juice dan segelas besar air mineral, aqu makan besar siang ini sampai kekenygan. Kubaca koran pagi yg belum sempat kubuka lembaran-lembarannya.

Pukul 3 siang, tetanggaqu, Bu Tommy mampir ke rumahku untuk meminjam alat pemotong bunga. Di halaman, kami mengobrol ttg berbagai tanaman yg kurawat sampai selalu nampak sehat dan berbunga indah. Pada pukul 4 sore terdengar dering teleponku. Bu Tommy pamit, kemudian aqu masuk mengangkat telepon itu.

“Selamat sore, Bu Graha”, kudengar suara bariton di ujung telepon.
“Masih ingat saya..,?”
Aqu ingat, itu Pak Dwi, boss di kantor suamiku. Ada apa ini? Pikiranku dipenuhi tanda tanya.
“Selamat sore Pak Dwi, apa kabar?”.
“Baik, Bu. To the point saja ya. Ada dua hal yg ingin saya sampaikan, Bu”.
Aqu langsung jadi deg-degan nih, ada apa. Tumben-tumbenan seorang boss besar seperti Pak Dwi meneleponku, kok langsung berbicara serius seperti ini.
“Pertama, saya dapat laporan dari Pak Samin penjaga villa saya di Bogor”. Degg, rupanya rahasiaqu petualanganku dgn teman-teman suamiku terbongkar. Matilah aqu, pikirku.
“Kedua, saya barusan menelepon Pak Graha”.
Wah, benar-benar celaka, kiamat, pikirku.
“Saya minta Pak Graha menyelesaikan tugasnya sampai mendapatkan Surat Ijin Prinsip dari Pak Bupati Kalimantan. Itu artinya Bu, Pak Graha baru bisa sampai Jakarta hari Rabu, 2 hari mundur dari rencananya yg harusnya Senin besok telah pulang”.
Aqu mencoba mencari kaitannya antara hal pertama dgn hal yg kedua. Ah, aqu mulai curiga. Aqu membaca ada tanda-tanda yg tak benar dari Pak Dwi. Rupanya serigala-serigala kelaparan terus berkeliaran mencari mangsanya.
“O iya Pak. Ya bagaimana lagi, khan Mas Graha memang harus menyelesaikan tugasnya”, aqu berusaha menanggapinya dgn ringan dan tenang.
“Benar Bu, dan saya telah merencanakannya, apabila Pak Graha berhasil menyelesaikan tugasnya, akan mendapatkan surprise dari perusahaan, kami telah sepakat untuk mengangkatnya jadi Wakil Direktur. Itu artinya dia akan mendapat loncatan promosi 2 kali. Hal tersebut belum pernah kami berikan kepada karyawan lain sebelumnya. Tetapi tolong untuk hal ini menjadi rahasia kita dulu ya Bu, biar Pak Graha merasakan surprisenya itu”.
“Ooo, baik, Pak. Terimakasih, Pak”.
Wah, Pak Dwi berusaha memamerkan kebaikan hatinya.
“Tt.., tte.., tapi.., B.., Bbu.., ini berkaitan dgn hal yg pertama tadi. Saya rasa kita perlu membicarakannya berdua, Bu”.
“Maksud Bapak?”, aqu menempatkan diri seakan aqu tak tahu apa-apa dgn yg dimaksudkannya laporan Samin.
“Begini Bu Graha, Ibu telah tahulah. Samin bilang bahwa selama 2 hari berturut-turut karyawan saya yg teman-teman Pak Graha datang bersama Ibu di villaqu. Jadi.., yy.., ya.., inilah yg saya maksud dgn kita perlu membicarakan berdua, agar Pak Graha tak tersendat promosinya di kantor”.
“Saya telah booking President Suite Grand Hyatt di jalan Thamrin, jam 5.30 sore ini. Bu Graha saya tunggu di Dome Coffee Shop. Jangan dilewatkan ya Bu.
Saya tunggu lho”, nadanya memerintah, seakan aqu bawahannya dan dia bisa seenaknya memerintahku.

agen558-2

PahaDada

Aqu masih bengong saat Pak Dwi menutup teleponnya tanpa memberikan kesempatan padaqu untuk berbicara. Dara serigala kelaparan bermental pemeras, umpatku dalam hati. Yg satu ini adalah serigala tua yg sangat kelaparan sesampai begitu mendengar kasusku saat berada di villanya di Bogor, dia merasa mendapat kesempatan. Dia pikir bisa seenaknya memilih dan menetapkanku sebagai mangsanya. Pak Dwi itu adalah boss suamiku yg walaupun fisiknya masih gagah, sehat dan segar tetapi usianya telah gaek, mendekati 60 tahun.
Bagaimana lagi ini. Gara-gara Rendra, aqu dibuatnya super sibuk selama beberapa hari ini. Tetapi kalau masalah ini sampai pada Pak Dwi, terus terang sama sekali tak pernah kuperhitungkan sebelumnya. Dgn mendengar pembicaraannya di telepon tadi, kalau kuabaikan akan bisa mengancam posisi suamiku di kantor. Apa yg sesungguhnya telah terjadi? Dgn penuh tanda tanya, ragu, taqut, khawatir, kesal sebab orang-orang mendekatiku dgn cara memeras, akhirnya aqu pergi mandi dan bersiap-siap memenuhi panggilan Pak Dwi.

Di atas taksi yg menuju ke Grand Hyatt Hotel di Thamrin, aqu mencoba membaygkan sosok Pak Dwi. Menurut Mas Graha, walaupun lahir di Jawa dan Bapaknya orang kraton Solo, tetapi dia masih memiliki darah keturunan dari timur tengah. Memang dari profil wajahnya, cukup nampak garis-garis Semitnya. Kalau sedang berkumpul, Ibu-ibu para istri teman-teman Mas Graha sering berbisik-bisik bahwa Pak Dwi mirip Omar Syarif, bintang film Mesir yg memang tampan. Dalam beberapa kali kesempatan mendampingi Mas Graha, kuperhatikan mata Pak Dwi yg tak lepas-lepasnya memandangiku walaupun istrinya, Bu Retno yg terkenal cantik pula di masa mudanya, yg katanya juga masih keturunan raja Solo itu selalu berada di sampingnya. Aqu telah tahu dan terbiasa akan hal seseperti itu. Para lelaki memang selalu haus. Apa lagi kalau mendengar perkataan Rendra, menurut istri-istri teman sekantor Mas Graha, aqulah yg paling cantik dan sensual. Bibirku mengingatkan para lelaki itu pada bibir Sarah Ashari. Demikian pula rambutku yg panjang yg lebih suka kulepas terurai.

Dgn kepalaqu yg hanya setinggi dadanya, aqu perkirakan tingginya mendekati 180 cm. Tetapi dgn badannya yg cukup gemuk, aqu kira bobotnya tak kurang dari 75 kg, dgn tangan-tangannya berbulu lebat. Seperti lebatnya orang timur tengah pada umumnya. Kulitnya yg putih, membuat bulu-bulu itu nampak kontras tumbuh di atas kulitnya. Aqu sering tergetar kalau melihat lelaki berbulu seperti itu. Aqu tak bisa membaygkan seperti apa bulu-bulu yg ada di bagian badan lainnya. Suaranya yg bariton, menambah wibawa kepemimpinannya selaqu Direktur Utama perusahaan tempat Mas Graha bekerja. Dia juga nampak sangat matang, baik sebagai pimpinan, maupun sebagai pribadi. Pak Dwi, orangnya nampak sangat “gentleman”. Beberapa kali dia membukakan pintu mobilku saat aqu sedang bertandang ke rumahnya dalam rangka kegiatan antar para istri karyawan perusahaannya, di mana Ibu Dwi selaqu ketuanya.
Sedikit banyak aqu juga tahu, “booking” President Suite Grand Hyatt itu, setaknya sekitar US$ 2.500 yg harus dia keluarkan dari koceknya. Itu artinya tak kurang dari Rp. 20 juta semalam atau 4 bulan gaji Mas Graha yg penuh kerja keras itu. Dan pengeluaran sebesar itu hanya untuk bisa “ngeloni” aqu, istri Mas Graha, bawahannya. Ada juga terselip sedikit rasa tersanjung di hati kecilku dgn apa yg telah Pak Dwi laqukan untukku itu.

Persis di depan pintu kaca besar di Dome Coffee Shop Grand Hyatt, Pak Dwi menjemput dan membukakan pintu Dome untukku.
“Selamat sore, Bu”, ucapannya yg bariton dan begitu “gentleman” itu sambil sedikit menundukkan kepalanya.
Dia telah “reserve” meja persis di depan kaca lebar yg menghadap ke patung Selamat Datang yg terkenal itu. Kepada pelayan dia memesan sesuatu. Dia tersenyum kepadaqu.
“Bu Graha, jangan tanya pesanan saya ya. Ini sengaja tak saya tawarkan pada Ibu. Ini surprise dari saya untuk Ibu sebab Ibu sangat cantik malam ini, eh, sore ini”, dan tanpa ragu, tangannya yg berbulu lebat itu meraih tanganku dan meremasnya. Ah.., Bapak ini PD-nya kelewatan, begitu bathinku.

“Dan maaf, saya telah merepotkan Bu Graha”, lanjutnya berkaitan dgn pemerasan lewat telepon yg dia laqukan sore tadi padaqu.
Dia perhatikan aqu sepenuh mata dan hatinya. Dia juga perhatikan aqu sepenuh laparnya seekor serigala lapar. Aqu merasa seakan hendak dikunyah-kunyahnya. Seakan hendak dia telan bulat-bulat. Aqu merasa dia seakan mendapatkan makanan yg terlezat dgn mendapatkanku sekarang ini. Kurasa air liurnya tak lagi tertahankan untuk mulai merobek-robek diriku. Aqu berusaha tenang, walaupun sesungguhnyalah aqu merasa “nervous”, agak taqut, agak gemetar. Tetapi, tak tahu juga, hatiku sekaligus juga tergetar. Bahkan gigiku terasa gemerutuk saling beradu sebab gemetarku.

PahaDada

Aqu merasakan seperti ada birahi yg menjalar pada diriku. Birahi selaqu wanita yg harus menyerahkan diri dan menyerahkan badannya ke meja altar untuk dijadikan korban hasrat dan mangsa serigala yg lapar. Tetapi anehnya, situasi yg harusnya menyeramkan itu justru menyimpang menjadi sensasi erotik yg membakar darahku. Dan sensasi erotik itu menimbulkan perasaan nikmat penuh birahi yg terasa mulai merambati libidoku. Kenikmatan birahi sebab aqu telah ditaklukkan, dikalahkan, ditawan, ditundukkan, diinjak-injak, diperbudak dan dimusnahkannya harga diriku. Penyelewenganku di villa Bogor itu telah membangunkan Pak Dwi, serigala tua yg kelaparan ini.

Sepintas kuperhatikan dia. Nampak sangat segar dan penuh percaya diri. Yg pasti, kecukupan dan kesenangan duniawinya tak akan pernah kekurangan. Badannya yg besar tetap nampak serasi, tak terlampau gemuk dan sedap dipandang mata, khususnya oleh orang yg sedang dilanda birahi sebagai orang taklukan seperti aqu sekarang ini. Gerakannya lincah, tanpa nampak adanya kendala usia pada badannya. Dgn “trengginas” dia tarik kursi dan membimbingku untuk duduk. Senyumannya menebar keluar dari wajahnya yg memancarkan nuansa rasa tenteram dan terlindungi bagi siapapun yg dekat dgnnya.

Kulitnya yg putih, dgn wajah sedikit mengingatkan wajah-wajah timur tengah seperti Omar Syarif itu, memancarkan kesan sebuah pribadi yg anggun dan penuh kharisma. Dgn brewok dan kumis yg selalu tercukur licin sampai menyisakan baygan keunguan dari akar rambutnya pada dagu dan sekitar mulutnya, wajah Pak Dwi nampak sangat jantan. Sangat macho. Alisnya yg tebal dan matanya yg nampak tajam seperti elang gurun terasa menusuk langsung ke jantungku.
Kembali aqu tergetar sampai gigiku bergemerutuk. Aqu menggigil, tetapi bukan oleh dinginnya ruang AC Coffee Shop Dome ini. Sedikit botak di kepalanya justru menunjukkan daya tarik seksualnya. Para wanita akan membaygkan alangkah indahnya apabila botak seperti itu berkesempatan bersandar pada buah dada mereka. Giginya yg putih dan sangat terawat nampak membuat gaya bicara maupun senyumannya menjadi simbol keramahan, kesantunan dan penuh sensualitas.

Sore ini beliau memakai kemeja lengan pendek dgn gambar bunga-bunga yg menunjukkan bahwa dia sangat santai, tak ada beban, tak ada masalah-masalah yg menggelayutinya. Tercium sedikit semburat parfum khusus untuk lelaki. Tak dominan, sesampai bau keringat alaminya masih bisa tercium lewat hidungku.
“Bu Graha sungguh sangat cantik. Sangat mempesona”, begitu dia mengawali pembicaraannya sesaat setelah membisikan pesanan rahasianya pada pelayan Dome.
Matanya tak pernah melepaskan pandangannya padaqu, pada bagian-bagian badanku. Aqu tersenyum dan hatiku membumbung ke langit penuh bunga-bunga. Diraihnya tanganku dan diremasnya dgn penuh keyakinan bahwa aqu telah menyerah menjadi tawanannya. Aqu tak mampu lagi berkutik, dan siap menjadi budaknya untuk dikorbankan pada meja altar hasrat lapar birahinya.

PahaDada

Bulu-bulu tangannya sempat menyentuh tanganku. Aqu langsung merinding. Aqu tak mampu berpikir apa-apa lagi. Otakku langsung tumpul oleh darahku yg telah dikuasai birahi pula. Kurasakan mata Pak Dwi tak sedetikpun melepaskan pandangan hausnya dariku. Ada sedikit rasa kikuk pada diriku. Adakah yg salah? Atau semata pandangan penuh kekaguman? Tetapi aqu berusaha yakin bahwa yg kedualah penyebabnya. Untuk sore ini aqu memang sangat hati-hati dalam menjaga penampilanku. Aqu memilih dgn cermat apa-apa saja yg akan kupakai. Bagaimanapun aqu adalah seorang wanita yg selalu merindukan kehormatanku. Setak-taknya mata lelaki yg terpesona akan kecantikanku pasti akan sangat membahagiakanku.

Setelah mandi air panas dgn segala pewangi alami yg biasa kugunakan, aqu menyiapkan pakaian, aksesori, parfum yg tepat dan make up. Beberapa pilihan dan model baju, rok dan sepatu kupertimbangkan masak-masak. Aqu ingin tampil sebagai wanita yg cantik, penuh percaya diri, sensual dan seksi namun anggun. Terakhir, ada 2 baju yg harus kupilih, modelnya hampir sama. Hanya warnanya yg berbeda, yg satu merah muda, dan yg lainnya ungu tua. Akhirnya kupilih yg ungu tua. Ini cocok dgn deskripsiku tadi, penuh percaya diri, sensual dan seksi namun anggun. Model ini mirip dgn yg kupakai saat berjalan bersama Rendra. Dgn tali kecil tipis pada bahuku yg akan sangat menawan para lelaki, begitu komentar suamiku saat aqu memakai baju ini, kain sutra Thailand yg mahal, membuat lekuk badanku membayg dgn sangat lembut. Bagi lelaki penuh selera, begitu kubaygkan lelaki seperti Pak Dwi ini, penampilanku akan sangat menyentuh selera birahinya. Aqu tersenyum sendiri membaygkan kepuasan yg akan kuraih, demi melihat Pak Dwi yg bersimpuh memujaqu.

Untuk bibirku yg tak perlu diragukan lagi mirip bibir Sarah Ashari ini, kulekatkan lipstick Margo yg membuat kesan wet look sampai seakan bibirku basah dan mencuat siap menerima lumatan bibir lelaki manapun. Aqu juga memakai parfum La Roche yg sangat lembut tetapi tak akan pernah terlupakan selama bertahun-tahun oleh siapapun yg sempat menyentuhnya. Mengenai rambutku, aqu paling senang melepas urai rambutku. Aqu merasa kesan kewanitaanku akan sangat nyata sebab rambutku ini. Saat terkena angin, kunikmati geraiannya yg sesekali terbang menutupi mukaqu, dan saat tanganku menyibakkannya akan menunjukkan pesona diriku bagi lelaki yg berada di dekatku. Dan sesekali kusibakkan rambut ke belakang dgn leherku, yg merupakan pesona sensual sendiri yg terpancar dari gayaqu.

Aqu juga memakai sepatu warna ungu tua bertali dgn hak tinggi. Warnanya kebetulan pas dgn warna gaun yg akan kupakai. Ini sesungguhnya sepatu murah. Tetapi aqu memang tak gila merk berkat kesadaran dan pengetahuanku ttg desain yg baik. Kuperoleh sepatu ini dari sebuah boutique kecil di Pondok Indah. Dgn sepatu ini nampak tumitku yg lembut mirip telur ayam kampung dan betisku yg sangat aduhai, begitu kata Indri tetanggaqu, istri pelaut yg lesbi dan sangat suka menggigiti betisku ini.
Makanan pesanan Pak Dwi datang. Pelayan menurunkan makanan tersebut dari meja dorongnya. Kusaksikan surprise Pak Dwi untukku. Pertama, tiram rebus yg diimpor khusus dari Laut Tengah dgn kaviar ikan sturgeon dari sungai Mekong. Disuguhkan di atas kulit tiram keperakan yg cukup besar. Kedua, salad mangga dgn lemon yg dibubuhi prosciutto atau ham Itali. Kemudian segelas red wine. Pak Dwi sangat tepat dalam membaca selera makan impianku. Semua makanan itu sangat ideal bagiku yg selalu mempertimbangkan bobot badanku. Makanan-makanan pilihannya itu tepat energi dan tak mengancam kolesterolku. Aqu tak tahu berapa harga untuk semua makanan super mahal itu. Dan untuk Pak Dwi sendiri, dia hanya minum teh Assam dari India dgn gula batu.

PahaDada

“Silakan, Bu Graha. Ini sekedar apetizer. Nanti makan besarnya di kamar saja.
Saya telah atur”.
Sekali lagi dia meremas jari-jari kiriku. Selangit rasanya aqu tersanjung.
“Aqu memang hanya minum teh seperti ini, dimana saja, kapan saja”.
Diam-diam setiap kali kulirik Pak Dwi. Dia terus menerus menatapku bak serigala yg benar-benar lapar. Tetapi dgn usianya yg telah cukup sepuh, walaupun birahinga datang memacu, dia adalah serigala yg bijak dgn ketenangannya yg luar biasa. Dia sangat menguasai medan dan iramanya yg terus mengalir penuh improvisasi. Dan dia selalu memiliki jalan keluar untuk menghindarkan suasana kebisuan. Sambil meremas jari-jariku, dia menanyakan cat kukuku, gaun sutraqu, warna lipstick-ku, aksesorisku dgn penuh antusias.
Setelah aqu menikmati hidangan hebat ini, Pak Dwi mengajakku beranjak. Pada billingnya kulirik tagihan makannya, US$ 250. Wow, paling tak hanya dalam tempo 5 menit telah kutelan Rp. 1,5 juta masuk ke perutku.

President Suite Pak Dwi berada di lantai 7. Dari tempat ini nampak panorama malam Jakarta yg penuh lampu-lampu. Begitu memasuki kamar, kuperhatikan ruang tamunya yg besar dgn sofa-sofanya yg mewah. Tempat tidurnya King Size yg mewah pula. Pak Dwi duduk di salah satu sofa yg tersedia, kemudian memanggilku, memintaqu duduk di pangkuannya. Dgn kesadaran birahi seorang wanita taklukan dan budak yg harus patuh pada tuannya, aqu mendekat. Bukankah aqu tawanannya, kini?
Belum pernah seumur-umur aqu mengalami tremor sampai gigiku menggerutuk menggigil seperti ini. Seorang bapak, boss yg sangat gentleman, kharismatik, memanggilku dan memintaqu duduk di pangkuannya. Dia begitu percaya diri, bahwa semuanya pasti akan beres. Sikapnya itulah yg membuatku langsung bertekuk lutut. Dan saat telah berada di dekatnya, tangan kanannya menjemput, meraih pinggulku dan dgn penuh kelembutan ditariknya aqu ke pangkuannya. Sambil membenamkan wajahnya ke leherku, Pak Dwi berbisik.

“Bu Graha, kamu sangat mempesonaqu. Bu Graha sangat cantik. Sangat seksi”.
Tangan kananku secara otomatis merangkul bahunya agar aqu tak terjatuh. Sementara itu tangan kanan Pak Dwi meraih paha kiriku agar posisi dudukku lebih ke tengah pangkuannya. Mendengar bisikannya, semangat birahiku langsung hadir. Aqu ingin mendapatkan lebih dari sekedar bisikan di leherku. Tangan kiriku kurangkulkan ke lehernya sampai kedua tanganku saling berpegangan di belakang kuduknya. Posisi seperti itu menggiring wajah Pak Dwi lebih bergeser ke dadaqu. Tenggelam ke bukit-bukit ranumku yg telah setengah terbuka sebab model gaunku yg memang menampilkan belahan buah dadaqu. Pak Dwi menyapukan wajahnya pada dadaqu. Menghirup aroma dari dadaqu itu.

“Paakkhh.., hh..”.
Kurasakan tangan Pak Dwi mulai menyingkap gaunku. Tangannya mengelus pahaqu yg sintal ini. Aqu semakin merinding. Akhirnya kami saling melumat. Ciuman Pak Dwi sungguh maut. Ciuman seorang lelaki yg telah matang dan penuh perasaan serta penghargaan pada lawan mainnya. Dari sebuah ciuman, kurasakan bahwa Pak Dwi bukanlah lelaki egois. Dia mau menerima dan sekaligus juga menikmati saat memberi. Lidahnya yg besar menyeruak ke rongga mulutku, mengorek dan mengisap ludahku sambil tangan kanannya mulai menelusuri celah selangkanganku. Aqu mulai menggelinjang dan serasa terbakar darahku. Birahiku mulai memanas dan menanjak.

Ciuman Pak Dwi membuatku benar-benar terhanyut. Mau tak mau aqu tergerak untuk memberikan respons dgn penuh perasaan juga. Aqu menyedot lidahnya, juga ludahnya. Dan Pak Dwi memberikannya untukku. Aqu rasakan kini, bahwa dgn ciuman saja kita bisa mendapatkan ribuan warna dan nuansa, dimana setiap warna dan nuansa itu benar-benar memiliki bentuk kenikmatan yg berbeda-beda. Dan itu berkat pemahaman akan makna ciuman dgn gerakan anggota badan yg lain yg sama-sama menggiring sensasi kita dalam menapaki birahi yg diharapkan akan terus memuncak.

PahaDada

agen558-2

Saat menyedot lidah dan ludah itulah, tangan Pak Dwi menelusuri tepian celana dalamku di celah selangkanganku. Paduan kerja lidah dan tangan seperti inilah yg membuatku terbawa melayg-layg dalam langit penuh kenikmatan. Dan aqu harus belajar menyelami irama dan makna dalam menapaki birahi ini. Saat aqu harus melaqukan balasan ciuman atau sedotannya, aqu mulai dgn sedikit menggoyg pinggulku, untuk menunjukkan pada Pak Dwi betapa nikmat sentuhan yg dilaqukannya pada tepian celana dalamku itu.

Tak keliru jika dikatakan bahwa seks itu sesungguhnya merupakan suatu seni. Ciuman, rabaan, desahan, rintihan, goygan bahkan sibakan rambut atau cubitan kecil di pinggul atau jambakan rambut sampai lawan cumbunya merasakan pedihnya kulit kepalanya atau cakaran kuku-kuku pada punggung. Hal seperti itulah yg harus dimiliki oleh para suami dan istri. Dan hal seperti itulah yg kuanggap tak pernah secara serius diusahakan oleh suamiku sendiri, Mas Graha. Dia hanya seorang egois yg hanya asyik dgn pekerjaannya. Dia tak pernah mengusahakan bagaimana agar istrinya juga mendapatkan kepuasan. Bukan sekedar kepuasan materi. Dia sama sekali tak pernah merasakan apa sesungguhnya yg kubutuhkan. Lembutnya bercumbu dalam ciuman, nikmatnya sapuan lidah yg sesekali merambah ke daguku, gigitan bibirku pada bibirnya atau sebaliknya, erangan dan desahan kecil dari mulut-mulut kami, remasan-remasan jari-jari lentikku pada kuduk Pak Dwi, rabaan jari-jari Pak Dwi pada tepian celana dalamku yg sesekali melewati batas tepian itu dan menyentuh atau mengusap atau bahkan memilin bibir-bibir kemaluanqu telah menggiring semakin jauh dan tingginya hasrat birahi kami.

Kurasakan Pak Dwi semakin terbakar sampai panasnya juga langsung membakar diriku. Hasrat ini setapak-setapak menanjak. Dan rasanya pada saatnya akan meroket. Aqu telah dapat merasakan kalau pangkuan yg sedang kududuki menggelembung. Kemaluan Pak Dwi telah mengganjal di bokongku. Setiap kali aqu harus memepetkan badanku agar lebih mepet ke badannya. Sekali lagi Pak Dwi menunjukkan improvisasi matangnya.

Dia raih kaki kananku dan diangkatnya sampai kini aqu setengah miring dan setengah membelakangi badannya. Kakiku di sandarkannya ke sandaran jok sofa. Dan akibatnya selangkanganku menjadi terbuka dan gaunku melipat ke pinggulku sampai celana dalamku langsung tampak. Kini tangan kananku yg tak lagi menggelayut pada lehernya kuangkat ke atas belakang jatuh ke tangan sofa kiri tanpa pegangan. Ketiakku terbuka lebar, demikian pula dada dgn belahan buah dadaqu.

Bibir Pak Dwi lepas dari bibirku. Pagutan dan ciumannya berubah menjadi sedotan dan jilatan pada ketiakku. Sementara tangan kanannya mulai meliar meremas kemaluanku dan jari-jarinya mulai menembus lubang kemaluanqu. Aqu mulai mendesah histeris. Tangan kiriku serta merta meraih rambutnya yg setengah botak itu dan meremasnya dgn penuh kegatalan birahi. Betapa kenikmatan birahi dalam kualitas yg sangat tinggi tengah menyeruak dalam relung badanku dan terus memacu libidoku untuk terus menapaki ke jenjang puncaknya. Kegatalan pada liang kemaluanqu memaksaqu untuk menjerit lembut sembari mengangkat pantatku untuk menjemput jari-jari Pak Dwi yg telah menari-nari dalam liang surgaqu.

Tiba-tiba aqu ingin sekali meraba dan mengelus dada Pak Dwi yg tentu bulunya lebat sebagaimana yg kulihat pada tangan-tangannya. Tangan kiriku melepaskan remasan rambutnya menuju ke kancing-kancing kemejanya untuk melepaskannya. Walau hanya 2 atau 3 kancing yg terlepas, telah cukup bagi tanganku untuk menyeruak masuk mencapai dadanya yg gempal penuh bulu itu. Perasaan merinding kembali menyergap hasratku saat tapak-tapak tanganku merasakan lebatnya bulu dada Pak Dwi. Kuraba badannya lebih ke dalam seakan hendak memeluknya. Lagi-lagi aqu mendesah hebat.

PahaDada

Goyagan pinggul serta gerakan pantatku untuk menahan kegatalan serta menjemput tusukan jari-jari Pak Dwi dalam liang kemaluanqu membuat ciuman dan jilatannya semakin meliar pada seluruh wilayah dadaqu. Dgn bantuan tanganku, Pak Dwi kini juga telah menyedot putingku yg semula masih tersembunyi dalam BH-ku. Kenikmatan ciuman dan jilatan Pak Dwi telah mendorong tanganku untuk merogoh buah dadaqu keluar dari gaun dan BH-ku.

Kini irama percumbuan telah berganti menjadi upaya intensif untuk secepatnya meraih puncak kenikmatan. Mulutku meracau hebat menahan derita dan sekaligus siksaan yg nikmat. Pantatku naik turun menjemput jari-jari Pak Dwi agar lebih intens mengocok kemaluanku. Tangan kiriku meremas belikat dan ketiak Pak Dwi yg penuh bulu. Dan Pak Dwi dgn tenang dan dinginnya terus melahap dadaqu, buah dadaqu, puting-puting buah dadaqu sekaligus jari-jari tangan kanannya merogoh liang kemaluanqu dan mengorek-orek saraf-saraf pekaqu di dalamnya.
Tiba-tiba perasaan ingin kencing-ku hadir. Ini hebat sekali. Kami belum melepas selembar pakaianpun dari badan. Tanda-tanda aqu akan kembali meraih klimaksku dimulai dgn perasaan kencingku yg seperti ini. Seperti perasaan yg sama saat aqu disebadani Rendra, Boim, Wendhy dan Basri kemarin, rasa ingin kencingku ini sangat mendesak-desak datang dari dalam kemaluanqu. Mungkinkah aqu akan meraih klimaks hanya dgn ciuman dan permainan jari-jari tangan Pak Dwi?

Pak Dwi sangat pengertian akan apa yg sedang berlangsung pada diriku. Dan beliau pasti juga sangat tahu bagaimana cara menyelesaikannya. Beliau biarkan tangan-tanganku yg liar mencubit dan mencakar-cakar badannya. Beliau bebaskan aqu untuk mendesah dan merintih sekeras-kerasnya. Beliau penuhi keinginanku akan jari-jarinya agar lebih menembus lagi dalam-dalam ke liang kemaluanqu. Beliau tingkatkan sedotan, ciuman dan jilatannya ke ketiakku, ke dada ranumku, ke buah dadaqu, ke puting-putingku. Dan aqu kini bak kuda betina yg penuh kelaparan dan kehausan.

Sampai dgn saat, yg pada akhirnya, klimaksku datang, kuangkat pantatku tinggi-tinggi. Kakiku bergerak kesana kemari merangsek apapun yg bisa kujadikan tempat pijakan agar cairan birahiku bisa tumpah tanpa hambatan. Tangan kananku meraih, meremas dan nyaris merobek kemeja Pak Dwi. Aqu berteriak sekeras-kerasnya dalam kamar President Suite yg sangat mewah dan kedap suara itu. Dan akhirnya, cairanku, cairan birahiku, air mani kewanitaanku meledak, membanjir panas membasahi tangan-tangan Pak Dwi, tanpa lagi ada yg mampu membendungnya.

Yg kuingat setelahnya hanyalah aqu merasakan badanku diangkat ke kasur dan di telentangkannya dgn kaki-kakiku tetap terjuntai ke karpet kamar mewah ini. Kulihat sepintas Pak Dwi menjilati tangan kanannya yg basah oleh cairan birahiku. Kemudian beliau membungkukkan badannya, kepalanya dia benamkan ke selangkanganku dan tenggelam ke celana dalamku. Aqu rasakan kemudian mulut Pak Dwi menyedoti basahnya celana dalamku dan menjilati cairan-cairanku. Aqu biarkan, sementara sambil menikmati derasnya cairan yg belum kunjung habis, terasa kemaluanku mengempot-empot memompa dan memeras cairanku agar keluar dgn tuntas. Aqu menarik nafas panjang. Kumaklumi bahwa Pak Dwi masih menapaki hasratnya dan masih jauh dari puncak kenikmatannya. Aqu juga ingat kata seorang temanku bahwa wanita seperti aqu bukan tak mungkin meraih klimaks secara berturut-turut berkesinambungan, multiple orgasm.

Saat darahku telah sedikit mereda, kesadaranku akan kehadiran Pak Dwi telah pulih secara utuh, sementara aqu yakin dgn kemungkinan multiple orgasm itu, kuraih bahu Pak Dwi ke atas badanku. Kuraih badannya agar menindih badanku. Kucoba kuraih celananya, kulepas ikat pinggang dan kancing-kancingnya. Pak Dwi tahu keinginanku yg juga memang keinginannya pula. Dgn celananya yg masih setengah merosot sampai ke pahanya, dia mengeluarkan kemaluannya dari celah celana dalamnya. Aqu sempat sekilas melihatnya. Ukurannya tak luar biasa. Biasa-biasa saja. Sedikit lebih kecil daripada kemaluan Basri tetapi yg pasti lebih besar daripada kemaluan Mas Graha suamiku. Kemaluan Pak Dwi sangat tegang dan keras. Dalam usia beliau, mungkinkah dia menggunakan obat-obatan khusus agar kemaluannya bisa ngaceng sebegitu rupa?

PahaDada

Aqu merenggang melebarkan pahaqu. Kemaluanku telah siap menerima tusukan kemaluan Pak Dwi. Setelah beliau menempelkan kepalanya tepat pada lubang kemaluanqu dari celah celana dalamku yg sebelumnya dikuaknya, direbahkannya badannya ke badanku. Badanku menggeliat hebat saat disentuh bulu-bulu yg tumbuh di sekujur badannya. Badanku yg lembut dan halus serta relatif kecil ditindih dgn badan Pak Dwi yg putih gempal penuh bulu-bulu. Perasaan merinding langsung merasuki sanubariku. Gelombang hasrat birahiku dgn cepat kembali melandaqu. Kemaluan yg mulai didesakan ke kemaluanku terasa menembus lubang kemaluanqu. Aqu menjerit kecil. Selanjutnya Pak Dwi mulai mengayun.

“Jeng Marinii.., Jeng Marinii, Jeng Marinii, Jeng Marinii..”, dia mendesah dgn memangil-manggil nama asliku. Begitu terus berkepanjangan setiap kali kemaluannya dgn pelan masuk dan dgn pelan pula ditariknya keluar. Cara seperti itu terus terang sangat menyiksa birahiku. Aqu meracau. Mataqu membeliak-beliak. Kepalaqu menggoyg ke kanan dan ke kiri menahan nikmatnya tusukan. Dan rasanya aqu kembali ingin kencing. Kuisyaratkan pada Pak Dwi agar ayunannya dipercepat. Pantatku menggelinjang-gelinjang naik turun ingin mempercepat ayunan dan pompaan kemaluan Pak Dwi ke kemaluanku. Apakah aqu akan merasakan yg namanya multiple orgasm?

Genjotan Pak Dwi semakin dipercepat. Bibirnya langsung mencaplok bibirku. Aqu kembali menikmati ciuman hebat Pak Dwi. Lidahnya yg besar itu menyeruak ke rongga mulutku, mencari ludahku, mencari lidahku. Aqu berikan semuanya. Aqu mengimbangi genjotannya dgn memutar-mutar pantatku dgn baygan dan harapan bahwa kemaluan Pak Dwi akan lebih menghunjam dan menikam kemaluanku dgn lebih keras. Keinginan dan desakan kencing dari dalam kemaluanqu tak mampu lagi kutahan. Aqu menjadi sangat haus.
“Aaahh, Pak Dwio.., ludahi mulutku Paakk, aqu hauuss, oohh..”

Setelah sadar nanti aqu tak habis heran, dari mana keinginan mulutku untuk diludahi Pak Dwi. Aqu terus mengangakan mulutku. Aqu lihat di bibirnya, Pak Dwi membuat gumpalan-gumpalan air liur untuk diludahkan ke mulutku. Dan setiap gumpalan yg jatuh kukecapi kemudian kutelan. Berkali-kali gumpalan itu jatuh dari mulutnya dan kutelan. Birahiku meledak, meletup-letup dan mendongkrak seluruh badanku. Genjotan kemaluan Pak Dwi serta ludah-ludahnya yg dijatuhkan ke mulutku membuatku kehilangan kendali. Klimaksku telah kembali muncul di ambangnya. Dan Pak Dwi sendiri kurasakan juga telah mencapai ambangnya. Kemaluannya terasa semakin sesak memenuhi rongga kemaluanqu. Saraf-saraf pekaqu pada dinding kemaluanqu terus memijat dan meremas batangan kemaluan itu. Dan isyarat terakhirpun akhirnya muncul.

Dgn pagutan keras serta jambakan pedih pada rambutku, kemaluan Pak Dwi menyemburkan lahar panas di dalam kemaluanqu. Kedutan-kedutan besar kurasakan memompa keluar seluruh cadangan air mani dari kandungannya. Air mani Pak Dwi terasa sangat kental dan legit. Entah sebanyak apa yg tumpah ke kemaluanku itu. Dan yg kemudian aqu rasakan sangat luar biasa hebat adalah, pada saat bersamaan, multiple orgasm-ku juga muncrat tak tertahan. Berjuta rasanya. Lebih dalam dan lebih memeras nikmat daripada yg pertama, dgn tanpa mengurangi kenikmatan yg pertama tadi.

Kukuku menancap dan telah membuat punggung Pak Dwi sedikit terluka. Pak Dwi tak mempersalahkan hasratku yg menggila itu. Kami berpacu dalam dera nikmat tak tersampai sampai nafas kami mereda. Keringatku bersimbah walaupun AC kamar mewah ini sangat dingin. Kami langsung rebah. Sepi. Kecuali nafas-nafas panjang kami. Untunglah, akhirnya suhu dingin AC kamar mewah ini menyelimuti badan-badan kami yg baru saja terbakar, sampai dgn cepat kami merasakan kesegaran kembali. Keringatku akhirnya hilang. Kami terlelap dalam nafas dan jiwa yg sangat lega.

PahaDada

Aqu terbangun saat kurasakan ada yg menyibakkan wajahnya di selangkanganku, di kemaluanku. Rupanya Pak Dwi sedang menjilati kemaluanku. Dia menyedot cairan-cairan di dalamnya. Kali ini cairan campuran antara milikku dan miliknya sendiri. Rupanya hal demikian bukan jadi masalah bagi Pak Dwi yg nampaknya termasuk kategori “pengejar kenikmatan” ini. Dan kulihat juga, ternyata kemaluannya belum juga surut dari ereksinya. Aqu jadi teringat, mungkin itu sebab pengaruh obat perangsang seperti Viagra, barangkali.

Dia tahu bahwa aqu terbangun. Aqu mengelus kepalanya. Kubiarkan dia memuaskan dirinya. Bahkan aqu membantunya dgn cara mengeluarkan desahan-desahan. Orang seusia Pak Dwi akan peka terhadap desahan wanita seperti aqu yg usianya sama dgn usia anaknya. Itu memang fantasi seks orang-orang seumurnya. Menyebadani daun-daun muda dan masih mampu menunjukkan kejantanannya dan bahkan masih mampu membuat perawan mudanya blingsatan menahan nikmat.

Aqu lihat kini tangannya meremas kemaluannya sendiri. Ah.., aqu jadi iba. Aqu tiba-tiba merasa bersalah. Apakah aqu belum sepenuhnya memberikan kepuasan padanya. Sementara dia telah memberikan kepuasan padaqu. Aqu telah dibuatnya klimaks berturut-turut sebanyak 2 kali, sesuatu yg tak pernah kudapatkan dari Mas Graha suamiku. Aqu harus menolongnya. Aqu mencoba beringsut menjangkau badannya, kakinya. Tanpa melepas sedotan bibirnya pada kemaluanqu, aqu berusaha menindihkan badanku dan mendekatkan wajahku ke selangkangannya. Aqu mainkan hubungan gaya 69 untuk Pak Dwi.

Nampaknya Pak Dwi langsung menikmati apa yg kulaqukan padanya. Desahannya langsung kudengar. Desahan yg tersendat-sendat, setiap kali aqu melaqukan jilatan ataupun isapan pada kemaluannya, pelirnya, rambut kemaluannya atau yg lain lagi di sekitar selangkangannya. Aqu laqukan dgn sepenuh nikmat yg bisa kurasakan dan kudapatkan. Selangkangan Pak Dwi yg sangat bersih, putih dgn bulu-bulu di pahanya, aromanya, sangat merangsang birahiku. Aqu menciumi dan menjilati selangkangan dan kemaluan Pak Dwi dgn hasrat binalku. Dan ketika saatnya datang, Pak Dwi bangkit. Badanku dibangunkannya dan disenderkannya ke “back-drop” tepian ranjang hotel itu. Diberikannya bantal pada punggungku. Kemudian dia turun ke lantai mendekatkan selangkangannya kepadaqu. Tepat di wajahku. Dgn kaki kirinya naik ke kasur dan kaki lainnya tetap di lantai, dia sorongkan ujung kemaluannya ke bibirku. Dia menginginkanku mengulum kemaluannya. Dia ingin memompa mulutku. Aqu langsung melahap kemaluannya. Aqu ingin Pak Dwi mendapatkan kepuasan dari layananku. Aqu ingin tunjukkan padanya bahwa aqu juga mampu memberikan yg terbaik dari yg terbaiknya yg pernah dia dapatkan dari orang lain.

Aqu terus mengulum sambil menggenggam kemaluannya agar tetap pada lubang mulutku. Kemudian sesekali kukeluarkan dan kusapu kepalanya dgn lidahku. Dgn membeliak sambil mendongakkan kepalanya ke langit-langit kamar mewah ini serta menikmati kulumanku, pantat Pak Dwi maju mundur mendorong kemaluannya untuk merespons pompaan mulutku. Desahan nikmatnya terus datang bertubi. Tangannya meraih kepalaqu untuk memastikan bahwa mulutku selalu mengulum kemaluannya. Tangan kananku berpegang pada pahanya yg berbulu lebat itu. Aqu masih merinding setiap kali tanganku menyapu bulu-bulu itu.

Aqu merasakan betapa Pak Dwi sangat menikmati posisi ini. Beberapa kali jari-jari tangannya mengelus bibirku yg monyong sebab kemaluannya yg menyesaki mulutku. Dia elus-elus bibirku. Mungkin dia melihat dan menikmati keindahan yg kontras dari sebuah bibir cantik, lembut dan mungil milikku ini dgn kemaluan miliknya yg kaqu penuh urat-urat yg dgn kasarnya menyesaki mulut itu. Akhirnya kurasakan kedutan besar dari kemaluan Pak Dwi. Spermanya memancar dari kantongnya. Aqu akan selalu mengenang saat-saat seperti ini. Kedutan inilah yg selalu kunantikan dan kurasakan nikmatnya pada tanganku yg menggenggamnya. Kedutan ini berasal dari saluran besar berupa pipa urat spermanya yg terpompa keluar disebabkan desakan birahi yg telah sampai di puncaknya. Kedutan pertama disusul dgn kedutan kedua, ketiga, keempat, kelima, keenam sampai ke tujuh.

PahaDada

Mulutku sengaja diam untuk menampung semua cairan kental yg tumpah ini. Pada kedutan yg ketujuh, mulutku telah penuh. Aqu menganga dan menunjukkannya pada Pak Dwi. Dia meraih kepalaqu, mengelus dan mencium sedikit bibirku. Dia menginginkanku menelan seluruh spermanya. Dan hal itu langsung kulaqukan sekaligus untuk membasahi tenggorokanku yg selalu haus sperma ini.

Pak Dwi langsung rubuh ke ranjang. Tangan-tangan dan pahanya terentang seluas ranjang King Size itu. Sepertinya aqu sedang menyaksikan beruang putih yg kelelahan setelah menyebadani betinanya. Bulu-bulu dadanya itu, aqu sedemikian terobsesinya, bahkan setelah orang ini menumpahkan demikian banyaknya lendir kemaluannya ke mulutku.
Sementara Pak Dwi masih tergolek, aqu menyiapkan air panas untuk mandi. Kini jam menunjukkan pukul 10 malam. Kami telah berasyik masyuk tanpa jeda selama hampir 2 jam. Dan kepuasan klimaks yg telah kuraih, benar-benar sebab pasanganku, Pak Dwi yg sangat mengenal seninya bercinta. Dia sungguh menikmati setiap detail cinta yg kupersembahkan padanya. Entah itu berupa sentuhan, pijitan, kecupan, jilatan, sedotan dan gigitan yg telah kulaqukan pada lembah dan bukit-bukit badannya ataupun yg sebaliknya dia laqukan pada badanku.

Aqu juga sangat kagum betapa semua ulahnya langsung mendongkrak saraf-saraf erotisku. Hanya dgn permainan jarinya pada klitoris serta dinding-dinding dalam kemaluanqu, Pak Dwi telah melemparkanku ke langit kenikmatan yg sangat tinggi, sampai aqu bisa meraih klimaksku. Aqu sangat puas. Aqu jadi teringat Mas Graha. Kamu juga bisa Mas, pasti bisa kalau kamu tak egois. Aqu telah membuktikan, bahwa kepuasan bukan semata-mata diperoleh sebab ketampanan atau kecantikan, muda, besar ataupun panjangnya ukuran, tetapi lebih kepada wawasan, kecerdasan, sikap toleransi untuk tak egois, selera dan kepekaan, daya imajinasi, kreatifitas dan kemauan yg serius. Aqu ingin berterus terang Mas, kalau saja aqu diberikan kesempatan, aqu selalu siap menolongmu.

Segarnya air panas. Aqu membersihkan semua sisa-sisa persebadananku tadi. Lendir mani dalam kemaluanqu belum sepenuhnya bersih, walaupun Pak Dwi telah menyedotnya tadi. Dgn kimono lembut yg tersedia untuk sepasang tamu kamar mewah itu, aqu keluar dari kamar mandi. Pak Dwi telah bangun, sedang duduk setengah telanjang di sofa. Lagi-lagi aqu tetap tergetar menyaksikan bulu-bulu dadanya itu. Mungkin sebab baru kali ini aqu mendapatkan dan merasakan nikmat birahiku pada saat tersentuh bulu-bulu itu. Pak Dwi bangkit untuk mandi setelah sebelumnya dia menelepon room service untuk menghidangkan makan malam yg menunya telah dia pesan bersamaan dgn kedatangannya sore tadi.

Aqu mengeringkan rambutku. Beberapa saat setelah kami mandi dan sama-sama memakai kimono lembut hotel ini, terdengar bel pintu yg lembut. Pak Dwi membukanya. Dia persilakan para pelayan menyiapkan perjamuan malam di ruang yg tersedia. Aqu beranjak ke beranda menyaksikan lampu-lampu Jakarta. Aqu tak ingin bertemu dgn orang lain. Siapa tahu saja di antara mereka ada yg mengenalku. Sekitar 10 menit kemudian Pak Dwi menjemput dan menggandengku menuju perjamuannya. Wah, kulihat kemewahan Resto Grand Hyatt pindah ke ruang kamar mewah Pak Dwi. Dgn lampu ruang yg cahayanya difus (buram temaram), nampak lilin-lilin di meja perjamuan menjadi sedemikian romantisnya. Aqu sepintas ingat kemewahan suasana makan di kapal Titanic yg tenggelam itu.

Dgn latar belakang desah nyanyian Julio Iglesias, penyanyi Latin yg seksi dan lembut pujaan jutaan wanita itu, suasana dalam ruangan ini menjadi sedemikian fantastik dan eksotik. Aqu merasa Pak Dwi sungguh-sungguh ingin memanjakanku. Aqu merasa sangat tersanjung juga terharu. Sedemikian hebatnya dia menghargaiku. Entah benar atau tak kesanku ini. Atau mungkin juga sekedar pernyataan kepuasannya pada kesediaanku untuk mengulum kemaluannya tadi. Ah, tentu saja bukan. Bukankan makanan ini telah dia pesan sejak awal kedatangannya tadi. Pak Dwi menarikkan kursi untukku. Kusaksikan makanan serba laut yg mahal terhidang berlimpah di meja. Rasanya ini makanan yg cukup untuk orang se-RT. Demikian banyak dan beragam. Ini semua dimaksudkan untuk memicu dan memacu selera makan kami berdua.

Aqu lihat ada lobster dalam “chinese cuisine” yg ditampilkan utuh dgn cangkangnya di atas dagingnya yg telah diiris-iris. Ada kakap yg diiris tipis-tipis untuk dicelupkan dalam saus yg spesial. Ada tumis sirip hiu yg dimasak dalam saus tomat dan arak china. Ada tim kerapu yg pasti masih segar sebab berasal dari aquarium restoran hotel ini, dgn daun bawang, seledri dan arak China juga. Di samping kananku, yg juga sebelah kanan Pak Dwi, kulihat sup kepiting Alaska dgn abalone dan jamur China. Ah, akau tak tahu lagi dgn yg lain. Aqu banyak tak tahu masakan apa saja ini. Tetapi aromanya yg merebak memang langsung membuat perut kami jadi terasa sangat lapar.

Dibuka dgn minum teh cina yg pahit, Pak Dwi di seberang meja sana mengajakku untuk mulai melahap hidangan perjamuan di meja. Di akhir perjamuan kulihat Pak Dwi meraih sebuah botol berisi anggur, menuangnya satu sloki dan menenggaknya. Dia bilang itu adalah anggur tua asli yg dicampur ramuan sehat dari China. Untuk menghargai tawarannya, aqu minum satu sloki. Kurasakan nikmat dan sangat segar. Terasa sedikit keras, tetapi lebih tepat jika disebut lembut. Badanku langsung merasa hangat.

PahaDada

Selesai makan yg berlangsung hampir 1,5 jam sebab juga diisi obrolan santai sana sini sampai makanan benar-benar turun ke perut, kusampaikan pujian kepada Pak Dwi akan selera pilihannya yg hebat pada jamuannya malam ini. Kusampaikan kagumku mengenai lilinnya, Julio Iglesias-nya, lobsternya, kepiting Alaskanya, tumis sirip hiunya, minuman anggur Chinanya dan sebagainya.
Dia hanya tersenyum. Kedua tangannya meraih kedua bahuku yg kemudian bergeser turun menyusup masuk ke kimonoku, yg memang tanpa kancing kecuali tali pinggang yg kuikat kendor. Dia meraih dan merangkul pinggulku sampai membuatku langsung merinding oleh sentuhan bulu-bulu tangannya itu. Kemudian dgn pandangan yg penuh makna dan dalam, dia berbisik kepadaqu. “Bu Graha, semua ini tak ada artinya dibandingkan keindahan dan kenikmatan yg telah dan akan saya rengkuh kembali darimu. Rekah bibirmu, ranum buah dadamu, puting-putingmu, wangi ketiakmu, lembut bokongmu, lembut lubang pantatmu, getas betismu, wangi pahamu, wangi selangkanganmu, legit kemaluanmu, keras itilmu, gurih cairan birahimu. Bu Graha, sungguh-sungguh kenikmatan surgawi yg aqu telah temukan di dunia. Saya, Bu Graha, akan terus menerus memendam hasrat birahi pada Ibu Graha sepanjang hayat saya. Akan selalu merindukan indah dan nikmatnya celah, lembah dan bukit-bukit yg Bu Graha miliki ini. Tak ada kata-kata yg sepadan untuk mengucapkan kenikmatan yg kurasakan selama 2 jam terakhir bersama Bu Graha ini”. Kemudian dia mencium dan melumat lidahku sambil tangannya meremas bokongku.

Wow, aqu mabuk kepayg oleh romantisnya Pak tua ini. Nafasku seketika terasa sesak. Aqu berada dalam keadaan antara tersipu, terharu dan tersanjung. Kalau toh ini semua semata sikap emosi romantisnya Pak Dwi, bagaimanapun ia telah mengucapkannya secara langsung dan lugas kepadaqu sampai pantaslah apabila membuatku yg saat ini bagai tawanannya bertekuk lutut padanya. Aqu sungguh-sungguh sangat tersipu, sangat terharu dan sekaligus sangat tersanjung.

Selepas mencium dan melumat bibirku, tanganku beranjak menyusup ke celah kimononya. Aqu memeluk badannya. Kusandarkan kepalaqu pada dadanya yg penuh bulu itu. Saat bibirku menyentuh puting susunya, secara refleks aqu mencium kemudian mengulum dan menggigit kecil putingnya itu. Bulu-bulu badannya yg lekat pada badanku semakin membuat mabuk kepaygku tak tertolong lagi. Aqu menciumi dada Pak Dwi sambil merintih lembut. Demikian pula Pak Dwi mengeluarkan desahan beratnya sambil tangannya menyapu rambutku. Masih kudengar samar-samar rayuan Julio Iglesias tadi.

Pelan, sambil terus saling berpelukan dan melumat, kami beringsut menuju peraduan. Begitu melewati ambang pintu ruang makan, Pak Dwi merengkuh punggung dan pahaqu kemudian mengangkatnya, menggendongku. Dibawanya aqu dan direbahkannya ke ranjang. Aqu merasa, sekaranglah perjamuan besar yg sesungguhnya bagi Pak Dwi. Aqulah yg akan jadi santapan utama perjamuannya. Dan yg 2 jam pertama tadi hanyalah “apetizer” atau makanan pembuka bagi beliau untuk mengawali jamuan besarnya sekarang ini. Bagai kijang yg telah lumpuh oleh panah beracun cinta yg dilepaskan Pak Dwi, aqu sepenuhnya menjadi tawanan birahinya. Dan aqu sendiri memasuki ambang kenikmatan penyerahan diri. Suatu bentuk kenikmatan hasrat birahi yg hadir sebab ketak mampuan untuk berkata “tak” sebab dgn penyerahan diri tersebut aqu sedang menyongsong pucuk-pucuk birahiku yg penuh kenikmatan.

Tanpa ada yg dilepaskan dari badan-badan kami, aqu dan Pak Dwi kembali bercumbu. Ternyata dia tak langsung menindihku sebagaimana yg kubaygkan sebelumnya. Aqu diseretnya ke tepian ranjang sampai setengah kakiku terjuntai. Pak Dwi bersimpuh di lantai meraih kakiku dan mulai mencium. Mulai dgn kaki kiriku, bibir dan lidah Pak Dwi menyisiri telapak kaki, betis dan jari-jari kakiku. Lidahnya menari di antara celah-celah jari kakiku dan bibirnya mengulum. Gelinjang yg sangat dahsyat langsung menerpaqu. Aqu tak bisa menghindar untuk tak menggeliat-geliat. Kegelian yg amat sangat menyerangku pada setiap jilatan dan sedotan bibir Pak Dwi. Puas menggauli telapak, tumit dan jari kaki kiriku, ganti tangannya meraih kaki kananku. Dia melaqukannya seperti yg sebelumnya dilaqukannya pada kaki kiriku. Dan kembali aqu menggeliat menahan kegelihan yg amat sangat. Aqu juga mendesah dan merintih, meminta agar Pak Dwi menghentikan manuver bibir dan lidahnya. Tapi tentu saja tak bisa, kenikmatan yg demikian saja dipotong di tengah jalan. Justru desahan dan rintihan serta gelinjang kaki-kakiku memacu hasrat Pak Dwi naik semakin menggila. Entah berapa kali aqu dgn tanpa sengaja menendang mukanya.

PahaDada

Setelah puas menciumi dan menjilati kakiku, bibir dan lidahnya merambat ke kedua betisku. Betisku yg getas (keras tetapi mudah patah, atau pecah, sebagai gambaran ttg betisku yg sekal tetapi sangat peka terhadap berbagai sentuhan lelaki) dia lumat sampai kuyup oleh ludahnya. Kegelian yg amat sangat segera menyerangku setiap kali lidahnya yg terasa sedikit kasar itu menyapu pori-pori betisku. Ketika dia terus naik menuju ke kemaluanku sebagai pusat kenikmatan dunia digigitnya lututku. Langsung kakiku berontak kegelian. Tangan-tangannya yg kuat menahan kakiku, sementara bibir dan lidahnya terus melumat lututku. Aqu sangat tersiksa rasanya. Seluruh punggungku seperti dirambati jutaan semut, bulu kudukku berdiri. Perasaan sangat merinding merata pada bagian belakang badanku. Kini tangankulah yg kuharapkan bisa melepaskanku dari siksaan yg nikmat ini. Aqu bangkit setengah duduk. Kurenggut kepala Pak Dwi dan menolaknya dari ciuman di lututku. Tetapi aqu tak cukup kuat, wanita ringkih lemah seperti aqu ini melawan ganasnya beruang yg menancapkan rahang-rahangnya pada lututku ini. Tapi aqu terus melawannya, berusaha menendangnya, berusaha melepaskan diri dari cengkeramannya.

Setelah dari lututku, wajah Pak Dwi merangsek ke atas lagi. Dgn tangan-tangan kuatnya yg memegang erat-erat kedua pahaqu, kembali bibir dan lidah Pak Dwi melumat pahaqu.
“Ooouuhh, jangan, jangan! Aqu bencii, aqu benci kamuu Dwio! Setaann kamu Dwio!”.
Aqu melupakan rasa hormatku pada Pak Dwi, mengumpat sambil berontak sejadi-jadinya. Aqu mengumpat meracau layaknya wanita kemasukan jin. Suaraqu menjadi parau kehabisan suara. Untunglah, Pak Dwi tenang saja. Sangat paham dan tenang. Hebat. Terus saja dia melaqukan hal tersebut. Dia menjadikan dirinya seorang sadistis yg menikmati penderitaan dan kesakitan orang lain. Dan disinilah aqu menemukan apa yg disebut sebagai “sensasi birahi”. Mungkin bagi Pak Dwi yg telah matang dalam petualangan seksnya, dia tahu persis dan sering mengalami reaksi lawan cumbunya seperti begini. Sikapnya yg tenang merupakan bentuk toleransi birahinya agar lawan cumbunya berkesempatan meraih sensasi erotiknya.
Bagiku sendiri, dalam instingku yg sangat jauh, semua upaya perlawananku sebenarnya bukan untuk membuat lawanku menyerah. Semua perlawananku itu adalah merupakan ungkapan kenikmatan tak tersampai yg disebabkan hasrat birahi yg melemparkanku jauh ke langit, ke bintang-bintang nikmat tak terperi. Kenikmatan yg menghempaskanku, jiwaqu, saraf-saraf pekaqu, darahku sampai ke titik yg paling ekstrim.

Seandainya saja sebab kurang pengalaman dan pemahamannya, kemudian Pak Dwi menuruti kemauan berontakku, pasti aqu akan jatuh pada kekecewaan yg berkepanjangan. Bukankah kita sering mendengar, bahwa seorang istri baru bisa meraih klimaksnya pada saat dia diperkosa. Lelaki-lelaki kasar, penuh keringat dan debu telah memperkosanya. Semua perlawanannya sia-sia. Kemaluan lelaki itu dipaksakannya menembus kemaluannya. Dan pada saat kemaluannya telah tenggelam dilahap kemaluan sang istri tersebut, dan sang pemerkosa mulai dgn kasarnya mengayun dan memompa kemaluannya ke kemaluannya, baru sang istri tersebut mendapatkan kenikmatan yg tak terpana. Selanjutnya sang istri ketagihan. Tetapi suaminya tak pernah bisa memberikannya, walaupun suaminya tampan, bersih dan rapi. Tetapi tak lagi mampu memicu birahi istrinya. Mungkinkah hal seperti itu juga mengidap pada diriku?

Pak Dwi tak menyelesaikan ciuman dan jilatannya sampai beliau mendekat ke pangkal pahaqu. Dia lepas ikatan kimonoku. Dgn agak kasar dia balikkan badanku agar tengkurap. Dan dia merangkak diatasku. Dia menuju punggungku. Dia cengkeram bahuku. Dia gigit kudukku. Sekali lagi sebab gelinjang birahiku, aqu berusaha berontak. Untung saja tangan Pak Dwi sangat kuat menjeratku. Ditindihnya aqu dgn badannya yg berbobot 75 kg itu. Dan sedikit banyak hal itu telah membuatku benar-benar kesakitan dan menyesakkan nafasku.

Tetapi saat bibir dan lidah Pak Dwi kembali melumat-lumat, sampai seluruh dataran serta lembah punggungku basah kuyup oleh ludahnya, segala siksaan tadi lenyap berubah menjadi nikmat birahi yg sangat kurindukan. Dgn terus merangsek tangan-tanganku agar tak memberontak, ciuman dan jilatan Pak Dwi melata ke pinggulku. Betapa tak tertahankan kegelianku. Di tempat ini, di pinggulku sedemikian banyak saraf-saraf peka birahiku. Aqu hanya bisa berteriak mengaduh. Umpatanku tak lagi muncul. Hanya teriakan sebab deraan nikmat yg terus memenuhi kamar President Suite Pak Dwi ini. Dan kembali kudapatkan sensasi erotik, saat tangan-tangan kuatnya membelah bukit pantatku disusul kemudian lidah Pak Dwi menjilati duburku. Pak Dwi yg boss besar kantor suamiku ini, kini sedang menjilati lubang pembuangan istri anak buahnya. Lidahnya yg besar dan panjang mencuci analku. Kerut-kerut analku di sedot-sedotnya. Lubang analku disedot-sedotnya. Kemudian aqu ditunggingkannya agar lubang pantatku menjadi lebih terbuka sampai seluruh wajah Pak Dwi mudah tenggelam ke dalamnya.

PahaDada

Aqu telah lelah menggeliat dan berteriak. Suaraqu telah parau. Aqu hanya bisa menangis sekarang. Aqu menangis sebab rasa berjuta nikmat yg berbaur. Aqu menangisi rasa nikmatku. Di sini aqu mulai merasakan bahwa impianku akan hadir kembali. Rasa ingin kencing yg mendesak dari dalam kemaluanqu menandakan bahwa aqu telah dekat dgn klimaksku. Rasa ingin kencing itu terus menanjak. Aqu seakan melihat dataran pasir yg empuk dan luas. Aqu melihat kedamaian dan kelegaan birahi. Aqu ingin mendarat di atasnya. Kurasakan kesempatan klimaksku ini hadir semakin melaju menuju ambangnya. Kuisyaratkan pada Pak Dwi. Aqu menaikkan pantatku menjemput jilatan-jilatan lidahnya. Aqu menaik-naikkan pantatku dan meregangkan kaki-kakiku menahan nikmat gatalnya kemaluanku sebab menahan keinginan kencingku. Pak Dwi langsung memahaminya.

Dia bangkit berdiri di belakang analku. Kemaluannya yg keras lurus ke depan dia sodorkan ke bibir kemaluanqu. Kurasakan kemaluannya melekat dan kemudian dgn sedikit dorongan yg berulang, kemaluannya amblas ditelan kemaluanqu. Aqu seperti akan pingsan menerima kenikmatan ini. Seperti anjing jantan pada betinanya, Pak Dwi setengah berdiri memelukku dgn kemaluannya menerjang kemaluanku. Mulailah ayunan dan pompaan kemaluan Pak Dwi keluar masuk ke kemaluanku. Aqu menggoyg-goyg dan maju mundur mengimbangi iramanya yg sangat membuatku kegatalan di seputar kemaluanqu. Terus terang inilah salah satu posisi favoritku. Aqu merasakan kenikmatan yg maksimal dgn posisi begini. Baygkan saja, bukankah kemaluan yg ngaceng cenderung mencuat ke atas dari akarnya. Saat menggosok dalam kemaluan, kemaluan seperti itu menggelitik dinding atas kemaluanqu dgn lebih kuat sampai titik pekaqu rasanya di garuk dgn ulek-ulek sambal yg besar. Kemudian dalam posisi “Doggy Style” ini, kemaluanqu cenderung lebih sempit mengetat. Jadi semua urat-urat pekaqu akan lebih mencengkeram kemaluan siapapun yg menembus kemaluanku. Saygnya Mas Graha tak bisa melaqukan cara seperti ini. Sebab kemaluannya yg terlampau kecil tak akan mampu melewati bongkahan pantatku yg gede ini. Maka yg akan terjadi adalah, kemaluannya hanya akan sedikit menyentuh gerbang kemaluanqu. Kemaluan Pak Dwi yg jauh lebih panjang dan besar langsung bisa menggelitik tepi-tepi bibir rahimku.

Aqu jadi binal. Kegatalanku sangat merasuk dalam kemaluanqu. Aqu ingin menggaruknya. Kugoygkan pantatku maju mundur sesampai gesekan batang kemaluan Pak Dwi benar-benar kurasakan seakan-akan melumat dinding kemaluanqu. Aqu mendesah dan merintih setiap kali Pak Dwi menusuk maupun menarik kemaluannya. Aqu kagum dgn stamina Pak Dwi. Apakah ini berkat minuman anggur Chinanya tadi? Apakah juga rasa birahiku yg semakin meninggi disebabkan satu sloki anggur yg disodorkan Pak Dwi kepadaqu tadi? Mungkin saja. Badanku merasa lebih panas dan aliran darahku yg lebih cepat benar-benar membuat birahiku meletup-letup dan aqu seakan kewalahan dalam melawan kegatalanku sendiri yg hebat melanda kemaluanku.

Desakan birahiku yg semakin menghebat disebabkan kegatalan tak terkira dari kemaluanqu membuatku menjadi liar dan buas. Aqu lupa daratan. Aqu ingin jadi penguasa. Aqu ingin Pak Dwi menuruti mauku. Aqu ingin Pak Angoro diam telentang dan biar aqu saja yg akan memperkosanya. Aqu benar-benar tak tahan lagi. Aqu bangkit. Dgn tetap mempertahankan kemaluan Pak Dwi dalam kemaluanku, aqu membelakanginya dan mencoba memompa dan menaikturunkan pantatku ke kemaluannya. Kuraih leher Pak Dwi yg diresponsnya dgn menjemput dan langsung memeluk buah dadaqu sambil bibirnya mendekat ke bibirku. Kami saling berpagu dan melumat-lumat.

Pompaan pantatku diterima Pak Dwi dgn erangan bak serigala yg mendapatkan mangsa dan dgn taring-taringnya merobek daging-dagingnya dgn buas. Dgn keliaran dan kebuasan hasratku, aqu akan mengubah posisiku. Aqu menginginkan apa yg menjadi keinginanku. Kulepaskan kemaluan Pak Dwi dari kemaluanqu. Kudorong dia agar telentang di kasur. Kemudian kunaiki badannya yg besar itu. Aqu beringsut sampai kemaluannya berada tepat di bawah kemaluanqu. Kuraih dan kuarahkan kemaluannya ke lubang kemaluanku. Kemaluanku yg menyempit membuat terobosan kemaluan Pak Dwi tak langsung bisa tertelan kemaluanqu. Aqu harus lebih menekannya dgn sekaligus menggeliat kecil memutar pantatku. Dgn cara itu lubang kemaluanqu akan lebih longgar. Dan akhirnya kemaluanku dapat menelan seluruh batang kemaluan Pak Dwi.

Dalam posisi ini aqu melaqukan gerakan “tekan dan maju-mundur”, sambil menekan lebih ke bawah, pantatku maju mundur untuk membuat batang keras Pak Dwi bisa seakan menggaruki gatalnya rongga kemaluanqu yg dipenuhi peka birahi, dan Pak Dwi akan merasakan nikmat kemaluannya yg dilumat-lumat kemaluanku. Inilah kenikmatan yg sama-sama dirasakan oleh Pak Dwi dan aqu. Kegatalan yg tetap meruyak dalam kemaluanqu memaksaqu mempercepat goygan pantatku. Bahkan Pak Dwi kuminta tak bergerak agar dapat lebih merasakan betapa kemaluanqu meremas dgn ketat kemaluannya. Dan Pak Dwi patuh saja, sebab dgn cara itu dia telah merasakan kenikmatan luar biasa tanpa harus melaqukan gerakan yg melelahkan. Aqu juga melaqukan “tekan dan putar”, dgn cara menekan kemaluanku ke bawah lebih keras kemudian memutar-mutar pantatku. Dgn cara itu aqu dapat menikmati bagaimana kemaluan Pak Dwi “mengobok-obok” rongga kemaluanqu, dan Pak Dwi merasakan nikmat kemaluannya yg diremas-remas oleh kemaluanqu. Dua cara tersebut kujadikan andalan di samping sesekali juga melaqukan “pompa naik turun” atau pompa maju-mundur” yg selalu berulang kulaqukan.

Variasi dan selang-seling teknik di atas akan menghasilkan sejuta nikmat birahi. Apalagi dalam melaksanakannya dibarengi dgn permainan remasan tanganku pada dada, ketiak dan pinggul Pak Dwi, dan sebaliknya remasan tangan-tangan Pak Dwi pada pinggulku dan buah dada serta puting-putingku. Sungguh kenikmatannya tak akan pernah kami lupakan. Kami secara berbarengan menjerit, mendesah, merintih dan mengerang. Dan lahirlah simfoni gerak dan suara-suara erotik bagaikan operet birahi oleh dua “artis penikmat seksual” yg sangat gaduh dalam kamar mewah President Suite Grand Hyatt Hotel itu. Dan akibatnya adalah aliran darah kami yg semakin cepat terpacu, birahi kami terbakar menyala-nyala. Kami bergerak mendekati keliaran.
Semua remasan, desahan, pompaan, sedotan, gerakan maju-mundur, sedotan, semuanya menjadi tingkah laqu yg cepat dan kasar. Simfoni bibir-bibir kami menjadi racauan tak terkendali. Saling melukai, saling mencaci dan mengumpat dgn mata-mata kami yg terbeliak sebab kesetanan birahi kami sendiri.

“Ayo Bu Graha pelacurku, sundalku, nikmat mana kemaluanku dan kemaluan Graha? Ayoo Buu jawab.., nikmat manaa.., hah?”.
“Aaayoo Dwio, teruzz, kemaluanmu enhhaakk.., teruzz, Dwio.., anjingkuu.., terusszzhh”.
Entah apa lagi. Semua kata-kata begitu saja terlontar tanpa taqut akan ada sanksi sopan-santun maupun etika dan batas kesopanan. Semua kata-kata itu menjadi begitu indah dan nikmat di telinga-telinga kami.
Dan disinilah “puncak jamuan malam” bagi Pak Dwi dan “puncak nikmat pesta perselingkuhan”
bagiku, sama-sama kami raih. Rasa ingin kencingku yg sedari tadi telah mengalir membahana dan rasa ingin muntahnya kemaluan Pak Dwi yg menerima kombinasi serangan nikmat dari kemaluanku secara bersamaan mewujud. Dgn teriakan keras mirip lolong serigala lapar di malam hari dari mulut lupa diri Pak Dwi serta teriakan keras penuh beban histeris dari mulutku, Pak Dwi memuntahkan spermanya. Dan cairan birahiku pun meledak tumpah ruah, mewujudkan klimaksku yg paling nikmat yg pernah kudapatkan.

Gerakan kami tetap terus meninggi sampai kami berdua benar-benar tak menyisakan apapun pada badan-badan kami. Seakan badan-badan kami secara menyeluruh mencair menjadi sperma dan cairan birahi. Kemudian segalanya hilang, lumpuh dan sunyi. Seperti laiknya orang jatuh pingsan, segala yg kami pegang terlepas. Tangan-tangan kami, jepitan dan penetrasi kami lumpuh kendor dan lepas. Kami jatuh ke ranjang. Terlena dan pulas. Kami tertidur.

PahaDada

Saat aqu terbangun sebab kedinginan ruang AC kamar, kusempatkan untuk turun membuang air kecil. Kulihat Pak Dwi telah meringkuk dalam selimutnya. Kemudian aqu kembali tertidur. Kami terbangun sekitar pukul 9 pagi. Cahaya matahari yg hangat terasa menembus celah-celah tirai gorden hotel mewah ini. Aqu menggeliat dan melepas senyum pagiku pada Pak Dwi yg telah bangun lebih dahulu dan sedang membaca koran pagi di sofa. Dia lempar koran itu dan menyongsongku rebah kembali ke “ranjang pengantin” kami malam ini. Dia jemput bau kecut badanku. Dia cium aqu. Dia cium ketiak, buah dada, perut maupun pahaqu. Dia jilat dan kulum betis dan jari-jariku. Itulah “ucapan selamat pagi” Pak Dwi padaqu. Aqu seakan putrinya yg baru terbangun setelah selama seribu satu malam terlena dalam ayunan sihir nenek sakti. Aqu sangat bahagia dan perasaan tersanjungku terbit di pagi hari saat aqu bangun ini.

Kuambil dan kupakai kembali kimono kamar tidurku. Aqu bangkit menyusulnya duduk di sofa. Dari kursinya, Pak Dwi menghubungi room service. Dia minta 2 American breakfast dgn masing-masing double, telur setengah matang campur madu Arab. Kami saling mendekat, mendekatkan badan. Aqu bersandar di dadanya. Pak Dwi memelukkan tangannya pada dadaqu. Tak banyak kata-kata yg keluar dari mulut kami. Pikiran-pikiran kami berkelana sesuai dgn apa-apa yg telah rutin dan biasa menjadi kehidupan kami. Aqu teringat bunga di rumah yg seharusnya sedang kusirami pada jam-jam ini.

Tak sampai 10 menit, American breakfast kami telah dihidangkan. Kami sarapan dgn tetap tak banyak berkata-kata. Selesai sarapan aqu mandi. Air panas hotel mewah ini sungguh menyegarkan semua sendi-sendi badanku. Keluar dari kamar mandi, kulihat Pak Dwi sibuk telepon sana sini. Mungkin memang demikian kehidupan seorang eksekutif seperti dia. Kemudian Pak Dwi pergi mandi. Selesai mandi, masih dalam kimono kami masing-masing, kami kembali duduk di sofa. Dan kembali badan-badan kami saling mendekat dan melekat. Kemudian kami saling berpagut. Saling melumat, bertukar lidah. Sesekali Pak Dwi menggigit bibirku, dan aqu membalasnya. Tanganku menyusup ke dalam kimononya. Bulu-bulu badannya tetap saja membuatku merinding dan bergetar. Aqu sedikit mendesah.

Pak Dwi mengikuti tanganku, menyusupkan tangannya memeluk badanku. Pagutan kami menjadi lebih intim. Dan terdengar desahan-desahan kecil keluar dari mulut-mulut kami. Tanganku meremas punggungnya. Tangan Pak Dwi mengelus punggungku. Kutempelkan buah dadaqu ke dada berbulu Pak Dwi. Tiba-tiba terdengar bel di pintu. Pak Dwi bangkit menghampiri. Kulihat seorang petugas dgn seragam dinasnya menyerahkan bungkusan besar dalam tas kantong yg cantik dan secarik kertas tanda pengiriman barang pada Pak Dwi. Setelah ditandatanganinya lembar kertas pengiriman itu, dia raih bungkusan besar tersebut dan beranjak mendekatiku.

“Maaf Bu Graha, ini bukannya apa-apa. Saya hanya memperkirakan bahwa Bu Graha perlu ganti gaun setelah gaun yg kemarin lecek Ibu pakai. Coba lihat Bu. Mudah-mudahan pas buat Ibu”.
Ini merupakan bagian dari sedemikian hebatnya Pak Dwi menghargaiku. Semua detail ia pikirkan. Rasanya kalau aqu tolak akan mengurangi kebahagiaannya. Dgn hati-hati dan ucapan terima kasih, kuterima bungkusan dalam tas kantong cantik itu. Aqu buka kertas bungkusnya. Aqu temukan dos besar dgn tulisan tanda logo Oscar Lawalatta Fashion. Ah, bukan main wawasan Pak Dwi pada trend mode yg disukai ibu-ibu seusiaqu. Aqu pandang Pak Dwi dgn senyum bahagiaqu. Kemudian dos itu aqu buka. Sungguh surprise bagiku. Ini sungguh luar biasa. Sutra Obin dalam jahitan “houture couture” Oscar Lawalatta. Sungguh luar biasa bagiku. Aqu langsung memperkirakan harga gaun seperti ini. Paling tak 5 juta rupiah Pak Dwi telah membelanjakannya pada rumah fashion si Oscar. Kulihat, tak lupa juga nampak bungkusan yg lebih kecil, pakaian dalam sutra pula berikut celana dalam dan BH-nya. Aqu tak dapat menyembunyikan kegembiraanku. Kucium Pak Dwi di bibirnya. Kusampaikan kekagumanku. Dan ukuran gaun itu, yg ternyata pas dgn ukuranku, M, medium.

Untuk menyenangkan hatinya, kuambil dan kurentang gaun Oscar itu. Terdiri dari 2 potong, rock & blus. Sutra Obin, yg demikian lembutnya, dgn pola kembang berwarna hijau lumut dan ungu menyebar pada latar kain berwarna merah muda. Oscar yg terkenal dgn gaya sedikit liar, dimana bagian bawah sengaja diekspresikan bebas menampilkan bahan baqu yg indah dari Obin, membuat gaun itu sangat berkarakter. Aqu senang dgn hal-hal yg berkarakter seperti ini. Setelah kupantas-pantaskan di depan cermin rias, aqu pamerkan pada Pak Dwi. Dgn selera humor yg kumiliki, aqu bergaya bak peragawati di atas catwalk-nya. Kami berdua tertawa terbahak penuh ceria dan bahagia di pagi itu. Sekali lagi kami saling merangkul dan berpagut. Aqu tahu, Pak Dwi masih ingin menikmati badanku. Ciumannya melepas hasrat birahinya dan tangannya menggerayg melepasi kancing-kancing baju Oscarku. Tali-talinya dilepaskan dari ikatannya.
Dgn senang hati kuserahkan badanku untuk dinikmatinya. Aqu masih tetap tawanannya dan aqu akan melayaninya sampai dia benar-benar merasakan kepuasannya secara total. Aqu menyelinapkan tanganku ke celana dalamnya. Dan kini kemaluannya yg hangat ada dalam genggamanku. Dia menuntunku ke sofa besar. Aqu dipangkunya.
Pak Dwi melepas ikatan kimononya sendiri sampai kami sama-sama setengah telanjang, hanya menyisakan celana dalam kami. Wajahnya langsung tenggelam ke ketiakku. Dia jilat dan lumat-lumat ketiakku. Kemudian merambat ke buah dadaqu berikut puting-putingnya. Aqu mulai menggelinjang. Birahi segera merambati badanku. Apalagi saat bulu-bulu badan Pak Dwi kembali menyentuh bagian-bagian badanku.

Aqu pasrah menerima serangan ciuman dan jilatan di seluruh badanku. Kubiarkan Pak Dwi betul-betul seakan melahap badanku. Aqu meraba, mengelus dan memijit kemaluannya yg semakin mengencang dan membesar. Juga aqu meraba bagian peka badannya yg lain. Tangan kananku mencoba meremas bokongnya yg gempal itu. Jari-jari tanganku mencoba merambat ke analnya. Kuraba, bulu-bulu analnya sangat lebat sampai merimbuni lubang analnya. Ingin rasanya aqu menikmati aroma wilayah ini. Aqu mendesah. Pak Dwi merebahkan badannya ke sofa sambil menarik badanku yg membelakanginya. Kemudian dia raih kaki kananku ke atas. Aqu tahu. Dia akan menembakkan kemaluannya dari arah belakangku. Aqu mencoba membantu dgn meraih kemaluannya untuk kuarahkan pada kemaluanku. Sambil saling berpagut dan melumat, kemaluan Pak Dwi menembus kemaluanku. Kemaluanqu melahap seluruh batangnya. Kemudian dia mulai memompa.

PahaDada

Saat itu dia berbisik di telingaqu. “Bu Graha, aqu sangat mengagumi Ibu. Ibu sangat mempesona dan berkarakter. Aqu selalu ngaceng kalau mengingat Ibu. Tadi malam aqu bangun dan perhatikan Ibu yg telanjang. Oh, indah sekali. Aqu ingin lebih lama memandangi, tetapi sebab AC kamar yg sangat dingin aqu tunda keinginanku. Aqu selimuti Ibu”.
Aqu tak membalas perkataannya. Aqu hanya melepas senyumku dan lebih melumatkan ciumanku. Aqu sangat senang dan bahagia bertemu dgn lelaki seperti Pak Dwi. Bisa bercinta dgnnya. Dan dia sangat menghormatiku. Dia telah menunjukkannya pada setiap servicenya bahkan sejak awal pertemuan kami kemarin.
“Bu, Bu Graha mau nggak kalau..?”, pertanyaannya tak diteruskan. Aqu hanya mendesah, “Heecchh..?”. “Saya ingin sekali lagi ngentot mulut Bu Graha”, dia melanjutkan maksudnya.
Sekali lagi aqu tak menjawabnya melalui kata. Aqu memeluknya dgn penuh semangat dan hasrat. Dan Pak Dwi yg langsung tahu, bahwa aqu akan dgn segala senang hati melaqukan keinginannya. Dia bangkit dan membopongku ke ranjang. Kali ini dia yg bergolek telentang. Dia ingin aqu yg berperan aktif. Aqu sambut keinginannya. Aqu turun dari ranjang dan berlutut meraih kaki-kakinya. Seperti yg dilaqukannya padaqu kemarin, kulaqukan hal yg sama padanya sekarang. Dgn segenap perasaan dan kelembutan, aqu mulai menjilat dan menggigiti kaki, jari-jari kaki, telapak kaki dan tumit-tumitnya.

Pak Dwi menggelinjang. Dia mengaduh-aduh kenikmatan. Tangannya meremas bantal di ranjang. Matanya membeliak ke atas menerawang menikmati birahinya yg terlempar dan terayun-ayun dalam alun gelombang samudra nikmatnya bercinta. Ciuman dan jilatanku merambati kaki-kakinya. Betis, paha dan selangkangannya. Bulu-bulu itu sangat membuatku bergairah. Aqu meremas-remas bagian-bagian badannya dgn penuh greget. Ciumanku menyedot sampai meninggalkan cupang-cupang memerah di paha dan selangkangannya. Aroma selangkangannya membuatku setengah gila menerima kenikmatannya. Kubenam-benamkan mukaqu ke selangkangannya itu. Rambutku yg panjang beberapa kali kusibakkan agar tak menghalangi isapan dan sedotan bibirku. Dan saat mulutku mulai mengulum biji pelirnya, tangan Pak Dwi tak kuasa lagi untuk diam. Diraihnya rambutku dan dihelanya ke atas sampai terasa pedih pada kulit kepalaqu. Rambutku yg meruapakan mahkotaqu itu diremas-remasnya. Aqu sengaja belum menyentuh kemaluannya yg telah menjulang keras dan kaqu. Batangnya penuh dilingkari urat-urat dan kepalanya yg tegang mengkilat-kilat masih belum menarikku untuk menjamahnya.

Ada keinginanku yg akan kulaqukan terlebih dahulu. Ini adalah obsesiku yg terlahir tadi saat mulai bercumbu. Aqu ingin menciumi lubang pantatnya. Aqu ingin menenggelamkan mukaqu ke celah bokongnya yg telah kuraba bulu-bulunya yg sangat rimbun tadi. Dan puncak keinginanku itu langsung didorong oleh gejolak libidoku. Kubalikkan badan Pak Dwi yg tinggi besar itu. Kini aqu seakan berubah menjadi betina yg dgn liar dan buasnya menggapai mangsanya. Tahu mengenai laba-laba betina yg akan dikawini oleh laba-laba jantannya? Begitu sang jantan selesai melaqukan tugasnya, maka seketika itu pula si betina akan merangsek dan menangkapnya. Ya, sang jantan itu akhirnya dilahap dalam arti sebenarnya sebagai mangsanya.

Dan aqu telah ‘menangkap’ Pak Dwi. Dalam tingginya birahi yg sedang melandanya, Pak Dwi akhirnya akan menyerah terhadap apapun yg akan kulaqukan. Saat aqu menyaksikan pesona bulu-bulu kelelakian yg tumbuh di mana-mana di badan Pak Dwi, hasrat betinaqu muncul. Aqu langsung membenamkan diri di selangkangan belakangnya. Aqu cium dan kujilati tempat itu. Dan aqu terus merangkak lebih ke atas. Aqu memintanya dgn isyarat agar Pak Dwi menungging. Dan pesona bulu anal di celah pantat Pak Dwi yg rimbunnya sampai menutupi analnya kini terpampang tepat di depan wajahku. Celah pantatnya kurekahkan. Kulihat samar-samar lubang duburnya. Kudekatkan wajahku. Aqu mulai menciuminya. Semerbak bau analnya langsung menyergap hidungku. Aqu telah lupa daratan. Kubenamkan saja hidungku ke dalamnya. Lidahku menari-nari mencari lubang itu.

Pak Dwi mengaduh. Tangannya menggapai-gapai untuk meraih kepalaqu. Aqu tahu, dia ingin agar aqu lebih membenamkan kepalaqu lagi ke dalam bokongnya. Sementara itu tangan kiriku meraih kemaluannya yg menggelantung. Tetap tegang. Kukocok kemaluannya itu pelan. Kuelus kepalanya, jari-jariku meraba lubang kencingnya. Rupanya Pak Dwi telah menemukan puncak dari segala puncak nikmat birahinya. Dia langsung mengambil alih perananku. Dia kembali menjadi penguasaqu. Dan aqu kembali tunduk pada kemauannya. Dia balik telentang.

“Aqu mau keluarr.., Bu Grahat.., isep kemaluanku, Buu.., ayyoo isepp Buu..”.
Ah, saatnya datang. Kraih kemaluannya dan kugenggam. Kudekatkan bibirku. Aqu mulai menyapu kepalanya dgn jilatan-jilatanku. Kemudian kutelan kepala dan batang itu. Aqu tahu, kalau telah seperti ini, Pak Dwi tak akan mungkin mampu bertahan.
Dan saat cairan lendir panas menyemprot langit-langit mulutku, dgn teriakan histeris keras, Pak Dwi kembali meremas-remas kepalaqu. Pantatnya diangkat-angkat sampai menyodok tenggorokanku. Aqu terus memompanya dgn mulutku sampai tangan Pak Dwi merenggut kepalaqu.
“Telah, telah Bu. Aqu nggak tahan. Ngilu banget rasanya, Bu.., lepaskan Bu Grahat.., oohh”. Kulepaskan kemaluannya dari mulutku. Aqu kecapi spermanya di mulutku. Dan kemudian kutelan. Wow, sarapan keduaqu.
“Ah, maaf Bu Graha. Sakit ya?”, tangannya mengelus kepalaqu.
Aqu menggeleng sambil merapat dan mencium dadanya. Aqu masih terbawa emosiku. Rasa erotisku masih sampaip pada badanku. Tapi aqu tak akan memaksakannya pada Pak Dwi agar membuatku menerima kemurahannya dan meneruskan cumbuannya setelah spermanya tumpah ini. Aqu sendiri cenderung bersikap menggantung. Biarlah kusimpan untuk kesempatan yg lain saja.

Disinilah kelebihan seorang wanita. Dia telah cukup puas jika telah melihat pasangannya dapat menikmati kepuasannya. Itu merupakan kepuasan utamanya. Dan untuk para lelaki egois, menganggap hal itu masalah biasa. Dianggapnya memang para wanita tak terlalu memerlukan klimaks pada setiap persenggamaan. Dan toh memang terbukti, anak-anak tetap lahir, kehidupan rumah tangga tetap berjalan seperti biasa dan sebagainya dan sebagainya. Tapi Pak Dwi ternyata memang berbeda. Dia masih berusaha merespons ciumanku di dadanya. Hanya saja naluriku telah berkata untuk mencukupkannya dulu. Aqu katakan pada Pak Dwi bahwa rasanya badanku telah lelah dan ingin agar pertemuan ini segera ditelahi. Dia dapat memakluminya.

Dia telepon ke front office untuk segera check out dan agar disiapkan administrasi pembayarannya. Aqu pergi mandi sekali lagi. Aqu perlu meyakinkan diri bahwa aqu dalam keadaa segar dan bersih saat aqu pulang nanti. Ketika Pak Dwi juga telah kembali merapikan diri dan siap pulang, dia mendekatiku. Dari saqu celananya, dia keluarkan amplop putih yg menggembung.
“Maaf Bu Graha, aqu ingin menyatakan rasa bahagia dan terima kasihku. Ini sama sekali bukan pembayaran, Bu. Ini adalah kebahagiaan yg ingin kushare bersama Ibu. Terimalah”.

Aqu tahu dia memberiku uang. Kali ini aqu menolaknya. Kusampaikan bahwa aqu juga senang dgn apa yg telah kami alami bersama, bisa saling bertemu dan meraih kenikmatan bersama. Kukatakan bahwa apa yg telah ditunjukkan dan diberikannya padaqu sangat luar biasa untukku. Kukatakan juga bahwa aqu merasa sangat dihormati, dihargai dan aqu merasa sangat tersanjung sebabnya. Aqu tak pernah dan tak akan pernah mengaitkan hal-hal seperti ini dgn urusan uang. Kukatakan bahwa sebenarnya aqu adalah “penikmat seksual” dalam arti sebenarnya. Aqu tak harus mencari yg tampan, kaya dan sebagainya. Aqu akan suka pada siapapun yg memang kusuka. Dan itu semua harus ada nilai seninya. Nilai seni bercinta. Dan tak seorangpun mampu membeli kenikmatan seni bercinta itu.

Pak Dwi memandangiku. Dia nampak mengagumi cara pandangku pada kehidupan seksualku. Dia baru memahami bahwa demikianlah aqu adanya.
“Ah, maaf Bu Graha mengenai masalah villa Bogor itu. Dgn ucapan Ibu barusan, rasanya saya keliru kalau berprasangka buruk pada Ibu. Maafkan saya, Bu”.
“Tetapi, janganlah Ibu tolak kebahagianku ini. Dgn pemahamanku mengenai bagaimana Bu Graha memandang seni cinta tadi, aqu semakin menghormati Ibu dgn sepenuh hati saya”.
Dan Pak Dwi tetap memaksaqu untuk menerimanya. Akhirnya aqu membiarkannya saat amplop itu disisipkan ke kantong plastik indah dari Oscar, yg sekarang fungsinya adalah untuk membawa pulang pakaian kotorku. Kami sepakat, Pak Dwi akan mengantarku sampai ke lobby Sogo Departement Store dalam bangunan yg sama dgn Grand Hyatt Hotel ini di lantai bawah.

PahaDada

Sebelum benar-benar keluar pintu kamar, sekali lagi kami saling berpagut dan melumat cukup lama. Pukul 2 siang aqu telah di rumah. Ada beberapa surat yg disisipkan ke bawah pintu. Saat aqu mengeluarkan pakaian kotorku ke mesin cuci, kutemukan amplop pemberian Pak Dwi. Tebal juga. Kutengok isinya. Oohh.., tak salahkah ini..? Kudapati 2 ikat 100 ribuan rupiah dan 7 lembaran 100 US dollar-an. Bukankan ini artinya senilai lebih dari 25 juta rupiah Pak Dwi telah membagi ‘kebahagiaannya’ untukku. Wow, bukan main orang itu. Bukan berarti aqu bahagia sebab kemaluanku telah dapat menghasilkan uang sebanyak itu, tetapi yg kurasakan adalah adanya getaran erotis saat memegang ikatan-ikatan uang itu. Bagaimanapun uang itu memang ada kaitannya dgn kemaluanku yg sempat dinikmati lelaki lain yg bukan suamiku. Dan untuk kenikmatan yg didapatkannya itu, dgn senang hati dia mengeluarkan uang sebanyak itu untukku. Kemana harus kusimpan ini? Tentu aqu tak ingin diprasangkai oleh Mas Graha dgn uang sebanyak ini. Menyenangkan sekaligus membingungkan. Ah biarlah, untuk sementara uang ini tak akan kugunakan. Akan kumasukkan saja ke rekening bank-ku. Mungkin ini juga merupakan rejekiku yg harus kubagikan pada orang lain yg lebih memerlukannya.

Dan sesuai dgn janji Pak Dwi, sekitar 10 hari sepulang bertugas dari Kalimantan yg dinilai sukses oleh perusahaan, Mas Graha kemudian diangkat menjadi Wakil Direktur. Hal itu terjadi 20 hari lebih cepat daripada yg pernah dibicarakannya padaqu. Saat pengangkatan jabatannya yg baru, semua jajaran karyawan perusahaannya hadir untuk memberikan selamat pada Mas Graha dan juga kepadaqu sebagai istrinya.


agen558-2

UNTUK REGISTRASI DAN PENDAFTARAN.

Hubungi Kami:

Situs & Livechat : http://www.agen558.com
Pin:  5591B4C3
YM : cs_agen558@yahoo.com
SMS/WA:+6281-2696-2889
Line : agen558.com

Diperkosa Penjaga Gudang

Pahadada

Agen558.com – Sesudah menikah aqu langsung mengikuti suami tinggal di Ibu Kota, Jakarta. Sebagai pegawai negeri suamiku hanya bisa kontrak rumah petak untuk tempat kita berteduh dan seseorang memiliki alamat untuk pulang. Sangat beda rasanya rumah di kota asalku Salatiga dimana hubungan antar manusia masih demikian kental dan saling manusia memanusiakan antara satu terhadap yg lain. Sementara di Jakarta yg aqu rasakan pertemuan antar manusia semata-mata lebih didorong oleh adanya kebutuhan duniawi. Hubungan akan berarti baik apabila seseorang bisa memberikan manfaat dunia lebih besar dari yg lain. Di Jakarta orang lebih berhitung pada masalah jumlah dgn mengorbankan mutu. Kalau aqu bisa memberi lebih banyak dari yg lain berarti aqu lebih baik dari yg lain, dan pantas menerima sikap hormat yg lebih tinggi dari yg lain.

Demikianlah suamiku yg dosen Universitas Negeri yg notabene pegawai negeri dgn embel-embel Ir. di depan namanya plus MM di belakangnya tak mampu meraih penampilan dan nilai yg layak di tengah masyarakat di sekitarku. Keluarga Mas Agoes yg penjaga gudang di daerah Caqung yg mengkontrak petak di sebelah kananku rumahku lebih memiliki nilai karena tampilan dunianya jauh lebih dari tampilan kita. Itulah kenyataan metropolitan yg hingar bingar dan gegap gempita ini.

Kebutuhan MCK (mandi, cuci dan kaqus) kita berhimpitan hanya dibatasi oleh selembar gedek yg rawan bolong-bolong. Hanya sikap morallah yg membatasi kita dalam arti yg lebih jauh. Bagi kita, khususnya bagi aqu dan Dik Nayma istri Mas Agoes tetangga sebelah, sumur adalah segala-galanya. Hampir 90% waktu kita habiskan di seputar sumur dan MCK-nya itu. Suami kita masing-masing sibuk dgn pekerjaannya. Bedanya kalau suamiku, Mas Naryo, seharian siang dia gag ada di rumah, sementara kalau Dik Nayma seharian malamnya suaminya jaga gudang di Caqung.

Antara para suami kita praktis jarang jumpa berpapasan karena waktu kesibukkannya yg terbalik. Sementara kita para istri juga kesibukan melayani suaminya jatuh pada waktu yg berbeda pula. Sebagai suami istri muda, Dik Nayma baru keluar dari kamarnya menuju ke sumur baru sekitar jam 11 siang. Tentu dia harus siap melayani berbagai kebutuhan suaminya yg baru pulang setiap jam 6 pagi itu. Dan aqu sendiri sebagaimana yg lain bercengkerama dgn suamiku pada malam harinya sepulang dari pekerjaannya. Kemungkinan penyimpangan hanya terjadi pada saat-saat tertentu, misalnya salah satu dari pasangan di antara kita ada yg sakit atau bepergian atau karena sebab yg lain. Suasana seperti itu juga terjadi di keluarga tetangga sekitar kita. Pada pagi hari rata-rata sepi. Anak-anak mereka pergi kesekolah dan para suami hampir seharian penuh mencari sandang pangan.

Sudah 5 hari Dik Nayma pulang ke desanya dgn maksud menjemput adiknya untuk diajak membantu di Jakarta. Ku lihat Mas Agoes menyiapkan sendiri segala kebutuhan sehari-harinya yg mulai dia laqukan sekitar jam 10 atau 11 pagi, seusai tidur sepulang jaga malam. Dia mencuci pakaiannya, membersihkan rumah, mencuci perabot dapur dan sebagainya. Mau tak mau aqu sering berpapasan di seputar sumur yg memang kita pakai berdua keluarga. Walaupun begitu kita jarang saling bicara. Aqu lebih senang begitu. Aqu taqut omongan tetangga yg gampang usil. Mas Agoes hampir seharian selalu berpakaian minimum dgn alasan udara Jakarta yg panas. Tanpa “ewuh pekewuh” dia selalu hanya bercelana pendek dan melepas bajunya. Aqu suka mencuri pandang. Postur badannya yg cukup tinggi nampak kekar berotot, sesuatu hal yg memang diperlukan untuk tugas semacam penjaga gudang dan semacamnya.

agen558

Pahadada

Pagi itu aqu sedang masak di dapurku yg sempit. Panasnya udara Jakarta memaksa aqu sendiri mondar-mandir di dapur dan sumur hanya menggunakan kutang dan kain yg kuikatkan se-enaknya ketika tiba-tiba Mas Agoes muncul di pintu.
“Mbakyu Dasimah, aqu mau minta tolong sedikit, nih”, sambil terus nyelonong memasuki rumahku. Aqu kaget, mau apa dia. Kulihat wajahnya kemerahan dgn matanya yg seperti kucing lapar melihat ikan asin menatap mataqu. Aqu merasakan sesuatu yg gag begitu enak. Adakah yg sangat penting sehingga dia harus masuk ke rumahku tanpa permisi lebih dahulu? Antara khawatir dan ingin menolong tetanga aqu bangun berdiri mengikuti langkahnya,

“Ada apa, Mas Agoes?”, aqu melihat matanya yg semakin menaqutkanku,
“Jangan marah, ya Mbak. Masalahnya aqu bener-bener gag tahan, nih. Dik Nayma kan sudah 5 hari pulang kampung. Aa.. kkuu.., mm.. Sorry.., ya, mbak, tadi pagi saat pulang jaga malam aqu mendengar mbak dan Mas Naryo masih ada di kamar sedang asyik masyuk”. Deg, hatiku. Kenapa Mas Agoes teganya ngomong begitu padaqu. Aqu gag sempat berpikir lebih jauh saat dgn serta merta dia meraih badanku dgn tangannya yg kuat membungkam mulutku kemudian beringsut merebahkan aqu ke kasur kamarku yg memang hanya terpisah oleh dinding gedek dapurku. Dgn sigapnya dia jejalkan gombal dari kantongnya ke mulutku yg aqu rasa sudah dia siapkan sebelumnya. Kemudian dgn kekuatan ototnya ditelikungnya tanganku untuk dia ikatkan ke ranjangku. Aqu langsung dilanda ketaqutan yg amat sangat. Aqu ingat suamiku, ingat sanak keluargaqu. Mungkinkan Mas Agoes mau membunuhku? Tetapi justru ketaqutanku itulah yg membuat aqu lemas dan langsung menyerah.

“mbak Dasimah gag usah taqut, aqu gag akan nyakitin mbak, kok. Aqu hanya perlu sebentar saja. Aqu sudah pengin bingit, nih. Tadi pagi saat Mas Naryo menyebadani mbak Dasimah aqu ngintip dari balik dinding”, dia berbisik dgn tajam ke telingaqu untuk meyakinkan bahwa aqu gag akan disakitinya,

“Aqu gag tahan, mbak, tolongin aqu, Mbak..”, dia langsung merangsek buah dadaqu dgn buasnya. Aqu melawan karena hal semacam ini tak pernah sama sekali terbit dalam pikiranku dan bayganku.
“Aqu gag tahan bener, mbak.. Tolongin aqu, mbak..”, kini ketiakku dia ruyaki sambil menyedoti dan menciumi habis-habisan. Dgn tanganku yg terikat sisa tenagaqu sama sekali gag sebanding dgn penjaga gudang berotot ini. Dgn kasar penuh nafsu kain penutup badanku dia tarik dan lepasi dgn mudahnya. Tangannya yg kasar dan kokoh itu langsung mengelus-elusi pahaqu. Kemudian dgn cepat juga jari-jarinya menyeruak kekemaluanku. Aduh, gag pernah terpikir olehku akan ada lelaki selain suamiku yg menyentuh barang kehormatanku ini. Aqu tak begitu saja bisa menerima kenyatan ini. Aqu menangis pilu walaupun hanya air mataqu saja yg menampakkan tangisku. Aqu menggeleng-gelengkan kepalaqu sebagai tanda penolakanku akan perbuatan Mas Agoes ini. Aqu anggap dia sudah berlaqu sangat tak menghormati aqu, suamiku, keluargaqu. Aqu sangat taqut akan aib yg akn menimpa kita.

Pahadada

Tetapi Mas Agoes terus membisiki aqu,
“Tenang mbak Dasimah, gag apa-apa. Jangan taqut, gag ada yg bakalan tahu. Hanya kita berdua saja yg tahu. Aqu berjanji untuk seumur hidupku hanya akan menjadi rahasia kita berdua saja”. Benarkah? Penjaga gudang ini ternyata memang lihay. Benar atau tak kata-katanya itu ternyata mampu memberikan aqu kesejukkan, setak-taknya melerai rasa taqutku akan kemungkinan dia melukai atau menyakiti badanmu. Seakan aqu memiliki pilihan, melawan dgn risiko dia akan bertindak brutal dgn menyakiti aqu atau menyerah pasrah dgn risiko aqu harus mengikuti dan memenuhi permintaannya. Dan menyadari akan keterbatasanku saat ini pilihan kedua akan memberikan padaqu keselamatan fisikku. Hal-hal lain soal nantilah, yg penting aqu selamat lebih dahulu.

Kini aqu mulai merasakan secara rinci apa yg sedang dan kemungkinan akan dia laqukan padaqu. Jari-jarinya yg terus menari-nari di kemaluanku terasa sangat menggelikan saraf-saraf peka birahimu. Aqu mulai merasakan kenikmatan. Aqu merasakan jari-jari Mas Agoes sangat pintar membangkitkan kehausan birahiku.

Melihat aqu bersikap menyerah dan pasrah dia semakin ganas melumati ketiak yg kemudian melata bergeser ke leherku kemudian juga ke tepian kupingku.
“mbak Dasimah, mbak sangat cantik sekali. Aqu tadi pagi mengintip mbak yg sedang digauli Mas Naryo, oh, mbak.., aqu gag tahan melihat wajah mbak yg menggelinjang menerima kenikmatan dari Mas Naryo. Sekarang mbak mesti nyobain kenikmatan dari aqu, ya, mbak?”.
Kemudian dgn pelan tetapi pasti Mas Agoes membelah selangkanganku. Dia menempatkan badannya tepat di antara selangkanganku. Dan dgn sekejab aqu merasakan sesuatu yg hangat panas mendesak-desaki kemaluanku. Aqu sudah tahu, itu kemaluannya.

Rasa pasrah dan menyerahku hanya memberikan aqu satu pilihan, nikmatilah. Dan aqu mencoba mencari kenikmatannya. Saat Mas Agoes terus mendesakkan kemaluannya dgn cara mendorong menaik-turunkan badannya memompakan kemaluannya ke kemaluanku dgn refleks yg aqu miliki aqu menjemputinya.

Aqu memutar-mutar bokongku kemudian menaik turunkannya untuk menjemput kemaluannya. Aqu merasa mulai gatal di lubang kemaluanqu. Aqu merasakan mulai mengalirnya cairan birahiku. Dan itu juga langsung diketahui oleh Mas Agoes yg semakin cepat dan keras mendesakkan kemaluannya ke kemaluanku.

Dan tanpa ayal lagi, akhirnya seluruh batangan kemaluan Mas Agoes tenggelam dilahap kemaluanku. Hoohh.., aqu tak menduga bahwa aqu akan mendapatkan kenikmatan yg sangat luar biasa di pagi hari ini. Kemaluan Mas Agoes yg berada dalam terkaman kemaluanqu keluar masuk menggelitiki dinding-dinding peka kemaluanqu. Aqu menggelinjang, mendesah dan merintih lirih. Aqu ikut memompa mengimbamgi pompaan Mas Agoes.

Pahadada

Mas Agoes menatapku sesaat sementara kemaluannya terus memompa kemaluanqu. Kemudian dia lepaskan sumpal mulutku untuk selanjutnya dia daratkan bibirnya ke bibirku. Kita saling melumat. Aqu merasa sangat kehausan. Lepas dari sumpal itu sungguh melegakan. Dan kini sikapku adalah ingin memberikan sepenuhnya kepuasan kepada Mas Agoes. Aqu sudah memasuki gerbang nafsuku sendiri. Aqu juga ingin meraih madunya paksaan dan pemerkosaan dia atasku. Aqu melumat habis-habisan mulutnya. Aqu hisap-hisap lidahnya, aqu sedoti ludahnya. Aqu mengerang dan meracau,

“Mas Agoes, Sorryin aqu, ya.., aqu tadi taqut bingit.., Mas Agoes, uuhh.. Kemaluanmu ennaakk bingit.. Mas Agoes, Sorryin mbak Dasimah, ya.. Mas Tondii.. teruszzhh.. ennhhaakk bingitt..”, dan Agoes terus memompakan kemaluannya ke kemaluanqu dgn mantab sekali. Kita sudah meraih irama persanggamaan bersama. Kita sedang mengejar kepuasan puncak dari persanggamaan ini.

Akhirnya tali yg mengikat tangankupun dilepaskannya. Kini tak ada lagi pemerkosaan. Yg ada adalah kesepakatan bersama untuk meraih puncak nikmat birahi. Keringat mulai membanjir dari badan-badan kita. Mas Agoes menggenjot dan aqu menjemput. Kakiku kunaikkan ke pundaknya hingga kemaluan Mas Agoes terasa mentok menyentuh rahimku. Nikmat yg kurasakan sungguh luar biasa. Dari penyebab awalnya dimana norma sopan dan adab tak lagi dijadikan batasan membuat aqu juga bisa berlaqu saenakku, kini kurenggut kepala Mas Agoes. Kudekatkan ke wajahku dan kuenyoti bibirnya sambil kujambaki rambutnya. Kemaluanqu yg gatalnya semakin gag ketulungan membuat aqu jadi buas, binal dan liar tak sebagaimana saat aqu bersanggama dgn suamiku selama ini.

Aqu menggelinjang-gelinjang dgn sangat hebatnya. Aqu berteriak histeris tertahan sebagai wujud pelampiasan nafsu birahiku yg tak terkendali ini. Aqu ingin dipuaskan sejadi-jadinya. Aqu berguling. Dgn rambutku yg sudah lepas terurai dari ikatannya dan dgn keringat yg semakin membasah mengucur dari badanku aqu tumpakin badan Mas Agoes. Aqu desakkan habis-habisan kemaluanqu ke kemaluannya untuk menggaruk lebih keras kegatalan di dalamnya. Aqu sangat gelisah dan resah menunggu hadirnya orgasmeku. Setiap kali aqu mendongak dan menyibakkan rambutku kemudian kembali menunduk histeris. Tangan-tanganku mencekal gumpalan dada Mas Agoes hingga kuku-kukuku menancap dalam ke dagingnya. Rasa gatal yg sangat mendesaki kemaluanqu, aqu tahu bahwa tak akan lama cairan birahiku akan tumpah ruah. Aqu sudah demikian lupa diriku.

Akhirnya kita sama-sama mencapai kepuasan puncak kita. Cairan hangat yg menyemprot dari kemaluan Mas Agoes ke dalam kemaluanqu langsung disambut dgn muntahan berlimpah cairan birahi kemaluanqu. Aqu langsung tersungkur sementara kedutan-kedutan kemaluan Mas Agoes belum sepenuhnya usai.

Aqu masih melamun dalam penyesalan saat Mas Agoes bangkit dari ranjangku. Dia mencium keningku dan berlalu. Kudengar bisikan terima kasih dari bibirnya. Saat aqu ingin sekali lagi menangkap untuk mengecupnya dia sudah hilang di balik pintu.

Siang itu aqu tak masak. Rasa penat disekujur badanku membuat aqu bermalasan sepanjang hari itu. Saat Mas Naryo pulang kulihat dia membawa bungkusan plastik di tangannya. Dia membawa mie goreng dan fuyunghai kesukaanku. Seakan aqu melupakan apa yg sudah terjadi siang tadi kini aqu duduk makan bersama suamiku dgn perasaan penuh galau. Pada Mas Naryo aqu sampaikan keinginanku untuk beberapa waktu aqu pulang mudik. Aqu bilang sudah kangen sama sanak famili di Salatiga. Mas Naryo menatap aqu, menatap mataqu. Dia berusaha membaca relung hatiku. Dia setuju aqu pulang. Dia menyadari bahwa aqu masih dalam proses adaptasi dalam menyelami kehidupan Jakarta. Dia akan menjemputku saat kembali ke Jakarta nanti.

Rupanya permintaanku pulang dia sambut dgn sebuah rencana yg memberikan kejutan bagiku. Sesudah barang tiga minggu dgn penuh rindu aqu menunggu jemputan Mas Naryo, dia menelponku. Dia bilang bahwa tak bisa datang menjemputku karena kesibukkan di kampusnya. Tetapi dia sudah mengirimkan 5 lembar tiket Garuda yg bisa aqu ambil di kantor Garuda Semarang. Dia minta supaya aqu mengajak serta kedua orang tuaqu dan 2 orang adikku yg sedang liburan sekolah. Sesuai dgn hari yg ditetapkan Mas Naryo menjemputku di bandara Sukarno Hatta dgn sebuah Kijang baru. Aqu heran ternyata Mas Naryo bisa menyopir mobil sendiri.

Pahadada

Agent Judi Terpercaya !!! AGEN558.com

Dan kejutan yg paling hebat dari Mas Naryo adalah saat mobil Kijang ini tak meluncur ke rumah yg kukenal sebagai rumah kita selama ini. Melalui jalan tol Jagorawi Mas Naryo membawa mobilnya ke kompleks perumahan dosen di Cibubur. Kita memasuki rumah baru kita yg besar dan luas. Segala barang-barang dari rumah lama sudah dipindahkan seluruhnya ke rumah baru ini. Aqu melihat bagaimana orang tuaqu dan adik-adikku menyambut gembira atas limpahan rejeki dan rahmat kepada kita. Di depan mereka Mas Naryo merangkul aqu dan mencium pipiku yg kusambut dgn sepenuh hangat hatiku. Aqu membulatkan tekadku untuk sepenuhnya mengabdi dan mendukung segala usaha dan karier Mas Naryo suamiku.


agen558-2

UNTUK REGISTRASI DAN PENDAFTARAN.

Hubungi Kami:

Situs & Livechat : http://www.agen558.com
Pin:  5591B4C3
YM : cs_agen558@yahoo.com
SMS/WA:+6281-2696-2889
Line : agen558.com

 

Arisan Seks Membuatku Ketagihan

AGEN558.com – Kejadian ini tidak pernah kuduga sebelumnya, Selama ini rumah tanggaku berjalan baik dan aku tidak pernah melakukan hubungan sex selain dengan suamiku sendiri. Ade, suamiku seorang kontraktor yang cukup besar di kota Malang Jawa Timur, hampir setiap hari waktunya habis dikantor untuk mengurus proyek dan proyeknya. Aku sendiri Dini menikah dengan Ade, kakak tingkat kuliahku di Perguaruan Tinggi Bandung, 2 tahun diatasku.

Kehidupan seksku biasa saja, dan cenderung membosankan padahal kurasakan sampai sekarang gairahku cepat sekali memuncak dan kalau melakukan hubungan intim aku suka sekali berlama- lama menikmati dengan berbagai variasi, tetapi suamiku orangnya kuno dalam melakukan hubungan sex dengan cara yang biasa saja, dia diatas dan aku dibawah, kadang aku kepingin juga cara lain seperti pada video porno yang pernah kulihat saat suamiku pergi, tapi tidak pernah kesampaian, karena pernah kuutarakan pada suamiku dia tidak menjawab apapun, sehingga kadang aku merasa tidak puas.

Untuk mengisi waktu luang aku sempatkan mengikuti kegiatan kesehatan berupa senam pada sanggar senam tertentu hal ini aku lakukan untuk menjaga stamina dan juga tubuhku biar tidak gembrot, dan hasilnya lumayan saat ini tinggi badanku 165 cm, rambutku hitam pekat, mata coklat, pinggangku cukup ramping pantat juga berisi dan yang penting payudaraku tidak kendor walaupn pernah menyusui dan ukurannya cukup membuat orang menelan ludah 36C.

Aku sengaja mengambil jadwal pagi karena siang sedikit aku harus sudah rapi berada dikantor pribadiku. Setelah membereskan urusan rumah aku bersiap berangkat menuju tempat senam, dengan memakai T shirt Kuning cukup ketat dan celana senam aku memagut diri dikaca, Yach,… lumayan juga pikirku, dengan tshirt tersebut payudaraku seakan tertekan dan hendak melompat keluar, aku sadari itu.

Pagi ini berbeda sekali tempat senam hampir penuh, aku duduk sendiri ditepi sambil mempersiapkan baju senamku, aku menuju kekamar ganti kudengarkan ada beberapa suara ibu-ibu cekikikan sambil menceritakan pengalamannya, Ah,… gila pikirku, mereka suka sekali sama laki-laki muda usia untuk permainan sexnya.

“Iya Jeng Nik,… tadi malam itu seru lho, aku tidak menyangka Dion begitu perkasa, aku dibuatnya tak berkutik dalam 4 ronde sekaligus, padahal kelihatan dia paling pendiam ya disini, dan permainannya,………. Yahuuut lho, memekku sampai seperti mati rasa,……” Cerita salah satu ibu peserta senam.

remas penis“Ah,…. Masak sih jeng Rita,….. yach,… sayang aku nggak dapet ya,… kalau sama Rico gimana jeng,……… itu lho anak SMA 3 yang kita temukan bersama waktu nongkrong di café Regent,….. yang itunya item dan gede.” Timpal temannya.

”Oh,….. Kalo yang itu sih lumayan, tapi permainannya masih hebat si Dion, Awalnya saja aku sudah keder dibuatnya.”

”Masa,… aku jadi pengin mencobanya jeng,…… Lihat aja ya nanti,… aku habisin dia dengan segala tenagaku,…” celetuknya dengan geregetan.

Pembicaraan terus berlangsung secara tidak sadar aku terbawa ikut memikirkan Dion,… Apakah Dion itu pelatih senam yang baru 2 bulan melatih ditempatku, kalo lihat cirinya pendiam dan acuh sih memang dia,…tanpa terasa tanganku telah berada diantara dua pahaku terasa hangat dan kuraba pelan memeku dari luar baju sanam ah,…. Cepat-cepat kubuang pikiran buruk itu aku tidak ingin terjadi sesuatu. Semakin kupikir semakin berkecamuk pikiran itu ada. Aku ingat waktu itu Dion memang sempat menjadi buah bibir dikalangan ibu-ibu tempatku senam tapi aku tidak pernah sedikitpun ikut didalamnya. Apakah dion itu ya yang dibicarakan ibu-ibu. Pertama kali masuk Dion memang sempat grogi disoraki oleh ibu-ibu bahkan sempat membuat wajahnya memerah ketika perkenalan ibu-ibu menanyakan statusnya. Bahkan salah satu ibu ada yang nyeletuk menanyakan besar tidaknya ukuran vital Dion, dan hanya dijawab dengan senyum saja.

”Tok,.. Tok,… Tok,…..” Aku terkejut mendengar pintu kamar ganti diketok dari luar, ah kiranya cukup lama juga aku berada dikamar ganti, cepat cepat kekemasi barangku dan keluar menuju hall senam, disana masih banyak ibu bergerombol menunggu waktu senam berlangsung.

Aku duduk sendiri sambil minum teh hangat, tiba-tiba disebelahku duduk empat ibu-ibu yang nampaknya cukup centil dengan usia yang bervariasi. Sambil berbasa-basi dia memperkenalkan diri dan aku agak terkejut karena suara dan namanya sama dengan yang ada di kamar ganti sebelahku tadi.

”Eh jeng Dini kan sudah lama ikut disini, udah pernah nyoba-nyoba rasa lain nggak selain rasa suami,……Dengan cara arisan bersama,… enak lho jeng, rugi kalo nggak mencobanya” celetuknya berbisik hati-hati,…… Sambil sesekali melirik Nanik. Merah wajahku rasanya, karena selama ini tidak pernah aku temukan orang yang bicara terbuka seperti itu,…

“E,…. E,….. ti,… ti,… dak kog,.. ini apa ya,…. Aku gelagapan. Dan serempak dua ibu tadi tertawa berbahak-bahak,…… Ah,… masa jeng Dini, lha wong sekarang fasilitas sudah banyak kog tidak dipergunakan, yach,… JUST FOR FUN saja kog, kalo habis yang dibuang to jangan dibawa pulang bungkusnya bisa bahaya ya jeng Nanik,”

“Iya lho Jeng Dini kita ini kan punya kelompok disini yang kadang bikin acara enjoy bersama dan tertutup sekali lho, tidak semua ibu boleh ikutan disini, Tak lihat jeng Dini mulai pertama ikut senam tidak pernah ada teman dan menyendiri, apa salahnya kalo bergabung dan menikmati menu baru kami.”

Gila orang-orang ini Jeng Nanik pintar juga ngomong gituan, belum sempat aku berpikir dan menjawab mereka menyela lagi.

“Sudah lah jeng Dini ,…. Ikut aja rahasia pasti terjamin kok,.. dan yang penting ada menu baru tiap bertemu”. Sambil menarik tanganku menuju hall senam.

hotrKonsentrasiku bubar selama senam aku secara tidak sengaja hanyut oleh pikiran ibu-ibu, dan kebetulan pelatihku hari ini Dion. Kuperhatikan seksama Dion cukup keren juga Tongkrongannya bodinya bagus, otot-ototnya nampak menyembul, dan,…. Ayooo,… hap,… satu,… dua,… renggangkan kaki,… perintahnya. Dia menghadap peserta senam dan,… Alamak,… otot diantara kedua selangkangannya tertekan oleh baju senamnya nampak menyembul keras dan cukup panjang, aku jadi berpikiran yang bukan bukan, seandainya bisa kugenggam dan kulakukan seperti di video porno itu enak kali ya,…….Gila,… pikirku aku kok jadi gini.

Senam sudah usai, mobil merangkak pelan menuju garasi, kuhempaskan tubuhku diatas kasur, pikiranku berkecamuk membayangkan perkataan ibu-ibu tentang menu baru penuh rahasia tadi, tiba-tiba pikranku menerawang dan melintaslah bayangan Dion dengan mesra aku merinding, Dion seolah datang dan memelukku, tangannya mulai membelai punggung dan turun ke pantat. Diremasnya pelan dan kurasakan benda keras diantara selangkangannya menempel ketat dibaju senamku, aku kegelian, dan,….. Lambat namun pasti kurasakan tangannya mulai menyentuh dadaku yang kenyal, kurasakan pelintirannya membuat pentilku mulai kaku dan keras..

Aku mulai mengejang, tapi tak dilepas tangannya didadaku bahkan mulai nakal, tangan kanannya berani menuju selangkanganku dikuaknya kuat-kuat celanaku sampai kudengar robekan kain Oh,……. Jari-jemarinya membelai lembut gumpalan daging lunak penuh bulu dan,… Mulutnya tak tinggal diam, Dion mulai mengeluarkan lidaknya menjilati memekku yang mulai basah,…. Aaaaaahhhhhhh,,,, Zzzzzzzt,….. aku tak kuat menahan, Dion masih terus menjilat dan menjilat klentitku mulai kaku dan memekku semakin basah dan,….

Kriiiinngggg,….. Krrriiiiingggg,…. Suara telepon berdering aku tertegun,…Gila cing aku bisa membayangkan dengan Dion begitu hebaaat, badanku meriang rasanya dan satu lagi yang kurasakan basah diselangkanganku. Aku bangun bermalas-malasan dan kuangkat telepon.

agen558

”Hallo,…. Jeng Dini ada”,….. ” Ya saya sendiri, siapa ini ya,…” ”Aduh,…. Masak lupa saya Rita yang senam tadi,….. Wah sedang apa ini kog kayaknya malas-malasan saja,…….. Terasa sekali memang agak serak suaraku saat ini habis membayangkan dengan Dion kering rasanya tenggorakkan.

“Oh,…. Tidak jeng ini lho sedang membersihkan rumah kacau balau gini, kalau jeng Rita sedang apa ini kok tumben telpon saya”

“Jeng Rita apa suami jeng nggak curiga,……..” Belum selesai aku bicara, Rita menimpali dengan amat berapi-api.

Malam larut aku sangat menginginkan hubungan intim malam ini, kucoba dekati suamiku dia sudah tertidur lelap tergambar kelelehan diwajahnya tapi memekku sudah mulai basah ingin dijenguk oleh kemaluan suamiku. Kucoba membangunkan dia, tapi dia menolak dan hanya kekecewaan yang kudapat malam ini dan tanpa tersadar aku sudah terlelap.

Suasana hingar bingar ruang senam kembali kudengar dan kulihat sekeliling kembali bergerombol sekelompok ibu-ibu yang 3 hari kemarin mengajakku ikut dalam kelompoknya.

i02Senam kali ini aku benar-benar tidak konsentrasi dan bingung apa yang harus aku lakukan, hampir semua gerakanku tidak ada yang benar. Senam telah berakhir dan ibu-ibu mengajak menuju tempat yang telah disediakan, sebuah rumah yang cukup bagus dengan halam luas dibelakang terdapat kolam renang, aku membuka dengan kunci yang telah disediakan, dan kulihat ada 3 kamar yang tertutup setelah omong-omong sejenak, beberapa ibu masuk kamar mandi untuk membersihkan diri tak lama kemudian mereka ada yang minta diri untuk pulang.

”Begini jeng Dini itu kuncinya ada lima kan ?… salah satunya kunci diruangan yang tertutup ini nah nanti kalo jeng Dini sudah siap buka aja kamarnya dan lihat sendiri deh ada apa disana dan enjoy saja rumah ini aman kog, ini punya jeng Nanik dan memang khusus untuk kegiatan Arisan ini, kebutuhan makan dan minum ada di kulkas, dan silahkan saja dinikmati sampai jeng Dini suka kalo pulang ya langsung aja pulang, kuncinya jangan dibawa lho jeng,… liriknya menggoda”.

Aku termanggu mendengarkan ocehan jeng Rita sementara temanya hanya tersenyum dambil memainkan matanya. Aku semakin bingung bagaimana nantinya. Tak lama kemudian mereka berdua mohon pamit pulang terlebih dahulu dan aku tinggal sendirian. Aku bingung melangkah antara iya dan tidak, aku juga teringat kisah khayalanku dengan Dion,…… aku tercenung ingin mencobanya, kulangkahkan kaki dengan berdebar Klik,.. !!!! pintu pertama kubuka tapi kulihat sekeliling tidak ada seorangpun, pintu kedua kubuka dan,…. Darahku berdesir hebat kuluhat seorang lelaki tegap dan cukup ganteng dengan kulit bersih memakai T shirt hitam dan celana pendek biru tua dia tersenyum, aku membalas kecut dan kuurungkan langkah kakiku masuk kamar tersebut, aku kembali duduk diruang tamu.

Kunyalakan televisi untuk menepis kegugupanku kuganti channel per channel tapi tak ada yang menarik tiba-tiba… “Hai ,.. Aku Bandi,.. Kenapa kog tidak ngobrol didalam saja tadi kan udah buka pintu tak tunggu lho,…..” pintanya sambil mengulurkan tangan perkenalan.

”Eh,.. e….Aku Dini,,.. Eh… Ah nggak kog Aku cuman pengen tahu aja,” jawabku gugup dan tanganku mulai berkeringat dingin.

4 Variasi Seks yang menguntungkanKuperhatikan wajahnya ada bulu halus didagu masih baru dicukur dan dadanya cukup bidang dengan tinggi badan berkisar 175 Cm, otot-ototnya menonjol kuat. Bandi dengan santai duduk disebelahku sambil ikut mengawasi televisi yang remotenya masih ditanganku, dia tahu kalo aku gugup diambilkannya aku minum susu hangat dan dia menuju ke televisi diputarnya Film laser disk. Aku diam saja dan dia mulai membuka pembicaraan basa-basi untuk melemaskan suasana. Aku kaget dua kali karena begitu aku menoleh ke televisi, kulihat film porno yang diputar, disana terlihat orang kulit putih sedang asyik menghisap kemaluan orang kulit hitam yang tegang dan panjang, aku risih dan malu tapi badanku mulai hangat terutama ada rasa geli disekitar pahaku, Bandi kelihatan mulai lebih mendekatiku aku tak menghiraukan mataku tetap kearah televisi, tanpa kusadari aku mulai ikut hanyut dan kurasakan ada benda asing yang menempel didadaku, kulirik ternyata tangan Bandi kutoleh dia hanya tersenyum dan melanjutkan kegiatnnya.

Aku diam merasakan dan dia semakin berani, diselusuri leherku dengan bibirnya,… turun kebahuku,… ditariknya pelan kaosku sampai kelihatan tali Bh. ku aku tak tahan, disofa aku direbahkan perlahan, dia tambah semangat, tanpa bicara dia mulai mengupas kulitku perlahan, tak pernah kurasakan hal ini sebelumnya, aku seolah melayang kegelian.

Bandi membuka sendiri kaosnya dan kulihat dada bidang itu ditumbuhi bulu doggyshalus. Dia bekerja sendiri ditariknya kaosku sampai beberapa kancing terlepas dan diangkat keatas hingga sekarang hanya tinggal Bh da rokku saja, tanganya kurasakan menempel lagi pada susuku dipelintirnya ujung susuku dan kurasakan mengeras,dia mulai menindihku, aku terpejam kurasakan bulu-bulu halus mulai menyentuh dadaku…

Ditariknya lepas BHku sehingga susuku yang besar seolah melompat keluar dadaku bandi terkejut melihat besarnya susuku dengan warna kuning langsat dengan bulatan kecil coklat tua kemerahan serta putting kecil menantang mulutnyapun menuju putingku… kurasakan lidahnya lincah membuat nafsuku memuncak, putingku semakin mengeras sesekali kurasakan gigitan kecil giginya menggores putingku.

Diatas perut kurasakan ada benda yang membonggol mendesak hebat. Bibirku terasa habis dilumat bibirnya, sampai aku tak bisa bernafas, aku mulai berkeringat dan tangan kanannya mulai menuju kearah vagina, diselipkan diantara pahaku, aku gak kuat kupeluk dia dan dia semakin berani ditariknya rokku sampai terlepas, ditarik perlahan celana dalamku sambil tersenyum dan dengan sigap direnggangkannya kakiku sehingga dia dengan leluasa Bandi melihat memekku yang padat dengan bulu hitam keriting, tangannya mengocek memekku yang sudah basah.

Dimasukkannya jari tengah sedangkan ibu jari dan jempolnya membuka jalan dengan meminggirkan rambut kemaluanku. Klentitku kaku, dijilat dan disedotnya susuku sampai aku kegelian dan kini kurasakan mulutnya sudah diatas memekku. Aku semakin geli lidahnya menyapu bersih ruang dalam memekku yang basah sambil tangan kanannya ikut membantu memainkan.

”Eeeeeeeh… Bandi… aduuuuuh… ” aku mengerang kegelian, tapi dia tidak perduli diteruskannya mempermainkan klentitku.

Aku sudah tak tahan, dengan berjongkok kududukkan bandi dan aku kaget melihat benda menggelantung tegak menghadap ke atas disela selangkangannya. Dia hanya tersenyum memegang leher penis dan digerak-gerakkan dengan tangannya, kudekati dan kupegang.

Alamak.. tanganku tak cukup melingkar pada penisnya dan panjangnya 2 cm dibawah pusarnya. Aku geli dan takut melihatnya Hitam, mendongak seperti pisang ambon besarnya, Kutaksir panjangnya sekitar 17 Cm, sedangkan yang pernah kurasakan hanya 12 CM.

”Kenapa kok dilihatin seperti itu?” tanyanya. ”Eh… aku heran kok kayak gini ya… cukup nggak ya ini lewat punyaku nanti?” Jawabku sambil tetap memegangnya.

sedot spermaBelum selesai aku melanjutkan omonganku disorongkakn ujung penisnya kemulutku, dan ehm… mulutku tak muat menampung semua penisnya kedalam… kurasakan nikmat juga, selama ini aku tak pernah seperti ini… Sedotanku keluar masuk penisnya menyembul tenggelem dalam mulutku tangannya juga tidak diam menggapai semua bagian tubuhku yang sensitif, aku semakin terangsang. Tak lupa pula Bola penis dua buah menjadi sasaran lidahku, kurasakan ada cairan bening sedikit cukup manis dan terus kuhisap sampai mulutku tak mampu lagi menahan.

Tiba-tiba terlintas dipikiranku bahwa Aku akan berbuat seperti yang di Laser Disk itu. Ingin merasakan air mani Bandi yang segar nanti akan kuhabiskan.

”Din coba kamu ngadep belakang dan pegangi ujung sofa itu.” Perintahnya. Aku tidak menolak, kulakukan perintahnya tiba-tiba kurasakan penis bandi dipukul-pukulkan pada pantatku aku kegelian.

Diserudukkan penisnya ke memekku dari belakang sulit sekali.. dia coba lagi dan gagal. ”Aaaaaaah… seret sekali ya kayak perawan..” omongnya.Aku semakin tersanjung karena anakku sudah 2 tapi memekku dibilang seret kayak perawan. Aku berbalik ku bantu bandi dengan mengolomohi penisnya dengan ludahku tapi masih juga tidak berhasil menembus memekku.

Kulihat Bandi tidak kehilangan akal diambilnya hand bodi dan dioleskan pada penisnya yang besar dan perlahan masuk pada vaginaku yang kecil, kurasakan agak pedih.

”Bandi,.. udah ah… nggak bisa masuk lho…terlalu besar sih,”pintaku. ”Sebentar… tahan dulu ya… ini udah nyampai sepertiga lho..” Jawabnya sambil didesaknya vaginaku dengan penis dan… sreeet… sret… sreeeeetttttt.

“AaaaaUUUUUU…” Aku menjerit kurasakan penis Bandi terasa tembus ke kerongkonganku, digerak gerakan pantatnya aku kegielian… akhirnya banjir juga vaginaku dan kurasakan kenikmatan saat penis Bandi maju mundur diruang vaginaku. Sesekali pantatku ditepuknya untuk menambah semangatku menggenjot penisnya, susuku dibiarkan bergelantungan bergerak bebas sementara tangan Bandi sibuk memegang pinggulku memaju mundurkan pantatku. Saat penis masuk badanku terasa tertusuk geli tak karuan. Sesekali juga Bandi menciumi punggungku sambil penisnya terus bergerak keluar masuk memekku. Aku juga berusaha dengan menggerakkan pantatku kiri kanan dan penis Bandi seakan terjepit diapun mengerang kuat. Dipegangnya susuku kuat-kuat dan ditarik masukkan penis besar tersebut berulang sampai aku kelelahan.

posisiseks2”Aaaahhhhhh…Dini… aku mau keluar nih……” Erangnya. ”Sebentar ya……” Kutarik penis Bandi dan tak kusia-siakan, kumasukkan lagi dalam mulutku sambil kugerakkan maju mundur tanganku, dan dia semakin kegelian, tak lama kemudian… Creeet…. Creeet.. Creeettt.. kurasakan mulutku penuh dengan tumpahan air mani Bandi, segar rasanya. Kubersihkan penis bandi dengan mulut dan lidahku dari air maninya, dipegangnya kepalaku seakan dia tak mau aku membuang maninya keluar. Dan Bandi tergeletak kelelahan dengan keringat yang luar biasa.

Kubersihkan diriku dan kulihat Bandi masih istirahat dengan telanjang. Kuciumi tubuh Bandi (kini aku tidak malu lagi) perlahan dia tersenyum dan kulihat penisnya mengecil lemas… kupegang, remas perlahan dan aku masih kurang nampaknya. Mulutku dengan sigap melahap penis bandi yang lemas itu, dalam kondisi lemas, masuk semua bagian penis kemulutku, terus kupermainkan seperti dalam LD yang diputar Bandi tadi. Tak lama kemudian mulutku sudah tak muat menampung penis bandi untuk kukulum. Akhirnya kurelakan sebagian batang penis Bandi keluar dari mulutku.

PA317079Bandi pun mulai bangun dan aggresif, diusapnya vaginaku yang sudah kucuci dan mulai basah oleh tangannya. Bandi berbalik menciumi vaginaku sementara aku menciumi penisnya yang tambah mengeras (posis 69)

Bandi tambah menggila dimasukkan semua bagian lidahnya ke vaginaku aku menjerit kegelian. Bandi memindah posisi ditaruh tubuhnya diatas karpet dan diangkatnya tubuhku menindihnya… penis Bandi ditutuntun menuju lubang kemaluanku dan tanpa ampun lagi kemaluanku diucek-ucek oleh penisnya.

Kurasakan penis bandi tidak masuk semuanya atau memang vaginaku yang dangkal aku tak tahu, yang ada dalam benakku sekarang hanya nafsu dan nafsu saja.

wot3Kugerakkan naik turun pantatku menduduki pahanya sementara vaginaku sibuk melahap penis Bandi yang kekar dan angkuh itu. Tangan Bandi sesekali mengucek susuku tak kuhiraupan karena nikmatnya tak seberapa dibanding dengan penisnya yang mengisi penuh vaginaku. Kurebahkan tubuhku karena payah sambil kulumat bibir bandi yang terus mengerang itu dan terus kugoyang pantat sesuai irama nafsuku. Bandipun demikian. Aku mulai merasakan vaginaku semakin longgar karena becek basah dan geliku memuncak… Kugigit dada Bandi kuat-kuat untuk menahan kepuasan dan bersamaan dengan itu pula kudengar erangan Bandi yang menyatakan bahwa air maninya akan tumpah… Kupercepat menggoyang pantat karena aku tak mau menyia-nyiakan keadaan ini aku ingin kepuasan maksimal…… Dan…… Aaaaaaaahhhhhhhhh…… Sreeeeet… Sreeetttt… sreet…

jilat spermaKurasakan ada aliran hangat menyemprot vaginaku dan terasa penuh. Bandi masih mengerang hebat aku gigit dadanya sekali lagi sambil kucakar punggungnya untuk menahan kenikmatan yang tiada taranya ini. Kuangkat pantatku pelan-pelan dan masih kulihat sisa-sisa ketegangan dipenis Bandi. Kuraih penis itu dan kubersihkan kembali dengan mulut mungilku yang serakah tiada habisnya melihat penis tegang besar dan keras itu. Bandi pun tersenyum puas layaknya aku, ciuman mesranya mendarat dujung bibirku, dan diapun tak mau ketinggalan mengusap vaginaku dengan lidahnya… akup un geli.

Tak terasa hari sudah siang. Tak lama kemudian aku pamit dan aku menjadi keterusan mengikuti acara ibu-ibu itu dengan berganti-ganti pasangan yang hebat.

Sedangkan hubunganku dengan suami tetap tidak terganggu karena suamiku tidak pernah minta yang aneh-aneh,… jadi asal aku terlentang dia masuk… kocek-kocek sebentar selesai. Untuk kepuasan lainnya aku dapatkan dari yang lain



agen558-2

UNTUK REGISTRASI DAN PENDAFTARAN.

Hubungi Kami:

Situs & Livechat : http://www.agen558.com
Pin:  5591B4C3
YM : cs_agen558@yahoo.com
SMS/WA:+6281-2696-2889
Line : agen558.com